Friday, October 25, 2024

Abdul Rahman Bin Auf رضي الله عنه

                                                    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

[Gambar Illustrasi Sahaja]
"Semoga Allahﷻ memberkahi harta yang kau berikan. Semoga Allahﷻ memberkahi harta yang kau simpan." -Salah satu doa Rasulullah kepadanya.

Dia adalah salah satu clari 8 orang yang pertama kali masuk ke dalam Islam. Ia juga termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga. Dia juga salah satu dari 6 orang ahli syura pada hari pemilihan Khalifah setelah Saidina Umar alFaruq رضي الله عنه.

Namanya pada masa Jahiliyah adalah Abdu Amrin. Saat ia masuk Islam Rasulullah memanggilnya dengan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه.. Inilah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه.

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. masuk Islam sebelum Rasulullah masuk ke rumah Al-Arqam, clan itu terjadi setelah 2 hari Saidina Abu Bakar As Sidique رضي الله عنه.  memeluk Islam. Ia juga merasakan penyiksaan seperti yang dirasakan oleh kaum Muslimin pada saat itu, dan ia mampu menghadapinya dengan sabar dan tetap iman.

Darul Arqam adalah sebuah rumah tempat Rasulullah menyampaikan Islam. Rumah ini milik Al-Arqam bin Abdi Manaf al-Makhzumi dan rumah ini disebut juga dengan Darul Islam.

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf ررضي الله عنه.teguh. Ia menyelamatkan agamanya dengan melarikan diri ke Habasyah sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Muslimin lainnya. Saat Rasulullah diizinkan untuk berhijrah ke Madinah, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. termasuk orang muhajirin pertama yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya.

Saat Rasulullah menjadikan kaum Muhajirin dan Anshar bersaudara, maka beliau menjadikan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. sebagai saudara Sa'ad bin Rabi' al-Anshariرضي الله عنه.

• Sa'ad رضي الله عنهberkata kepada saudara barunya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه., "Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya. Aku memiliki 2 kebun, dan aku punya dua istri. Pilihlah kebun mana yang engkau sukai sehingga aku memberikannya kepadamu. Dan pilihlah istriku yang mana yang engkau sukai agar aku mentalaknya untukmu!"

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. lalu berkata kepada saudara barunya yang berasal dari suku Anshar, "Semoga Allahﷻ memberkahi keluarga dan hartamu. Tetapi, tunjukkan kepadaku di mana pasar!" Lalu Sa'adرضي الله عنه.  menunjukkan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه.dan ia mulai berdagang sehingga mendapatkan keuntungan dan ia tabung keuntungan tersebut.

Tidak lama berselang, ia sudah dapat mengumpulkan uang sebagai mahar pengantin dan ia pun menikah. Maka datanglah Rasulullah dengan membawa minyak wangi dan beliau berkata, "Mahyam3 , ya Abdurrahman!" Ia menjawab, ''Aku menikah:' 

Rasulullah bertanya, "Mahar apa yang engkau berikan kepada istrimu?" Ia menjawab, "Emas seberat atom:' Rasulullah berkata, "Buatlah walimah meski hanya dengan seekor domba. Semoga Allahﷻ memberkahi hartamu!"

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. berkata, "Sepertinya dunia mendatangiku sehingga aku merasa bila aku mengangkat sebuah batu, maka aku menduga bahwa aku akan menemukan emas atau perak di bawahnya:'

2. Sa'ad bin Rabi' bin Amr bin Abi Zuhair bin Malik al-Anshari al-Khazraji adalah seorang sahabat terkemuka. Dia gugur dalam Perang Uhud.

3. Kalimat berasal dari Bangsa Yaman yang mengekspresikan rasa takjub.

Pada peristiwa Badar, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله berjihad dengan sungguh-sungguh di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan ia berhasil membunuh musuh Allah yang bernama Umair bin Utsman bin Ka'ab atTaimi. Pada Perang Uhud, ia termasuk orang yang teguh berjuang, dan tetap tak bergeming saat banyak orang yang lari takut kalah. Ia keluar dari perang dan pada tubuhnya terdapat lebih dari 20 Iuka. Sebagian dari Iuka tersebut amat dalam yang dapat dimasuki tangan seseorang. Akan tetapi, jihad Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله yang dilakukan dengan jiwa lebih sedikit dengan jihadnya yang ia lakukan dengan harta.

Suatu saat, Rasulullahh hendak memberangkatkan sebuah pasukan. Ia berdiri di hadapan para sahabatnya dan bersabda, "Bersedekahlah kalian, sebab aku akan mengirimkan utusan!"

Lalu Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله pulang ke rumah dan kembali lagi dengan segera. Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku mempunyai 4000. Dua ribu aku pinjamkan kepada Tuhanku, dan dua ribu lagi aku sisakan untuk keluargaku:' Kemudian Rasulullah bersabda, " Semoga Allah memberkahi harta yang engkau berikan dan semoga Dia memberkahi harta yang engkau simpan!"

Saat Rasulullah berniat melakukan Perang Tabuk -perang ini adalah perang terakhir yang beliau lakukan dalam hidupnya-, kebutuhan terhadap harta saat itu sama dengan kebutuhan jumlah pasukan. Pasukan Romawi saat itu berjumlah dan berbekal banyak. Padahal tahun itu di Madinah sedang paceklik. Perjalanan yang mereka lalui amat panjang. Biaya mereka sedikit. Kendaraan juga sedikit sehingga ada sekelompok Mukminin datang kepada Rasulullah yang meminta beliau untuk mengadakan kendaraan yang dapat membawa mereka ikut serta dalam jihad. 

Namun Rasulullah menolak permintaan mereka, sebab mereka tidak memiliki kendaraan untuk membawa mereka ke sana. Maka mereka pun kembali dengan mata berlinang kerana merasa sedih sebab mereka tidak memiliki apa pun.

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله juga yang bolih diinfakkan. Mereka itu dikenal dengan orang-orang yang menangis. Dan pasukan ini pun dikenal dengan pasukan 'susah:

Saat itu Rasulullah memerintahkan mereka untuk berinfak di jalan Allah dan memohon balasannya kepada Allah. Maka kaum Muslimin bersegera dalam menjawab seruan Rasulullah, dan salah satu orang yang melakukan sedekah saat itu adalah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله.

Ia bersedekah dengan 200 awqiyah dari emas. Umar bin Khattab lalu berkata kepada Rasulullah, "Menurutku, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله telah berbuat dosa, sebab ia tidak menyisakan apa pun untuk keluarganya ... :'

Lalu Rasulullah bertanya kepada Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله, ''.Apakah engkau telah menyisakan harta untuk keluargamu, ya Abdurrahman ?"

