Thursday, October 24, 2024

Abu al-Mutharrif Sulaiman bin Shuradرضي الله عنه

[Gambar Illustrasi Sahaja]


Abu al-Mutharrif Sulaiman bin Shurad
رضي الله عنه adalah salah seorang sahabat 
Rasulullah
. Saat terjadi perselisihan antara Saiyidina Aliرضي الله عنه dan Saiyidina Muawiyahرضي الله عنه, ia termasuk yang bersama kelompok Saiyidina Ali bin Abu Thalib رضي الله عنه di Perang Shiffin. Ia juga turut menuntut keadilan atas terbunuhnya cucu Rasulullah, Husein bin Ali. Sulaiman wafat pada tahun 65 H di Ain al-Wardah.

Nama, kunyah, beserta nasabnya adalah Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه bin al-Jaun bin Abil Jaun, Abul Mutharrif al-Khuza’i. Ada yang mengatakan nama aslinya adalah Yasar. Yang artinya kiri. Kemudian Rasulullah menggantinya menjadi Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه. 

(Ibnu Hajar: al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, 3/172).

Sulaiman bin Shuradرضي الله عنه  adalah seorang yang sangat dihormati di tengah kaumnya. Ia seorang yang cerdas, ahli ibadah, dan zuhud.

 (Ibnu Katsir: al-Bidayah wa an-Nihayah, 8/280).

Sejarah mencatat, Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه terhubung dengan beberapa peristiwa yang besar dalam sejarah. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa jadi menimbulkan sangkaan yang buruk kepada beliau. Namun yang perlu diingat oleh pembaca, beliau adalah seorang sahabat Rasulullah. Kita harus berhati-hati menjaga lisan kita kepada para sahabat. Cukuplah firman Allah Ta’ala ini sebagai nasihat untuk kita semua:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْـَٔلُونَ عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” 

[Quran Al-Baqarah: 134]


Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه  adalah seorang pemberani. Dan keberaniannya tampak pada saat Perang Shiffin bersama Syaidina Ali bin Abu Thalibرضي الله عنه . Artinya, Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه  adalah salah seorang sahabat yang merupakan Syiahnya (pembela) Syaidina Ali bin Abu Thalibرضي الله عنه  . Tentu ini merupakan faktor penting tentang definisi Syiah ditinjau dari sudut pandang sejarahnya.Syaidina Ali bin Abu Thalibرضي الله عنه   di masa awal adalah permasalahan sikap tatkala terjadi perpecahan. Bersikap menjadi Syiah (pembela) Ali atau Syiah (pembela) Muawiyah. Di masa sahabat Syiah Ali bisa jadi seorang sahabat dan tabi’in. 
Sedangkan Syiah sekarang adalah masalah ideologi. Syiah sekarang adalah sebuah sekte sesat yang mengafirkan sejumlah besar sahabat Rasulullah.

Walaupun dikenal dengan keberaniannya, di sisi lain Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه juga termasuk seorang yang mudah ragu. Kombinasi sifat pemberani dan peragu ini, membuat beliau salah langkah dalam peristiwa terbunuhnya cucu Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه, Syaidina Husein bin Syaidina Ali رضي الله عنه,. Hal ini juga yang sekaligus menjadi penyesalannya.

Suatu ketika, ia menulis surat kepada Syaidina Husein bin Syaidina Ali رضي الله عنه untuk datang ke Kufah. Setibanya Syaidina Husein bin Syaidina Ali رضي الله عنه di Kufah,Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه, ragu dan tidak mengambil sikap. Hingga saat Husein diperangi, ia tak turut serta dalam barisan pasukan yang membela Husein. Akhirnya, ia dan al-Musayyib bin Najih al-Fazari dan sekelompok orang yang merupakan Syiah nya Ali dan Husein menyesali pilihan mereka.

(Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 4/292).

Untuk menebus kesalahan itu, Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه, keluar bersama 4000 pasukan. Pasukan ini dikenal dengan al-Jaisy at-Tawwabun (Pasukan Taubat). Mereka keluar pada tahun 65 H, empat tahun setelah peristiwa terbunuhnya Syaidina Husein bin Syaidina Ali رضي الله عنهdi Karbala.

Pasukan ini bertemu dengan pasukan Bani Umayyah di tempat yang bernama Ainul Wardah. Pasukan Bani Umayyah berhasil mengalahkan mereka. Dan Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه pun wafat di tempat tersebut.

Meriwayatkan Hadits

Di antara hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه, adalah:

Dari Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه,, ia mengatakan,

كُنْتُ جَالِسًا مع النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ورَجُلَانِ يَسْتَبَّانِ، فأحَدُهُما احْمَرَّ وجْهُهُ، وانْتَفَخَتْ أوْدَاجُهُ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لو قالَهَا ذَهَبَ عنْه ما يَجِدُ، لو قالَ: أعُوذُ باللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عنْه ما يَجِدُ فَقالوا له: إنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قالَ: تَعَوَّذْ باللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَقالَ: وهلْ بي جُنُونٌ.