Ia menjawab, "Ya. Aku telah sisakan untuk mereka lebih dari apa yang telah aku infakkan dan lebih baik:'

Rasulullahﷺ bertanya, "Berapa ?" Ia menjawab, "Sebanyak apa yang telah Allah dan Rasul-Nya janjikan dari rezeki, kebaikan dan balasan:'

Pasukan ini kemudian berangkat ke Tabuk. Di sana, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله kemuliaan yang belum pernah diterima oleh Muslimin lainnya. Waktu shalat sudah tiba, sedang Rasulullah tidak ada. Maka Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله menjadi imam bagi kaum Muslimin saat itu. Hampir saja mereka menyelesaikan rakaat pertama, maka Rasulullah menyusul mereka dalam jamaah.

Beliau mengikuti shalat Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dan berada di belakangnya. Apakah ada kemuliaan yang melebihi seseorang yang menjadi imam bagi pemimpin seluruh makhluk sekaligus pemimpin para Nabi, yaitu Muhammad bin Abdullah?!

Setelah Rasulullah kembali ke pangkuan Tuhannya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله mencukupi segala kebutuhan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Ia berangkat bersama mereka bila mereka bepergian. Berhaji, jika mereka melaksanakan haji. Ia membuat pada sekudup4 mereka kain hijau untuk berteduh yang biasa dipakai oleh orangorang tertentu. Ia akan menemani mereka berhenti di tempat yang mereka sukai. Itulah kisah hidup Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dan kepercayaan para Ummahatul Mukminin kepadanya yang dapat ia banggakan.

Kebaikan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله terhadap kaum Muslimin dan Ummahatul Mukminin bahkan membuatnya menjual tanah miliknya seharga 1000 dinar. Ia bagikan semua uang itu kepada Bani Zuhra, orang-orang fakir dari golongan Muhajirin, dan para istri Rasulullah. Saat ia mengirimkan bagian harta tersebut untuk Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'anha, Aisyah bertanya, "Siapakah yang mengirimkan harta ini ?" 

Ada yang mengatakan kepadanya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله:' Kemudian Aisyah berkata, Rasulullah pernah bersabda, "Tidak ada orang yang bersimpati kepada kalian setelah aku mati kecuali mereka orang-orang yang sabar:'

Doa Rasulullah dikabulkan sehingga Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله mendapatkan keberkahan pada hartanya. Perdagangan Abdurrahman bin Auf terus berkembang dan bertambah. Kafilah miliknya terus-menerus pergi dan kembali ke Madinah dengan membawa gandum, tepung, minyak, pakaian, bejana, minyak wangi dan semua keperluan masyarakat Madinah.

Sekudup adalah sebuah tempat yang memiliki kubah dan diletakkan di atas punggung unta, dikhususkan bagi wanita.

Suatu hari, datanglah kafilah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله ke Madinah yang terdiri dari 700 kendaraan. Ya, 700 kendaraan yang membawa makanan, barang-barang yang diperlukan oleh penduduk Madinah.

Begitu kafilah ini memasuki Madinah, maka bumi terasa bergoyang dan terdengar sorak-sorai manusia. Aisyah bertanya, "Ada apa ramai-ramai begini?" Ada orang yang menjawabnya, "Ini adalah kafilah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله . . . 700 unta yang membawa gandum, tepung clan makanan:'

Aisyah berkata, "Semoga Allah memberkahi harta yang telah ia berikan di dunia demi ganjaran akhirat yang lebih besar:'

Sebelum unta-unta tersebut berhenti, kabar tersebut telah sampai kepada Abdurrahman bin Auf. Begitu telinganya mendengar apa yang dikatakan Ummul Mukminin Aisyah, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله segera menemui Aisyah dan berkata, "Saksikanlah olehmu wahai Ummul Mukminin, bahwa kafilah ini dengan seluruh isi dan petugasnya aku berikan di jalan Allah:'

Doa Rasulullah kepada Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله agar Allah berkenan memberkahi dirinya selagi hidup terus saja berlangsung, sehingga ia menjadi sahabat Rasulullah yang paling kaya dan yang paling banyak memiliki harta. . . akan tetapi Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله menjadikan seluruh harta tadi demi mencari keridhaan Allah dan RasulNya.

Ia senantiasa berinfak dengan kedua tangannya baik yang kanan maupun kiri, dengan sembunyi ataupun terang-terangan . . . sebagaimana ia pernah bersedekah dengan 40 ribu dirham perak, kemudian ia bersedekah lagi dengan 40 ribu dinar emas. Kemudian ia bersedekah lagi dengan 100 awqiyah emas. Ia juga membawa para mujahidin dengan 500 kuda yang ia berikan. Kemudian ia membekali 1500 mujahidin lainnya dengan kendaraan.

Saat menjelang wafatnya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله membebaskan banyak sekali budak-budaknya. Ia berpesan untuk memberikan 400 dinar emas kepada Ahlu Badr yang masih hidup. Maka mereka pun mengambil pemberian Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله ini dan jumlah mereka saat itu mencapai 100 orang. Ia juga berpesan untuk memberikan setiap Ummul Mukminin harta yang banyak; sehingga Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'anha seringkali berdoa untuk Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله yang berbunyi, 

"Semoga Allah, Subhanahu wa Ta'ala memberikannya minuman dari air salsabil:'

Kemudian ia meninggalkan untuk ahli warisnya harta yang barangkali tidak bisa terhitung lagi . . . karena ia mewariskan 1000 unta, 100 kuda dan 3000 domba. Istrinya berjumlah 4 orang sehingga mereka mendapatkan seperempat dari seperdelapan5 yang masing-masing mereka mendapatkan 80 ribu. Ia meninggalkan emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk dan dibagikan kepada seluruh ahli warisnya dengan cara memukulkannya dengan kapak sehingga tangan orang-orang yang memotongnya kelelahan.

Semua itu terjadi karena doa Rasulullah agar Allah berkenan memberkahi harta Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي اللهAkan tetapi harta yang ia miliki tidak membuat dirinya tergoda bahkan tidak membuatnya berubah. Sehingga kebanyakan orang jika melihat Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله sedang bersama para budaknya, mereka tidak dapat membedakan mana Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dan mana para budaknya.

Suatu saat ia sedang mendapatkan makanan -padahal saat itu ia sedang berpuasa-, kemudian ia melihat orang yang membawakan makanan tadi sambil berkata, "Mus'ab bin Umairرضي الله عنه. -yang lebih baik dariku- terbunuh, kami mendapatinya tidak memiliki apa-apa selain kain kafan yang menutupi kepalanya namun kakinya terlihat. Jika kedua kakinya ditutup, maka kepalanya akan muncul. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala membentangkan

Pentadbiran. waris (harta warisan untuk istri bila terdapat anak adalah seperdelapan. Kerana istri beliau berjumlah 4 orang, maka masing-masing mendapatkan seperempat dari seperdelapan bagian mereka dari harta waris).

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dunia kepadaku sehingga seperti ini. Aku khawatir bila pahalaku sudah didahulukan (diberikan di dunia):' Kemudian ia menangis dengan tersedusedu sehingga makanan tersebut basi.

Beruntung sekali Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله, sebab Rasulullah telah menjaminnya masuk ke dalam surga. Pembawa jenazahnya hingga ke peristirahatan terakhir adalah paman Rasulullah yang bernama Saidina Sa'ad bin Abi Waqqashرضي الله عنه.. Saidina Dzu Nurain Ustman bin Affanرضي الله عنه. juga turut menshalatkan jenazahnya. Amirul Mukminin, Saidina Ali bin Abi Thaliرضي الله عنه.b turut mengiringi jenazahnya sambil berkata, "Pergilah! Engkau telah menemukan kebenarannya dan engkau telah meninggalkan tipu dayanya. Semoga Allah merahmatimu!"




Untuk mengenal lebih jauh profil Abdurrahman bin Auf silakan merujuk:

1. Shifatush Shafwah: 1/ 135.

2. As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam: (Lihat daftar isi).

3. Tarikh al-Khamis: 2/257.

4. Al-Bad ' u wa at-Tarikh: 5/86.

5. A r -Riyadh an-Nadhrah: 2/28 1.

6. Al-Jam'u baina ar-Rijal ash-Shahihain: 281.

7. Al-Ishabah: 2/41 6.

8. Hilliyatul Auliya: 1/98.

9. Hayatush Shahabah: (Lihat daftar isi).

10. Al-Bidayah wa an-Nihayah: 7/1 63.

1 1 . Ath-Thabaqat al-Kubra: 2/340.

12. Tahdzib at-Tahdzib: 6/242.

13. Al-Isti'ab (dengan hamisyh al-Ishabah): 2/393.

2. Sa'ad bin Rabi' bin Amr bin Abi Zuhair bin Malik al-Anshari al-Khazraji adalah seorang sahabat terkemuka. Dia gugur dalam Perang Uhud.

3. Kalimat berasal dari Bangsa Yaman yang mengekspresikan rasa takjub.


stop at page 277

Usamah bin Zaid رضي الله عنه

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

[Gambar Illustrasi Sahaja]

USAMAH B I N ZAI D

"Sungguh ayah Usamah رضي الله عنه lebih dicintai oleh Rasulullah daripada ayahmu, dan ia adalah orang yang lebih dicintai Rasulullah daripadamu." -Ucapan Saiyidina Umar al-Faruq رضي الله عنه kepada anaknya

Kita sekarang berada pada tahun ketujuh sebelum hijrah clan berada di Makkah. Rasulullah saat itu sedang menderita karena siksaan kaum Quraisy kepadanya dan kepada para sahabatnya. Derita dakwah yang beliau emban dapat dituliskan dalam serial yang panjang serta sarat dengan kesedihan dan penderitaan.

Saat beliau dalam kondisi demikian, maka tersembullah rona kebahagiaan di kehidupan beliau. Ada seorang yang membawa kabar gembira kepadanya bahwa Ummu Aiman رضي الله عنه telah melahirkan seorang anak. Maka merebaklah kebahagiaan lewat wajah Rasulullah.

Siapakah anak beruntung ini yang telah membuat bahagia Rasulullah?! Dia adalah Usamah bin Zaid رضي الله عنهTidak seorang pun sahabat Rasulullah yang merasa aneh dengan kebahagiaan beliau atas lahirnya anak ini. Hal itu kerana posisi kedua orang tuanya bagi beliau.

Usamah bin Zaid رضي الله عنهIbu dari anak ini adalah Barakah al-Hasanah رضي الله عنه yang dikenal dengan Ummu Aiman رضي الله عنه. Dia adalah budak Aminah binti Wahab, ibunda RasulullahUmmu Aimanرضي الله عنه membesarkan Rasulullah dalam hidupnya. Ia memelihara Rasulullah setelah ibunda beliau wafat. Rasulullah membuka matanya untuk melihat dunia, dan tidak kenal siapa pun sebagai ibunya kecuali Ummu Aimanرضي الله عنه.

Rasulullah betapa amat mencintai Ummu Aimanرضي الله عنه. Beliau sering berkata, "Dia adalah ibuku setelah ibuku, dan anggota keluargaku yang tersisa:'

Inilah ibu dari anak yang beruntung. Adapun ayahnya adalah orang yang paling disayang oleh Rasulullah, yaitu Zaid bin Haritsahرضي الله عنه, yang merupakan anak yang diadopsi oleh Rasulullah. Dia juga sahabat Rasul yang banyak mengetahui rahasia Rasulullah.

Menjadi salah seorang anggota keluarga Rasulullah dan merupakan orang yang paling beliau cinta setelah Islam. Kaum Muslimin bergembira dengan lahirnya Usamah bin Zaid رضي الله عنه, seperti belum pernah ada bayi yang terlahir selainnya. Sebab, apa yang membuat Rasulullah bahagia, akan membuat mereka semua bahagia. Setiap hal yang membuat Rasulullah senang, maka akan membuat senang juga hati mereka.

Maka kaum Muslimin memberikan gelar kepada anak yang beruntung ini dengan panggilan Al-Ribb wa Ibnul Ribb ( orang yang disayangi dan anak dari orang yang disayangi).

Kaum Muslimin tidak berlebihan saat mereka memberikan gelar kepada anak kecil yang bernama Usamah ini. Rasulullah amat mencintai dia sehingga dunia merasa cemburu kepadanya. Usamah bin Zaid رضي الله عنه hampir seusia dengan cucu Rasulullah yang bernama Saiyidina Al-Hasan bin Fathimah az-Zahraرضي الله عنه. Saiyidina Al-Hasanرضي الله عنه ini berkulit putih, cerah dan amat mirip dengan kakeknya, yaitu Rasulullah.