“Aku pernah duduk bersama Rasulullah. Saat itu ada dua orang saling menghardik. Hingga salah seorang dari mereka memerah wajahnya dan tegang urat lehernya.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sungguh aku tahu satu kalimat yang jika dia katakan, akan hilang kondisi yang dia rasakan sekarang. Sekiranya ia mengucapkan a’udzubillah minasy syaithon (aku berlindung kepada Allah dari setan), akan hilang kondisi kemarahannya itu.

Lalu orang-orang menyampaikan padanya, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Minlah perlindungan kepada Allah dari setan’. Orang itu malah menjawab, ‘Apakah aku mengalami kegilaan’?” 

[HR. al-Bukhari 3282].

Hadits lainnya diriwayatkan oleh Imam at-Turmudzi.

قالَ سُلَيمانُ بنُ صُردٍ لخالدِ بنِ عُرفُطةَ أو خالدٌ لسُلَيمانَ : أما سمِعتَ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ : مَن قتلَهُ بطنُهُ لم يُعَذَّبْ في قبرِهِ ؟ فقالَ أحدُهُما لصاحبِهِ : نعَم

Sulaiman bin Shurad berkata kepada Khalid bin Urfuthah. Atau ucapan ini disampaikan Khalid kepada Sulaiman. “Pernahkah engkau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa yang wafat karena penyakit di perutnya, ia tidak akan diadzab di kuburnya’? Salah satu dari keduanya menjawab, ‘Iya, pernah’. 

[Shahih at-Turmudzi 1064].

Hadits berikutnya:

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” اسْتَاكُوا ، وَتَنَظَّفُوا ، وأَوْتِرُوا ، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

Dari Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه,Rasulullah bersabda, “Bersihkanlah badan dan pakaian kalian. Kerjakanlah shalat witir. Kerana Allah itu ganjil (esa) dan menyukai yang ganjil.” 

[Faidhul Qadir 967].

Diriwayatkan juga dalam Tafsir al-Qurthubi, Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه, menyampaikan: “Tatkala orang-orang hendak melemparkan Nabi Ibrahim AS ke api, mereka mengumpulkan kayu bakar. Ada seorang wanita tua yang memanggul kayu bakar di atas punggungnya. Wanita itu berkata pada seseorang, ‘Bawa kayu ini kepada orang yang telah mencela Tuhan-Tuhan kita’.

Tatkala Nabi Ibrahim diarak menuju api, beliau berkata,

وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” 

[Quran Ash-Shaffat: 99]


Saat Nabi Ibrahim dilempar ke api, beliau berkata, “Hasbiyallahu wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolongku).” Lalu Allah Ta’ala berfirman,

قُلْنَا يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, 

[Quran Al-Anbiya: 69]


Kisah Wafatnya

Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه,, adalah salah seorang yang mengirimi Syaidina Husein رضي الله عنه, surat namun ia meninggalkannya. Kemudian, ia bersama al-Musayyib bin Najih berangkat bersama 4000 pasukan menuntut keadilan terhadap pembunuhan Syaidina Husein رضي الله عنه.

Mereka bertemu dengan Ubaidullah bin Ziyad رضي الله عنه. dan pasukannya di Ainul Wardah. Sulaiman bin Shurad رضي الله عنه, dan orang-orang yang bersamanya terbunuh. Ia terkena panah Yazid bin al-Husein bin Numair. Kepalanya dan kepala al-Musayyib dibawa menuju Khalifah al-Marwan bin al-Hakam. Peristiwa itu terjadi di bulan Rabiul Akhir tahun 65 H. Beliau wafat di usia 93 tahun.

Semoga Allah meridhai sahabat RasulullahSulaiman bin Shurad رضي الله عنه,. Walaupun ada catatan sejarah untuk beliau. Lisan kita tidak lancing berkata yang buruk tentang beliau. Namun kita tetap mendoakan beliau sebagaimana yang   Allahﷻ firmankan:

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. 

[Quran Al-Hasyr: 10]



Saiyidina Umair Ibn Sa'ad رضي الله عنه

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

[Gambar Ilustrasi  Sahaja]
"Umair bin Sa'ad رضي الله عنه menangisi dirinya. " - Saiyidina Umar bin Khattab رضي الله عنه

Remaja kecil yang bernama Umair bin Saad al-Anshari telah merasakan hidup sebagai yatim dan orang miskin sejak kecilnya. Ayahnya telah kembali ke pangkuan Tuhan tanpa meninggalkan harta atau orang yang akan membiayainya.

Namun ibunya berhasil untuk menikah lagi dengan seorang hartawan dari suku Aus yang dikenal dengan Al-Julas bin Suwaid. Pria ini kemudian menanggung biaya hidup Umair bin Sa'ad رضي الله عنه dan menjadikan ia sebagai anggota keluarga. Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  merasakan kebaikan, asuhan clan perasaan lembut yang dimiliki Al-Julas sehingga membuatnya terlupa bahwa dia adalah seorang yatim.

Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  mencintai Al-Julas seperti ayahnya sendiri. Sebagaimana Al-Julas mencintai Umair seperti layaknya seorang anaknya. Semakin Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  bertambah dewasa, maka Al-Julas semakin cinta kepadanya. Sebab Al-Julas mendapati bahwa Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  memiliki tanda-tanda kebaikan.

Aus adalah sebuah kabilah besar dari Azd yang mendiami Madinah. Kabilah ini telah berjanji kepada Rasulullah untuk melindungi beliau, kecerdasan dan kemuliaan yang terlihat dari setiap amalnya. Ia juga memiliki sifat amanah, jujur yang terlihat dari perilakunya.

Pemuda yang bernama Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  memeluk Islam pada saat ia masih belia, belum genap 10 tahun. Iman merasuk ke dalam sebuah ruang di hatinya dan tidak berlari dari tempatnya. Ia juga mendapati Islam dalam jiwanya yang masih suci dan bersih. Meski masih dalam usia belia, namun ia tidak pernah lupa dari shalat berjamaah di belakang Rasulullah. Ibunya merasa bahagia setiap kali melihatnya pergi ke masjid atau kembali darinya. Terkadang bersama suaminya, terkadang ia berangkat sendiri saja.

Beginilah kehidupan pemuda Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  berlangsung; tenang tanpa ada halangan dan tidak ada kekeruhan. Sehingga kehendak Allah menentukan bahwa remaja kecil yang hampir baligh ini akan mendapatkan cobaan yang paling berat, dan memberikannya ujian yang jarang diterima oleh seorang pemuda dalam usianya.

Pada tahun ke-9 Hijriyah, Rasulullah mengumumkan niatnya untuk menyerang Romawi di Tabuk2• Beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap. Kebiasaan Rasulullah adalah jika beliau hendak melakukan perang, beliau tidak akan menceritakannya. Manusia menduga bahwa Rasulullah akan menuju suatu arah yang sebenarnya bukan itu yang dimaksud. Kecuali dalam Perang Tabuk. Dalam perang ini, Rasulullah menceritakan niatnya kepada seluruh manusia karena jauhnya jarak, beratnya penderitaan, dan kuatnya musuh agar manusia semuanya mengerti akan tugas mereka. Agar mereka dapat mempersiapkan dengan baik tugas ini.

Meskipun musim panas telah datang, cuaca panas terik terasa, buah buahan telah masak, bayangan telah sempurna dan jiwa manusia menjadi 

2. Tabuk adalah sebuah tempat di perbatasan Syam.

Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  (Pada Usia Belia) malas clan tak mau bergerak. Meski demikian kaum Muslimin memenuhi seruan Rasulullah mereka dan langsung bersiap-siap. Namun sebagian kaum munafikin membuat tekad kaum Muslimin melemah, membuat mereka ragu, dan menjelek- jelekkan Rasulullah dan mengucapkan kata-kata yang dapat menjerumuskan mereka dalam kekufuran.

Pada suatu hari ketika pasukan Muslimin akan berangkat, pemuda yang bernama Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  kembali ke rumahnya setelah menyelesaikan shalat di masjid. Hatinya dipenuhi dengan sekumpulan kisah menarik dari pengorbanan kaum Muslimin yang ia lihat dengan matanya clan ia dengar lewat telinganya.

Ia melihat para wanita kaum Muhajirin clan Anshar yang datang menghadap Rasulullah lalu melepaskan dan memberikan perhiasan mereka kepada beliau untuk membayar biaya pasukan yang berperang di jalan  Allahﷻ.

Ia melihat dengan mata kepalanya bahwa Utsman bin Affan membawa sebuah kantong yang berisikan 1000 dinar emas clan diberikan kepada Rasulullah. Ia menyaksikan Abdurrahman bin Auf membawa di atas lehernya 100 awqiyah dari emas clan diberikan kepada Rasulullah. Bahkan ia juga melihat seorang pria yang menjual kudanya untuk dibelikan pedang sehingga ia dapat berjuang di jalan  Allahﷻ.

Maka Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  menjadi amat kagum dengan peristiwa tersebut, clan ia merasa aneh mengapa Al-Julas tidak bersegera untuk siap dan berangkat bersama Rasulullah dan mengapa ia terlambat memberikan bantuan padahal ia adalah orang yang mampu dan memiliki keluasan.

Maka Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  berusaha untuk membangkitkan semangat Al-Julas dan ia dengar. Khususnya kisah beberapa orang Muslimin yang datang menghadap Rasulullah dan meminta beliau agar mengizinkan mereka untuk bergabung dengan pasukan Muslimin berjihad di jalan  Allahﷻ.

Namun Rasulullah menolak permintaan mereka sebab mereka tidak memiliki kendaraan yang dapat membawa mereka ke sana. Maka orang-orang tadi kembali dengan mata berlinang karena merasa sedih sebab mereka tidak menemukan harta yang dapat mewujudkan keinginan mereka untuk berjihad, dan mewujudkan impian mereka untuk mendapatkan kesyahidan.