Sedangkan Usamah bin Zaid رضي الله عنه berkulit hitam, pesek hidungnya dan amat mirip dengan ibunya yang berasal dari Habasyah. Namun dengan demikian, Rasulullah tidak pernah membedakan kepada mereka berdua dalam membagikan cintanya. Ia menggendong Usamah bin Zaid رضي الله عنه dan menaruhnya di salah satu pahanya, dan ia juga menggendong Al-Hasan dan menaruhnya pada paha satunya lagi. Kemudian Rasulullahmengangkat mereka berdua ke arah dadanya dan berdoa, "Ya Allah, aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua oleh-Mu!"

Rasulullah amat mencintai Usamah bin Zaid رضي الله عنه hingga suatu saat Usamah bin Zaid رضي الله عنه melewati gerbang pintu, lalu kepalanya terantuk. Mengalirlah darah dari lukanya. Rasulullah menyuruh Aisyah untuk menghilangkan darah dari lukanya, namun Aisyah tidak mampu melakukannya. Maka Rasulullah langsung menghampiri Usamah bin Zaid رضي الله عنه dan beliau menyedut cemar di tubuhnya sehingga darah habis, dan Rasulullah menghibur Usamah bin Zaid رضي الله عنه dengan ucapan-ucapan yang baik sehingga Usamah bin Zaid رضي الله merasa tenang dan tidak kesakitan.

Sebagaimana Rasulullah mencintai Usamah bin Zaid رضي الله عنه saat ia masih kecil, beliau pun mencintai Usamah saat ia sudah menjadi remaja. Hakim bin Hazam, salah seorang pembesar Quraisy menghadiahkan Rasulullah sebuah pakaian bagus yang ia beli dari Yaman seharga 50 dinar emas yang dulunya milik Dzu Yazan salah seorang Raja Yaman. Rasulullah menolak untuk menerima hadiah tersebut sebab Hakim saat itu masih menjadi seorang yang musyrik.

Namun Rasulullah malah membelinya. Suatu saat, Rasulullah mengenakan pakaian itu satu kali pada hari Jumat. Kemudian beliau menanggalkannya untuk diberikan kepada Usamah bin Zaid رضي الله عنه. Maka Usamah bin Zaid رضي الله عنه mengenakan pakaian tersebut sepanjang pagi dan petang untuk pergi bersama para sahabatnya para pemuda Muhajirin dan Anshar.

Saat Usamah bin Zaid رضي الله عنه menginjak usia dewasa. Maka baru terlihatlah sifat mulia dari dirinya yang membuat ia pantas menjadi orang kesayangan RasulullahDia adalah orang yang amat cerdas. Usamah bin Zaid رضي الله عنه seorang pemberani yang luar biasa. Bijak, dapat menempatkan segala urusan pada tempatnya. Memiliki iffah yang menjauhkan segala hal yang nista. Pencinta, sehingga manusia mencintainya. Takwa serta wara' yang membuat Allah cinta kepadanya.

Pada peristiwa Uhud, Usamah bin Zaid رضي الله عنه beserta anak-anak para sahabat yang lain ingin ikut serta dalam jihad fi sabilillah. Maka Rasulullah memilih di antara mereka siapa yang dapat ikut serta, dan Rasul menolak keikutsertaan mereka karena belum cukup umur. Salah seorang yang dilarang ikut oleh Rasulullah adalah Usamah bin Zaid رضي الله عنه. Maka ia kembali pulang dan dari matanya mengalir deras deraian air mata karena merasa sedih tidak dapat ikut berjihad di bawah panji Rasulullah.

Pada Perang Khandaq, Usamah bin Zaid رضي الله عنه juga datang bersama para pemuda dari kalangan sahabat. Ia mengganjal kakinya agar supaya terlihat tinggi, sehingga Rasulullah memperbolehkannya ikut serta dalam jihad. Maka Rasulullah memilihnya dan memperbolehkan ia untuk ikut serta. Ia pun lalu membawa pedangnya untuk berjihad di jalan Allah dan pada saat itu ia baru berusia 15 tahun.

Pada peristiwa Hunain saat kaum Muslimin mengalami kekalahan, Usamah bin Zaid رضي الله عنه beserta Abbas paman Rasulullah, Abu Sufyan bin al-Harits sepupu Rasul, dan 6 orang lainnya dari para pembesar sahabat berjuang dengan begitu semangat. Maka dengan kelompok yang kecil namun berani ini, Rasulullah mampu merubah kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan, dan mampu melindungi kaum Muslimin yang mundur dari serangan kaum musyrikin yang dapat mencelakakan mereka.

Pada peristiwa Mu'tah, Usamah bin Zaid رضي الله عنه berjuang di bawah komando ayahnya Zaid bin Haritsahرضي الله عنه padahal umurnya baru 18 tahun. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya gugur. Ia tidak lemas dibuatnya dan tidak gentar. Ia melanjutkan jihadnya dibawah komando Ja'far bin Abu Thalibرضي الله عنه sehingga ia pun gugur. Kemudian ia masih terus berjuang di bawah komando Abdullah bin Rawahahرضي الله عنه sehingga ia pun menyusul kedua sahabatnya. Kemudian ia masih berjihad di bawah komando Khalid bin Walid رضي الله عنهsehingga pasukan yang sedikit tersisa ini mampu lolos dari cengkeraman Romawi.

Usamah bin Zaid رضي الله عنه kembali ke Madinah dengan berharap ayahnya mendapatkan ganjaran terbaik di sisi Allah. Ia meninggalkan jasad ayahnya yang suci di bumi Syam. Usamah bin Zaid رضي الله عنه menunggangi kuda ayahnya yang ia pakai saat berperang.

Pada tahun ke-11 H, Rasulullah memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan demi menghadapi pasukan Romawi. Dalam pasukan tersebut terdapat Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه , Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, Sa'ad bin Abi Waqqashرضي الله عنه, Abu Ubaidah bin al-Jarrahرضي الله عنه dan banyak lagi para sahabat yang terkenal lainnya. Rasulullah menunjuk sebagai panglima pasukan ini adalah Usamah bin Zaid رضي الله عنه, padahal pada saat itu usianya belum genap 20 tahun. Rasulullah memerintahkan Usamah bin Zaid رضي الله عنه untuk membawa pasukan ke Al-Balqa, Benteng Al-Darum yang terletak dekat Gaza di Negeri Romawi.

Begitu pasukan mulai bersiap, Rasulullah jatuh sakit. Begitu sakitnya semakin parah, pasukan ini menunda keberangkatannya, sehingga mereka mengetahui kondisi Rasulullah.

Usamah bin Zaid رضي الله عنه berkata, "Begitu penyakit pada diri Rasulullah semakin parah, aku menghadapnya dan banyak orang yang ikut bersamaku. Aku menghadapnya dan aku dapati beliau diam tak mampu bicara karena sulitnya penyakit yang ia derita. Rasulullah mengangkat tangannya ke langit lalu menurunkannya lagi di tubuhku. Aku mengerti bahwa ia baru saja mendoakanku:'

Begitu Rasulullah wafat, dan baiat telah dilangsungkan terhadap Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه, maka Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه memerintahkan agar pasukan Usamah bin Zaid رضي الله عنه diberangkatkan. Akan tetapi ada sekelompok orang Anshar berpendapat agar pengiriman pasukan dituda saja, dan mereka meminta Umar untuk menyampaikan hal ini kepada Saiyidina Abu Bakar As Sidiqueرضي الله عنه. Mereka berkata kepada Umar:

"Jika Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه masih bersikeras untuk mengirimkan pasukan, tolong beritahukan ia agar mau menunjuk orang yang lebih tua dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه:'

Begitu Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه mendengar permintaan kaum Anshar dari Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه,ia langsung melompat -tadinya ia duduk- dan menarik janggut Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, dan berkata dengan nada emosi, "Ibumu tak pernah berharap mendapatkan anak sepertimu, ya Ibnu Khattab ... Rasulullah telah menunjuknya menjadi pemimpin dan engkau malah menyuruhku untuk menggantinya? Demi Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi:'

Begitu Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, bertemu lagi dengan orang-orang tadi, mereka menanyakannya apa yang telah diputuskan Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنهSaiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, menjawab, "Ibu kalian tidak pernah berharap punya anak seperti kalian. Aku telah menjadi korban dari perbuatan kalian di hadapan khalifah Rasulullah:'

Saat pasukan di bawah komando seorang panglima muda, Khalifah Rasulullah mengiringinya sambil berjalan kaki, sedangkan Usamah menunggang kuda. Usamah bin Zaid رضي الله عنه berkata, "Ya Khalifah Rasulullah, demi Allah, naiklah ke atas kuda, atau aku turun!"

Saiyidina Abu Bakar As Sidiqueرضي الله عنه menjawab, "Demi Allah, janganlah kau turun. Demi Allah, aku tidak akan naik... aku hanya ingin membasuh telapak kakiku dengan debu di jalan Allah sesaat saja:'

Kemudian Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه berkata kepada Usamah bin Zaid رضي الله عنه, "Aku menitipkan kepada Allah agama, amanah dan akhir amalmu. Aku berpesan kepadamu untuk menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepadamu:'

Kemudian Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه mendekatinya sambil berkata, "Jika engkau mempersilakan, aku meminta Umar untuk tinggal membantuku di sini:'

Kemudian Usamah mempersilakan Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, untuk tidak berangkat berperang. Usamah bin Zaid رضي الله عنه berangkat dengan pasukannya clan ia melaksanakan semua perintah Rasulullah. Maka pasukan berkudanya ia tempatkan di Al-Balqa clan benteng Al-Darum di daerah Palestina. Ia menghilangkan kehebatan Romawi dari hati pasukan Muslimin. Usamah bin Zaid رضي الله عنه membuka jalan bagi pasukan Muslimin untuk menaklukkan beberapa wilayah Syam, Mesir dan Afrika Utara semuanya hingga sampai ke Laut Hitam.

Kemudian Usamah bin Zaid رضي الله عنه kembali dengan menunggangi pelana yang sama digunakan oleh ayahnya sewaktu terbunuh <lulu, dengan membawa ghanimah yang melampaui perkiraan manusia. Sehingga ada yang mengatakan, "Tidak pernah ada pasukan yang lebih selamat dan membawa ghanimah lebih banyak dari pasukan Usamah bin Zaid رضي الله عنه:'

Usamah bin Zaid رضي الله عنه -selagi ia hidup- menjadi orang yang dihormati clan dicintai oleh kaum Muslimin. Itu disebabkan kerana ia menepati janjinya kepada Rasulullah dan senantiasa menghormati beliau.

Umar al-Faruq bahkan memberikan gaji kepada Usamah melebihi apa yang ia berikan kepada anaknya, Abdullah bin Umar. Maka Abdullah berkata kepada ayahnya, "Wahai Ayahku, Engkau memberikan gaji kepada Usamah bin Zaid رضي الله عنه 4000 sedangkan engkau memberikan aku hanya 3000. Padahal ayahnya tidak lebih utama dari dirimu, dan ia juga tidak lebih mulia daripadaku:'

Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, berkata, "Engkau keliru. Ayahnya lebih dicintai oleh Rasulullah daripada ayahmu. Dan ia lebih dicintai oleh Rasulullah daripada dirimu!"

Maka Abdullah bin Umar rela menerima pemberian gaji yang diberikan untuknya. Dan Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, setiap kali ia berjumpa dengan Usamah bin Zaid رضي الله عنه akan berkata, "Selamat datang, Amirku!" Jika ada orang yang merasa aneh dengan tingkah Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, ini, ia akan berkata kepada orang itu, "Rasulullah telah menjadikan dia sebagai amirku!"

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati jiwa yang besar ini. Sejarah tidak pernah mencatat profil yang lebih agung, sempurna dan mulia daripada para sahabat Rasulullah.



Rujukan:

Untuk mengetahui profil Usamah bin Zaid lebih jauh, silakan melihat:

1. Jami' al-Ushul: 1 0/27.

2. Al-Ishabah: 1/31.

3. Al-Isti'ab (dengan hamisy al-Ishabah): 1/57.

4. Taqrib at-Tahdzib: 1/53.

5. Tarikh al-Islam karya Adz-Dzahabi.

6. As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam: (Lihat daftar isi).

7. Al-'!bar: 1/95.

8. Min Abthalina alladzina Shana'u at-Tarikh karya Abu al-Futuh at-Tunisi:

33-39.

9. Al-A'lam wa maraji'uhu: 1/281-282.

Abu Suraiya Saburah ibn Ma'bad ibn 'Ausaja al-Juhani,رضي الله عنه

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

[Gambar Illustrasi Sahaja]

Abu Suraiya Sabrah رضي الله عنه ibn Ma'bad ibn 'Ausaja al-Juhani, atau Sabrah ibn Ma'bad al-Juhani (Bahasa Arab: سبرة بن معبد) adalah salah seorang sahabat Rasulullah. Transliterasi lain bagi namanya termasuk Abu Rabi' al-Madani رضي الله عنه dan Sabura al-Juhanniرضي الله عنه .