Akan tetapi setelah Al-Julas mendengarkan pembicaraan Umair bin Sa'ad رضي الله عنه , maka meluncurlah dari mulut Al-Julas perkataan yang membuat heran Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  saat ia mendengar nya:

 "Jika Muhammad benar sebagaimana pengakuannya bahwa dia adalah seorang Nabi, bila demikian maka kita adalah lebih buruk dari keledai:'

Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak pernah mendengar bahwa seseorang yang berakal dan dewasa seperti Al-Julas keluar dari mulutnya kalimat yang dapat mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari keimanan dengan serta-merta, dan memasukkannya dalam kekafiran.

Sebagaimana alat hitung yang canggih dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang dilontarkan kepadanya, maka akal Umair bin Sa'ad segera berpikir untuk mengerjakan apa yang semestinya ia lakukan. Ia menduga bahwa berdiam diri dari apa yang dikatakan Al-Julas lalu menutupinya adalah sebuah pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, juga dapat mencelakai Islam sebagaimana yang sering dilakukan oleh kaum munafik.

Ia juga mengira bahwa mengumumkan kepada orang lain apa yang ia dengar dari Al-Julas merupakan kedurhakaan dirinya kepada orang yang telah menjadi seperti ayah baginya, dan membalas air susu dengan air tuba. Al-Julas lah yang telah memelihara dia yang tadinya hanyalah Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  (Pada Usia Belia) seorang yatim. Ia telah mencukupkan kebutuhan dirinya dari kefakiran, dan menggantikan posisi ayahnya. Tiada lain, bagi remaja ini haruslah memilih mana yang paling manis dari dua pilihan pahit. Sesegera mungkin Umair memilih ....

Ia menatap Al-Julas sambil berkata, "Demi Allah, wahai Julas, tidak ada orang yang lebih aku cintai setelah Muhammad bin Abdullah selain engkau .... Engkau adalah orang yang aku sayangi. Engkau adalah orang yang paling mencintaiku. Namun engkau telah mengucapkan kalimat yang bila aku ceritakan kepada orang lain, maka aku sudah membuatmu sulit. Namun jika aku sembunyikan, itu berarti aku telah mengkhianati amanahku dan aku sama saja telah mencelakakan agama dan diriku. Aku bertekad untuk datang menghadap Rasulullah dan menceritakan apa yang telah engkau katakan. Sadarilah apa yang telah engkau lakukan.

Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  berangkat ke masjid clan menceritakan kepada Rasulullah apa yang telah ia dengar dari Al-Julas bin Suwaid. Maka Rasulullahﷺ meminta Umair tinggal bersamanya dan beliau mengirim salah seorang sahabatnya untuk memanggil Al-Julas. Tidak berselang lama, maka datanglah Al-Julas kemudian ia memberi salam kepada Rasulullah lalu duduk di hadapan beliau. Rasulullah bertanya kepada Al-Julas, "Ucapan apa yang engkau katakan clan didengar oleh Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  ... ?!" Rasulullah menyebutkan seperti apa yang telah ia ucapkan.

Lalu Al-Julas berkata, "Dia telah berbohong tentangku dan telah membuat-buatnya, wahai Rasulullah! Aku tidak pernah mengucapkan hal itu:'

Maka para sahabat memandangi Al-Julas clan Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  seolah mereka ingin melihat dari roman wajah keduanya apa yang tersimpan di dalam dada.

Lalu mereka saling berbisik. Salah seorang yang memiliki penyakit di hatinya berkata, "Ini adalah pemuda yang durhaka. Ia mau membalas kebaikan orang yang mengasuhnya dengan keburukan:'

Salah seorang lagi mengatakan, "Malah, anak ini tumbuh dalam ketaatan kepada  Allahﷻ. Raut mukanya menggambarkan hal itu:'

Rasulullah memandang Umair bin Sa'ad رضي الله عنه . Beliau mendapati wajah Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  memerah, dan air mata mengalir dari bola matanya. Air mata tersebut menetes di pipi dan dadanya, dan ia berdoa, "Ya Allah, turunkanlah bukti kepada Rasulullah apa yang telah aku ceritakan kepadanya .... Ya Allah, turunkanlah bukti kepada Rasulullah apa yang telah aku ceritakan kepadanya:'

Maka berdirilah Al-Julas sambil berkata, "Apa yang aku ceritakan kepadamu adalah benar, ya Rasulullah. Jika engkau berkenan, kami akan bersumpah di hadapanmu. Aku bersumpah kepada Allah bahwa aku tidak mengatakan seperti apa yang disampaikan Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  kepadamu:'

Al-Julas tidak berhenti mengucapkan sumpahnya sehingga mata manusia tertuju kepada Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  sehingga Rasulullah terdiam. Para sahabat tahu bahwa ini pertanda turunnya wahyu. Mereka berdiri tak bergeming. Tidak satu pun yang bergerak. Mereka membeku dan pandangan mereka tertuju kepada Rasulullah . Saat itu, barulah muncul rona ketakutan dan malu di wajah Al Julas, dan munculah kemenangan pada Umair bin Sa'ad رضي الله عنه . Semua orang merasakan itu sehingga Rasulullah siuman lagi. Beliau lalu membaca, ''Mereka ( orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama)  Allahﷻ, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela ( Allahﷻ dan Rasul-Nya), kecuali karena  Allahﷻ dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. 

يَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ مَا قَالُوا۟ وَلَقَدْ قَالُوا۟ كَلِمَةَ ٱلْكُفْرِ وَكَفَرُوا۟ بَعْدَ إِسْلَـٰمِهِمْ وَهَمُّوا۟ بِمَا لَمْ يَنَالُوا۟ ۚ وَمَا نَقَمُوٓا۟ إِلَّآ أَنْ أَغْنَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ مِن فَضْلِهِۦ ۚ فَإِن يَتُوبُوا۟ يَكُ خَيْرًۭا لَّهُمْ ۖ وَإِن يَتَوَلَّوْا۟ يُعَذِّبْهُمُ ٱللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًۭا فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مِن وَلِىٍّۢ وَلَا نَصِيرٍۢ ٧٤

"Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi." 

(QS. at-Taubah: 74)


Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  (Pada Usia Belia)

Al-Julas gemetar ketakutan usai mendengar ayat tersebut. Hampir saja lisannya terlilit karena takut. Kemudian ia menatap Rasulullah dan berkata, "Aku bertaubat, ya Rasulullah ... aku bertaubat.

Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  benar, ya Rasulullah, dan aku adalah orang yang telah berdusta. Mintalah Allahﷻ untuk menerima taubatku, aku siap menjadi tebusanmu, ya Rasulullah!" Lalu Rasulullah melihat ke arah Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  rupanya air mata kebahagiaan telah membasahi wajahnya yang bersinar clengan cahaya iman.

Lalu Rasulullah menjulurkan tangannya yang mulia ke telinga Umair bin Sa'ad رضي الله عنه  dan memegangnya dengan lembut sambil berkata. "Telingamu telah jujur mendengarkan, wahai anak, clan Tuhanmu telah membenarkanmu:'

Al-Julas kembali ke pangkuan Islam dan ia menjalankan keislamannya dengan baik. Para sahabat mengetahui perbaikan konklusinya kerana ia memberikan banyak kebaikan kepada Umair bin Sa'ad رضي الله عنه .

Al-Julas berkata setiap kali diingatkan tentang Umair bin Sa'ad رضي الله عنه , "Allah akan membalasnya atas kebaikan yang ia lakukan kepadaku. Ia telah menyelamatkan aku dari kekafiran, dan membebaskan diriku dari api neraka:'

Wa ba'du ... ini bukanlah kisah yang paling menarik dalam hidup seorang pemuda yang menjadi sahabat Rasul bernama Umair bin Sa'ad رضي الله عنه ..

Dalam hidupnya banyak sekali kisah yang lebih baik dan menarik.

Sampai jumpa lagi dengan kisah Umair bin Sa'ad pada usia dewasanya.




Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه bin Dhamdham bin Zaid bin Haram

[Gambar Illustrasi Sahaja]

Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundub bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin al-Najjar. Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه ialah bapa saudara kepada Anas bin Malik رضي الله عنه Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه juga salah seorang yang menyertai peperangan Uhud dan syahid dalam peperangan tersebut. 

Tambahan lagi, beliau termasuk dalam kalangan orang-orang yang beriman, yang bersikap benar menunaikan apa yang telah dijanjikannya kepada Allahﷻ  (untuk berjuang membela Islam). Di antara mereka yang meriwayatkan hadith daripadanya ialah Sa‘ad bin Muaz رضي الله عنه   dan Anas bin Malik رضي الله عنه .

 Syurga Di Kaki Uhud 

Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  adalah seorang Ansar. Daripada keturunan an-Najjar. Saudaranya adalah Malik, bapa kepada Anas bin Malikرضي الله عنه yang terkenal sebagai khadam kesayangan Rasulullah.

Walaupun Islam seawal peristiwa hijrah, Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه tidak ikut serta dalam perang Badar. Setelah tentera Islam berangkat ke medan perang, barulah dirinya menyesal. Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  menyalahkan dirinya dengan bermonolog:
“Celakalah dirimu wahai Anas! Pada peperangan pertama kau dah tak bersama 
Rasulullah?! Adakah kau yakin umur ini panjang untuk bersama peperangan seterusnya? Masih adakah perang yang lebih besar ganjarannya daripada Badar?”

Dalam kekesalan, Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  berikrar:
“Demi Allah! Jika ada lagi peluang bersama 
Rasulullah menghadapi musyrikin selepas ini, akan aku buktikan kepada Allahﷻ apa yang akan aku lakukan..”

Tidak lama selepas itu, tibalah pula seruan Uhud. Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  tidak melepaskan peluang lagi. Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  mara bersama Rasulullah dan para sahabat ke medan Uhud, membuktikan apa yang dijanjikan.

Berbeza dengan Badar, perang ini menyajikan ujian besar buat kaum muslimin. Kesilapan barisan pemanah mengakibatkan musuh pantas mengatur serangan balas dari belakang. Kaum musyrikin berjaya naik ke bukit Rummah, tempat pasukan pemanah diposisikan. Mereka memecahkan benteng pertahanan tentera Islam, lalu menerobos hingga ke pos utama tempat Rasulullah berada.

Umat Islam yang berada di bawah sangat terkejut apabila melihat situasi ini. Apa yang paling mereka risaukan adalah keselamatan Rasulullah. Tentera musuh begitu ramai di atas, dan tentera Islam di bawah tidak berdaya mendaki kembali kerana bukit Rumah sudah ditawan musyrikin.

Rasulullah memang sasaran utama musyrikin. Rasulullah dibaling batu, jatuh ke lubang, cedera mukanya, luka di bibirnya, patah giginya, dan darah mengalir bercucuran.

Para sahabat cuba mempertahankan Rasulullah. Dibentuk satu bulatan, diletakkan Rasulullah di tengah dan mereka menadah belakang tubuh bagi menyelamatkan Rasulullah.

Pada waktu ini juga, dengan pantas tersebar berita bahawa Rasulullah telah pun syahid. Keadaan menyebabkan umat Islam hilang semangat, dan sebahagian mula menyerah kalah. Mereka berpusing lari dari medan perang, kerana menganggap tiada apa lagi yang perlu diperjuangkan.

Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  memerhatikan keadaan ini dengan seribu kesesalan. Beliau sedih dengan sikap orang Islam. Teriak beliau:
“Kalau Rasulullah telah mati, apa guna lagi kita bertahan untuk hidup.”

Beliau pergi mendapatkan Saiyidina Umar Al Khattabرضي الله عنه .
“Bagaimanakah keadaan Rasulullah?”

Jawap Saiyidina Umar Al Khattabرضي الله عنه :
“Aku tidak nampak apa, selain merasakan dia telah mati.”

Mendengar jawapan Saiyidina Umar Al Khattabرضي الله عنه  , Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  membalas:

“Kalau Muhammad telah mati, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak sekali-kali mati.”

Beliau terus mengeluarkan pedang dari sarung, dan mematahkan sarung tersebut tanda tidak akan menyimpannya lagi. Lalu beliau terus meluru ke arah musuh, maju tanpa berundur, berani tanpa gerun.

Sedang beliau meluru, ternampak Saad bin Muaz رضي الله عنه  berdekatan dengannya. Dia berteriak pada Saad:

“Syurga wahai Saad! Syurga!”

“Demi tuhan an-Nadhr, sungguh aku mencium bau syurga di kaki bukit Uhud!” Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  meninggalkan kata-kata terakhir kepada Saadرضي الله عنه  dan terus berlalu ke depan. Kelibat Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  hilang dalam kawanan tentera musuh Saadرضي الله عنه  cuba mengekori, namun tidak termampu.

Apabila perang berakhir, didapati Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  telah gugur syahid di kaki bukit Uhud. Badannya terdapat lebih dari 80 kesan libasan pedang, tusukan panah dan tikaman tombak. Jasadnya juga amat mengerikan, disiat-siat, dipotong anggota dan dikorek sana dan sini. Awalnya tiada siapa mengenali jasad tersebut, hinggalah ia disahkan oleh saudaranya Ummu Harithah, yang mengenali jari-jari Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  yang masih tinggal.

Allah muliakan Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه . Kematiannya menyebabkan diturunkan satu ayat, yang akan terus dibaca sehingga hari kiamat:

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌۭ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًۭا ٢٣

Di antara orang-orang yang beriman itu, ada yang bersikap benar menunaikan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang telah selesai menunaikan janjinya itu (lalu gugur syahid), dan ada di antara mereka yang masih menunggu giliran. Mereka tidak mengubah (apa yang mereka janjikan itu) sedikitpun.
[Al-Ahzab:23]

Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  mengajar umat niat sebenar perjuangan Islam. Bukan kerana manusia, bukan kerana pemimpin tetapi hanya kerana Allah. Manusia akan pergi bila-bila masa sahaja, sedangkan Allah sentiasa Ada setiap masa. Tidak ada manusia yang dijamin istiqamah selagi belum menghembuskan nafas terakhir, sedang Allah akan tetap bersama agamaNya.

Berjuanglah kerana Allah, bukan kerana manusia.