Beliau berasal dari suku Juhaynah yang terletak di sekitar kota Madinah,. Suku Juhainah masih mendiami kawasan sekitar kota Madinah sehingga kini. Beliau mempunyai seorang anak bernama Rabi bin Sabra.

Beliau tinggal di Madinah, menyertai Perang Parit, dan meninggal dunia semasa pemerintahan Mu'awiyah.

Beliau adalah sumber hadis Sabra yang meriwayatkan tentang larangan Mut'ah.

Mereka yang tetap berpegang teguh pada Islam di Hijaz dan di Jazirah Arab ialah Suku Juhaynah.

Di antara mereka yang tetap teguh dalam Islam di Hijaz semasa Fitnah Murtad ialah penduduk Makkah, Thaqif, dan Madinah. Fakta ini dipersetujui oleh semua ahli sejarah. Mereka adalah sokongan dan bantuan, selepas Allahﷻ, kepada negara Islam dalam menindas Fitnah yang timbul disebabkan oleh murtad dari beberapa puak seperti Asad, Dhubyan, dan Ghatfan. Suku-suku yang tinggal di antara Makkah, Madinah, dan Taif tetap teguh dengan keislaman mereka. Suku Muzaynah, Ghifar, Juhaynah, Balii, sebahagian daripada Ashja', Aslam, Thaqif[1], 'Abs, sebahagian daripada Bani Sulaym, Tay', Hudhayl, Ahl al Sarah, Bajilah, dan Khath'am tetap teguh pada pendirian mereka. Islam.

 Sesungguhnya Rasulullah mengutus Ka’b bin Malik al Ansari رضي الله عنه kepada Aslam, Ghifar, Muzaynah, dan Juhaynah. Apabila mereka menerima berita tentang wafatnya Rasulullah, mereka membayar zakat mereka kepada Khalifahnya, Abu Bakar al Siddiq رضي الله عنهyang menggunakannya untuk memerangi orang-orang murtad. Perkara yang sama dilakukan oleh Bani Kalb dan Ashja’; Bani Kalb menghantar zakat mereka kepada Khalifah Abu Bakar رضي الله عنه bersama dengan pemimpin zakat mereka, Bishr ibn Sufyan al Ka'bi, dan Ashja' menghantar zakat mereka dengan Mas'ud ibn Rukhaylah al Ashja'i, yang digunakan dalam memerangi orang murtad.

Khalifah Abu Bakar رضي الله عنه mengirim pesan kepada orang-orang di sekelilingnya termasuk Aslam, Ghifar, Muzaynah, Ashja', Juhaynah, dan Ka'b, memerintahkan mereka untuk memerangi orang-orang murtad, dan mereka menjawabnya hingga Madinah dipenuhi dengan mereka. Mereka mempunyai kuda dan unta yang mereka letakkan di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar رضي الله عنه.

Untuk menjelaskan banyaknya lelaki dari puak-puak ini dan besarnya sokongan mereka kepada Khalifah ialah Juhaynah sahaja membawa kepada Khalifah empat ratus orang lelakinya bersama-sama binatang dan kuda tunggangan, seperti yang dilaporkan dalam riwayat daripada Saburah al Juhaniرضي الله عنه . ‘Amr ibn Murrah al Juhaniرضي الله عنه membawa seratus ekor unta untuk membantu orang Islam, yang Khalifah Abu Bakar رضي الله عنه dibagikan kepada orang ramai.

Malah Asad dan Ghatfan tidak semuanya bersama Tulayhah al Asadi dalam kemurtadannya, tetapi sekumpulan daripada mereka tetap teguh dalam Islam seperti yang dilaporkan oleh al Kala’i, Ibn A’tham, dan al Waqidi. Dirar ibn al Azwar memainkan peranan aktif dalam hal ini; dia menulis surat kepada orang-orang soleh Bani Asad, mengajak mereka untuk menganut Islam, dan yang terakhir dari mereka yang dia tulis adalah Ja’unah ibn Marthad al Asadi.

Hadis diriwayatkan

Sabrah al-Juhani رضي الله عنه meriwayatkan: Aku mengahwini seorang wanita dari Banu' Āmir dengan perkahwinan Mut'ah semasa hayat Rasulullah dengan dua burd merah (jubah). Kemudian, Rasulullah melarang kami dari Mut'ah..

Hadis No 1406

Shahih Muslim:

Komentator:

Ulasan : Islam telah menetapkan sistem perkahwinan Shar‘i pada standard yang paling adil untuk memelihara keturunan dan kehormatan, dan ia telah melarang semua cara menikmati wanita yang tersebar luas di Jahiliyyah dan yang tidak melindungi hak mereka. Ia mula menggubal undang-undang itu secara beransur-ansur supaya orang ramai dapat menerimanya dengan betul.

Dalam Hadis ini, Sabrah ibn Ma‘bad al-Juhani (semoga Allah meridhainya) menceritakan bahawa dia mengahwini wanita dengan nikah Mut‘ah semasa hayat Rasulullah. Mut‘ah ialah salah satu jenis perkahwinan di mana seorang lelaki menikmati seorang wanita sebagai balasan kepada pampasan yang dipersetujui oleh mereka dan untuk tempoh tertentu, dan perkahwinan itu berakhir dengan berlalunya tempoh tersebut. Sabrah (semoga Allah meridhainya) memberitahu bahawa dia berkahwin dengan seorang wanita dari Bani ‘Āmir dengan perkahwinan Mut‘ah dan memberinya dua Burd merah, merujuk kepada mas kahwinnya.

Burd: pakaian berbelang dibuka dari hadapan dan diletakkan di bahu seperti jubah, namun ia lebih kecil daripadanya. Seseorang boleh membungkusnya pada dirinya sendiri atau membiarkannya digantung. Kemudian, Rasulullah melarang umat Islam dari nikah mut‘ah. Versi lain oleh Muslim menunjukkan bahawa Nabi saw melarangnya pada tahun Penaklukan Makkah.

Perkahwinan Mut'ah telah diketahui pada peringkat awal Islam, dan Rasulullah tidak melarang mereka daripadanya semasa dalam perjalanan, memandangkan mereka memerlukannya. Namun, baginda melarang mereka daripadanya semasa tinggal dan tinggal di negara mereka. Hukum nikah mut'ah melalui berbagai fasa, sebagaimana Rasulullah melarang mereka darinya lebih dari sekali. Kemudian, beliau memerintahkan mereka untuk mengerjakannya pada berbagai waktu hingga beliau mengharamkannya selama-lamanya.