Diriwayatkan daripada Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه, katanya:

غَابَ عَمِّي أَنَسُ بْنُ النَّضْرِ عَنْ قِتَالِ بَدْرٍ، فَقَالَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ غِبْتُ عَنْ أَوَّلِ قِتَالٍ قَاتَلْتَ الْمُشْرِكِينَ، لَئِنِ اللَّهُ أَشْهَدَنِي قِتَالَ الْمُشْرِكِينَ لَيَرَيَنَّ اللَّهُ مَا أَصْنَعُ»، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ، وَانْكَشَفَ الْمُسْلِمُونَ، قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْتَذِرُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هَؤُلاَءِ – يَعْنِي أَصْحَابَهُ – وَأَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هَؤُلاَءِ، – يَعْنِي المُشْرِكِينَ – ثُمَّ تَقَدَّمَ»، فَاسْتَقْبَلَهُ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ، فَقَالَ: «يَا سَعْدُ بْنَ مُعَاذٍ، الجَنَّةَ وَرَبِّ النَّضْرِ إِنِّي أَجِدُ رِيحَهَا مِنْ دُونِ أُحُدٍ»، قَالَ سَعْدٌ: فَمَا اسْتَطَعْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا صَنَعَ، قَالَ أَنَسٌ: فَوَجَدْنَا بِهِ بِضْعًا وَثَمَانِينَ ضَرْبَةً بِالسَّيْفِ أَوْ طَعْنَةً بِرُمْحٍ، أَوْ رَمْيَةً بِسَهْمٍ وَوَجَدْنَاهُ قَدْ قُتِلَ وَقَدْ مَثَّلَ  بِهِ الْمُشْرِكُونَ، فَمَا عَرَفَهُ أَحَدٌ إِلَّا أُخْتُهُ بِبَنَانِهِ قَالَ أَنَسٌ: ” كُنَّا نُرَى أَوْ نَظُنُّ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ نَزَلَتْ فِيهِ وَفِي أَشْبَاهِهِ: {مِنَ المُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ} [الأحزاب: 23] إِلَى آخِرِ الآيَةِ

Maksudnya: “Bapa saudaraku (Anas bin al-Nadhr) tidak mengikuti perang Badar. Maka beliau (Anas bin al-Nadhr) berkata: “Wahai Rasulullah! Aku tidak sempat mengikutimu pada peperangan pertama menghadapi kaum Musyrikin. Seandainya Allah memberi kesempatan untuk aku menyertai peperangan melawan kaum Musyrikin nescaya pasti Allah akan melihat apa yang akan aku lakukan.” Ketika perang Uhud, kaum muslimin bertempiaran. Beliau (Anas bin al-Nadhr) berkata: “Ya Allah, aku memohon ampun atas apa yang yang dilakukan oleh mereka itu – yakni para sahabatnya – dan aku berlepas diri kepada-Mu daripada apa yang dilakukan oleh mereka itu – yakni kaum Musyrikin – .“ Kemudian dia maju. Setelah itu, Sa’ad bin Mu‘az bertemu dengannya, lalu (Anas bin al-Nadhr) berkata: “Wahai Sa‘ad! Aku inginkan syurga, demi Allah, aku benar-benar dapat mencium baunya dari arah bukit Uhud.” Sa‘ad berkata: “Aku tidak mampu, wahai Rasulullah, untuk melakukan seperti yang beliau lakukan.” Anas bin Malik (perawi) berkata: “Kami dapati pada dirinya ada lebih daripada 80 tetakan pedang, tusukan lembing, atau panahan anak panah. Kami dapati beliau telah disyahidkan dan dipotong-potong oleh kaum Musyrikin. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya melalui jari-jemarinya.” Anas berkata: “Kami menganggap – atau menyangka — bahawa ayat ini turun mengenai dirinya,  dan orang-orang lain yang sepertinya: “مِنَ المُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ”(Maksudnya:  dalam kalangan orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.)[Surah al-Ahzab : 23] hingga akhir ayat.”

Riwayat al-Bukhari (2805) dan Muslim (1903)


Syeikh Muhammad bin Soleh al-‘Uthaimin dalam syarahnya menyebut, lafaz “aku benar-benar dapat mencium baunya dari arah bukit Uhud” merupakan ciuman bau yang hakiki, bukannya sekadar khayalan ataupun angan-angan. Ini merupakan karamah bagi Anas bin al-Nadhr رضي الله عنه  kerana beliau boleh mencium bau syurga sebelum beliau syahid. 

(Lihat Syarh Riyadh al-Solihin, 2/110).

 (Lihat Ma‘rifah al-Sahabah, 1/230)

Wednesday, October 23, 2024

Saad as-Sulamiرضي الله عنه

 

[Gambar Illustrasi Sahaja]

Kisah Batal Nikah demi Jihad Sahabat Saad As Sulami RA

SYAHIDNYA PENGANTIN SAAD AS-SULAMI, BERGEGAR ARASY, MENANGIS PARA MALAIKAT, BEREBUT PARA BIDADARI…

Saad as-Sulamiرضي الله عنه memiliki kulit yang tersangat hitam, lebih hitam dari Bilal ibn Rabahرضي الله عنه. Mengenali Islam ketika berusia 31 tahun. Saad as-Sulamiرضي الله عنه ingin berkahwin, namun selalu ditolak pinangannya kerana kekurangan dari segi fizikal yang hitam.