Nikah Mut'ah.

Melarang nikah mut'ah telah dilaporkan dalam banyak riwayat, yang menunjukkan bahawa larangan itu adalah semasa Penaklukan Makkah, dan ini adalah pendapat yang paling masyhur, atau semasa perang Autās, atau perang Khaibar, atau semasa Rasulullah. hari-hari terakhir dalam haji perpisahan. Ia adalah larangan yang kekal, bukan yang sementara, justeru tidak memberi ruang kepada sebarang perbezaan pendapat di kalangan fuqaha dan ulama terkemuka ummah. Hanya sebahagian Syiah yang berbeza pendapat, dan pendapat mereka tidak dikira..

Ar-Rabi‘ ibn Sabrahرضي الله عنه meriwayatkan bahawa ayahnya ikut berperang bersama Rasulullah saw semasa penaklukan Makkah. Dia berkata: Kami tinggal di dalamnya selama lima belas; tiga puluh termasuk siang dan malam. Rasulullah mengizinkan kami untuk menikahi wanita secara mut'ah. Seorang lelaki dari kaum saya dan saya keluar. Saya mengatasi dia dalam kecantikan, dan dia hampir kepada keburukan. Setiap daripada kami mempunyai Burd (jubah). Burd saya adalah lama, manakala Burd sepupu saya adalah baru dan segar. Apabila kami tiba di selatan Makkah - atau utaranya - kami bertemu dengan seorang gadis seperti unta betina berleher panjang yang pintar.

Kami berkata: "Adakah kamu bersetuju bahawa salah seorang daripada kami melangsungkan perkahwinan Mut‘ah dengan kamu?" Dia berkata: "Apa yang akan kamu berikan?" Setiap daripada kami membentangkan Burdnya, dan dia mula memandang ke arah dua lelaki itu dan teman saya melihat dia memandang sebelahnya. Dia berkata: "Burd ini sudah lama, dan Burd saya baru dan segar." Dia berkata: "Burd ini tidak buruk," tiga kali atau dua kali. Kemudian, aku bernikah dengan Mut‘ah, dan aku tidak keluar daripadanya sehinggalah Rasulullah melarangnya. [Dalam versi]: Dia menambah: Dia berkata: Adakah ini sah? Dan dia berkata: Burd ini sudah usang dan usang..

Ulasan: Islam telah menetapkan sistem perkahwinan Syariah mengenai kaedah terbaik untuk memelihara keturunan dan kehormatan, dan ia telah melarang cara menikmati wanita, yang lazim pada zaman Jahiliyyah dan tidak melindungi hak mereka. Ia digubal secara beransur-ansur supaya orang ramai boleh menerimanya dengan betul dan tidak berpaling sekaligus.

Dalam Hadith ini, Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه menceritakan bahawa dia menyertai peperangan bersama Rasulullah dalam Penaklukan Makkah, pada tahun 8 Hijrah, dan mereka tinggal di sana selama lima belas malam bersama-sama dengan lima belas hari. Oleh itu, jumlah malam dan hari adalah tiga puluh. Rasulullah mengizinkan mereka untuk berkahwin secara Mut'ah dengan wanita sebagai balasan untuk pampasan yang mereka setujui untuk tempoh tertentu, dan akan berakhir dengan berlalunya tarikh ini. masa. 

Maka, Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه keluar bersama seorang lelaki dari kaumnya, yang merupakan sepupunya, sebagaimana yang akan disebutkan dalam riwayat ini. Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه lebih tampan daripadanya, dan lelaki yang lain itu hampir kepada keburukan, iaitu rupa yang tidak menyenangkan dan rupa yang buruk. Setiap daripada mereka mempunyai Burd yang ingin diberikan kepada wanita yang akan dinikahinya oleh Mut‘ah. Burd: pakaian berbelang dibuka dari hadapan dan diletakkan di bahu seperti jubah, namun ia lebih kecil daripadanya.

Seseorang boleh membungkusnya pada dirinya sendiri atau membiarkannya digantung. Pakaian Sabrah (semoga Allah meridhainya) adalah usang dan usang, sedangkan Burd sepupunya adalah baru. Mereka terus mencari sehingga sampai ke selatan Makkah atau utaranya. Di sana, mereka terserempak dengan seorang gadis seperti "unta muda berleher panjang yang pintar", iaitu, dia mempunyai leher yang panjang, lurus dan susuk tubuh yang cantik. Mereka menghadirkan diri kepadanya supaya dia boleh memilih salah seorang daripada mereka untuk mengahwininya dengan Mut'ah. Dalam versi lain, dia bertanya kepada mereka: "Adakah ini sah?" Dia maksudkan kesahihan perkahwinan seperti ini sama ada halal dan dibenarkan untuk menikmati seorang wanita untuk jangka masa tertentu! Dia menjawabnya dengan mengiyakan, seperti yang diriwayatkan dalam Mustakhraj Abu ‘Awānah. 

Dia bertanya kepada mereka: Apakah yang akan kamu tawarkan sebagai balasan untuk perkahwinan ini? Kemudian, masing-masing membentangkan Burdnya. Dia mula memandang kedua-dua lelaki itu dan membandingkan antara mereka. Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه berkata: Dan sahabatku memandangnya sedang dia memandang sebelahnya. Apabila dia melihatnya dalam keadaan ini, dia berkata: Burd ini sudah tua, dan Burd saya adalah baru dan segar, berusaha untuk menariknya kepada dirinya sendiri dan menjauhkannya daripada Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه. Dan dalam versi, dia berkata: "Burd ini sudah lama dan usang." Dia berkata: Burd lelaki muda ini tidak buruk - tiga atau dua kali - seolah-olah dia sedang mempertimbangkan semula perkara itu dan berfikir untuk memilih yang lebih muda daripada dua lelaki itu, tidak kira betapa baiknya Burd itu.

Dia memilih Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه, dan dia menikahinya dengan Mut‘ah. Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه memberitahu bahawa dia tidak meninggalkannya sehinggalah Rasulullah mengisytiharkan perkahwinan Mut‘ah haram. Dalam versi lain oleh Muslim: "Saya tinggal bersamanya selama tiga. Kemudian, Rasulullah bersabda: "Sesiapa yang mempunyai salah seorang daripada wanita-wanita ini yang dia bernikah dengan Mut'ah hendaklah membiarkan dia pergi."

Hadis menunjukkan bahawa nikah mut‘ah dilarang selama-lamanya setelah dibolehkan.

Ia mengesahkan kewujudan pemansuhan dalam Sunnah..

Hadis 73

Sabrah ibn Ma'bad رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda, “Hendaklah salah seorang di antara kamu yang sedang solat meletakkan sutrah di hadapannya walaupun itu adalah anak panah.” - Al-Haakim

 (والله أعلمُ بالـصـواب)



Thursday, October 24, 2024

Abu Sirwa’ah - Uqbah bin Harits رضي الله عنه


[Gambar Ilustrasi Sahaja]

"Uqbah bin Harits, kunyahnya Abu Sirwa'ah, suatu ketika menikah dengan putri dari Abu Ihab bin Aziz. Setelah beberapa waktu berlalu, seorang wanita agak tua datang menemuinya dan berkata, "Sesungguhnya saya dahulu pernah menyusui engkau, dan aku juga pernah menyusui wanita yang menjadi istrimu itu..!!"

Uqbah bin Harits رضي الله عنه kaget dengan pengakuan wanita tersebut. Itu artinya ia dan istrinya masih saudara sesusuan, dengan demikian sebenarnya mereka masih "mahram" dan dilarang menikah. Uqbah bin Harits رضي الله عنه berkata, "Saya tidak tahu bahwa kamu dahulu menyusui saya, dan kamu tidak pernah memberitahukannya kepadaku!!"

Uqbah bin Harits رضي الله عنه bergegas pergi ke Madinah menemui Rasulullah untuk menceritakan permasalahannya tersebut, dan beliau bersabda, "Bagaimana lagi, sedangkan hal itu telah jelas (hukumnya)….!!"

Uqbah bin Harits رضي الله عنه tidak banyak bertanya lagi. Setelah mengucap terima kasih dan salam, ia bergegas pulang ke tempat tinggalnya, kemudian menceraikan istrinya. Walau sebenarnya ia masih sangat mencintai istrinya, dan pernikahannya belum berlangsung lama, tetapi pilihan untuk menjalani pernikahan sesuai petunjuk syariat Rasulullah adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Beberapa waktu kemudian, setelah iddahnya habis, bekas istrinya yang masih saudara sesusunya itu menikah lagi dengan orang lain.

Tergesa-gesa biasa berujung tidak baik. Namun cepat-cepat atau bersegera dalam bertindak ini berbeda. Bahkan cepat-cepat kadang juga masih memiliki ketenangan. Namun di sini bukan berarti kami memaksudkan untuk shalat dengan gopoh -sangat cepat- sehingga tidak ada thuma’ninah sebagaimana kelakuan keliru sebagian jama’ah yang di bulan Ramadhan melakukan shalat tarawih. Itu bukan maksud kami. Dalam shalat tetap harus ada thuma’ninah atau sikap tenang kerana thuma’ninah bagian dari rukun shalat. Namun kalau seseorang bergerak cepat dalam beramal, itu bisa jadi terpuji sebagaimana yang terjadi pada Rasulullah waktu.

 Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam karya beliau Riyadhus Sholihin dalam Bab “Bersegera dalam kebaikan dan anjuran kepada orang yang menuju kebaikan supaya menghadapinya dengan sungguh-sungguh tanpa keragu-raguan“. Berikut salah satu hadits yang beliau rahimahullah bawakan.

 Dari Abu Sirwa’ah yaitu ‘Uqbah bin Al Harits رضي الله عنه, ia pernah berkata,

 صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا ، فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ ، فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ ، فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ « ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِى ، فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ »

 “Aku pernah shalat ‘Ashar di belakang Rasulullah di Madinah. Ketika salam, beliau dengan cepat berdiri. Lalu beliau melangkahi leher para jama’ah untuk menuju ke sebagian kamar istri-istri beliau. Para sahabat pun terkejut dengan gerak cepatnya Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar. Beliau pun mengetahui bahwa mereka itu heran atas cepat geraknya beliau. Kemudian Rasulullah mengatakan, “Aku itu teringat akan sepotong emas (yang belum dibentuk)  yang kami miliki (dan diniatkan untuk disedekahkan). Aku tidak suka ditahan lama-lama. Oleh karenanya, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagikan.” 

(HR. Bukhari no. 851).

Al Jauhari mengatakan bahwa “tibr” yang disebutkan dalam hadits tidak dimaksudkan dalam hadits tidak dimaksudkan kecuali pada emas sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 2: 337. 

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin mengatakan bahwa “tibr” adalah potongan emas atau perak.

Faedah Hadits

Berikut beberapa faedah dari Ibnu Hajar yang disebutkan dalam Fathul Bari (2: 337).

1- Diam sebentar setelah salam dalam shalat tidaklah wajib sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, beliau tidak berdzikir setelah shalat ketika itu.

2- Melangkahi para jama’ah lainnya ketika ada hajat (keperluan) masih dibolehkan.

3- Berpikir tentang perkara lain di luar shalat tidak mencacati shalat dan tidak mengurangi kesempurnaan shalat sebagaimana Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepikiran akan sedekah yang belum dibagikan saat itu.

4- Bertekad di pertengahan shalat untuk melakukan hal lain setelah shalat dirampungkan juga tidak mencacati shalat.

5- Mewakilkan pada yang lain untuk membagikan sedekah atau zakat padahal mampu melakukan sendiri masih dibolehkan.

Syaikh Salim bin ‘Ied memberikan faedah lainnya sebagai berikut.

1- Bolehnya heran atau takjub pada orang yang mengerjakan sesuatu yang tidak biasanya sebagaimana herannya para sahabat pada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang baru kali ini terlihat bergerak cepat.

2- Barangsiapa yang lihat sesuatu yang aneh di mata para sahabatnya, maka hendaklah ia menghilangkan syubhat atau keanehan tersebut.

3- Bersegera melakukan amalan kebajikan sebagaimana dicontohkan oleh Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang tidak mau menunda-nunda pembagian sedekah.

4- Disunnahkan untuk berlepas diri dari hal-hal yang mengganggu pikiran yang bisa memalingkan dari dekat pada Allah.

5- Melangkah cepat bukan berarti tidak tenang.

Semoga faedah berharga dari hadits di atas bisa kita peting dan ambil pelajaran. Hanya Allah yang memberi taufik.



 

 

 



Ka’ab ibn ‘Ujrah (رضي الله عنه)

Ka'ab ibn 'Ujrah ( رضي الله عنه ) merupakan seorang sahabat  Rasulullah (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  yang taat dan terkenal d...

Most Reads