Rasulullah menyuruh Saad as-Sulamiرضي الله عنه meminang seorang perempuan yang merupakan perempuan paling cantik, Atikah binti Amrرضي الله عنه, namun Saad enggan kerana rasa kecewa dengan penolakan pinangan sebelum ini. Hanya setelah Rasulullah memberi jaminan, barulah Saad as-Sulamiرضي الله عنه berani pergi meminang.

Sampai di rumah perempuan itu, selepas berbual, Saad as-Sulamiرضي الله عنه menyatakan hasratnya menyebabkan bapa perempuan itu terdiam seketika. Disebabkan terkejut, bapa perempuan itu telah menghalau Saad as-Sulamiرضي الله عنه dari rumahnya. Saad as-Sulamiرضي الله عنه mengadap kembali Rasulullah dengan sedih. Perempuan yang dipinang itu keluar dan bertanya kenapa ayahnya menolak pinangan tersebut, kerana lelaki itu adalah pilihan Rasulullah.

Maka, segera si bapa berlari berjumpa Rasulullah bagi mengelakkan Saad as-Sulamiرضي الله عنه sempat berjumpa Rasulullah. Kemudian datang bapa gadis tersebut menemui Rasulullah dan memohon maaf kerana menolak pinangan Saad as-Sulamiرضي الله عنه sebelum itu dan menyatakan persetujuaannya di atas pinangan tersebut.

Ditanya Rasulullah kepada Saad as-Sulamiرضي الله عنه, adakah kau mempunyai duit untuk berkahwin? Maka jawab Saad as-Sulamiرضي الله عنه tiada, lalu Rasulullah menyuruh beliau menemui Abdul Rahman bin Aufرضي الله عنه dan meminta 20 dinar, menemui Abu Bakarرضي الله عنه dan meminta 10 dinar dan Saidina Aliرضي الله عنه berjumlah 10 dinar.

Maka, apabila Saad as-Sulamiرضي الله عنه, berjumpa dengan sahabat Rasulullah yang tersebut dan mengetahui perintah tersebut, Abdul Rahman b. Auf رضي الله عنه telah memberikan 40 dinar, manakala Saidina Abu Bakarرضي الله عنه dan Saidina Ali رضي الله عنه memberikan 20 dinar setiap seorang. Saad as-Sulamiرضي الله عنه, telah mempunyai 80 dinar untuk perkahwinannya. Rasulullah menyuruh Saad as-Sulamiرضي الله عنه, menggunakan 40 dinar untuk perkahwinannya dan 40 dinar lagi untuk persiapan selepas perkahwinan iatu peralatan memasak dan sebagainya,

Saad as-Sulamiرضي الله عنه, pergi ke pasar bagi tujuan membeli peralatan-peralatan tersebut. Sedang beliau memilih dan membelek barang-barang, terdengar seruan untuk berjihad ke medan peperangan. Maka secara tiba-tiba, terlupalah Saad as-Sulamiرضي الله عنه, akan tujuannya yang asal, terlupakan perempuan cantik itu dan perkahwinannya dan beliau telah menggunakan wang tersebut untuk membeli kuda, pedang dan baju perisai bagi menyahut seruan jihad itu.

Ketika sampai di tempat berkumpulnya mereka yang bersedia untuk berjihad, Saad as-Sulamiرضي الله عنه, pergi ke depan sekali dan tidak dikenali kerana menutup seluruh muka dan tubuhnya. Para sahabat berbisik-bisik kagum dengan kegagahan beliau dan menganggap mungkin orang Yaman yang turut serta berjuang bersama-sama mereka.

Dalam peperangan itu, kuda yang dinaiki Saad as-Sulamiرضي الله عنه, telah dipanah hingga jatuh dan Saad as-Sulamiرضي الله عنه, serta-merta bangun dan menyinsing lengannya. Ketika inilah sahabat mengecamnya dari warna kulit beliau itu. Beliau akhirnya telah syahid tanpa sempat menyentuh isterinya.

Berita syahidnya Saad as-Sulamiرضي الله عنه, ini segera disampaikan kepada Rasulullah dan Rasulullah berkata, “di saat kematian Saad as-Sulamiرضي الله عنه,, bergegar Arasy Allah dan menangis para malaikat di langit dan di bumi”. Saad as-Sulamiرضي الله عنه, dimuliakan oleh Allah di saat kematiannya adalah seorang yang hanya 6 tahun jangka hayatnya dalam Islam. Tetapi apakah kita yang ketika dilahirkan telah pun Islam akan dimuliakan oleh Allah di saat kematian kita?

Berbahagialah kamu wahai Saad as-Sulamiرضي الله عنه,, jenazahmu menjadi rebutan Bidadari Syurga.

Orang yang utamakan agama lebih dari segalanya,allah janji akan tunaikan segala hajatnya di syurga
Insya Allah…



Ka’ab ibn ‘Ujrah (رضي الله عنه)

Ka'ab ibn 'Ujrah ( رضي الله عنه ) merupakan seorang sahabat  Rasulullah (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  yang taat dan terkenal d...

Most Reads