Thursday, April 24, 2025

SAID BIN AMIRAL-JUMAHI رَضِيَ اللهُ عَنْهُ


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلم

SAID BIN AMIRAL-JUMAHI رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

"Sa'id bin 'Amir adalah seorang yang sanggup membeli akhirat dengan dunia. la adalah orang yang mendahulukan Allah dan Rasul-Nya daripada siapa pun." -Ahli sejarah Seorang pemuda bernama Sa'id bin Amir al-Jumahi adalah salah satu dari ribuan orang muallaf yang datang dari daerah Tan'im daerah luar Makkah demi memenuhi undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adi, salah seorang sahabat Muhammad setelah mereka berhasil menangkap Khubaib dengan cara men1punya. 

Jiwa muda dan kekuatan yang dimilikinya membuat Sa'id mampu menerobos kumpulan manusia saat itu, sehingga ia dapat berdiri sejajar dengan para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah clan lainnya yang menyaksikan pemandangan saat itu. Kesempatan itu membuat Sa'id dapat melihat para tawanan suku Quraisy yang sedang terikat. Tangan para wanita, anak-anak clan pemuda mendorong tubuh Said masuk ke arena pembunuhan, di tempat para suku Quraisy melakukan balas dendam kepada Muhammad lewat diri Khubaib, dan sebagai balas dari para anggota suku Quraisy yang mati dalam Perang Badar.

Saat kerumunan yang sesak itu sampai ke tempat pembunuhan dengan membawa tawanan, berdirilah pemuda yang bernama Sa'id bin Amir al Jumahi dengan tegaknya di hadapan Khubaib. Ia menyaksikan Khubaib berjalan ke arah kayu yang telah dipancangkan. Sa'id mendengar suara Khubaib yang tenang di antara jeritan dan teriakan para wanita dan anak anak. Khubaib berkata, "Dapatkah kalian mengizinkan aku untuk melakukan shalat dua rakaat terlebih dahulu .... ?" 

Lalu Sa'id memperhatikan Khubaib saat ia menghadap kiblat dan melakukan shalat dua rakaat. Betapa bagus dan sempurna dua rakaat shalat yang dikerjakannya. Sa'id juga memperhatikan saat Khubaib menghadap para pemuka Quraisy seraya berkata, "Demi Allah, kalau kalian tidak menduga bahwa aku akan memperpanjang shalat karena merasa takut mati, pasti aku akan memperbanyak bilangan shalat tadi:' Sa'id menyaksikan kaumnya dengan kedua mata kepalanya saat mereka memotong bagian tubuh Khubaib yang masih hidup. 

Mereka memotong setiap bagian tubuh Khubaib sambil berkata kepadanya, ''Apakah kau ingin Muhammad menggantikan posisimu ini dan engkau akan selamat kerananya?" Ia menjawab -padahal darah mengalir di sekujur tubuhnya-, "Demi Allah, aku lebih suka menjadi pengaman dan meninggalkan istri dan anakku, daripada Muhammad ditusuk dengan duri:' Maka semua manusia yang hadir saat itu mengacungkan tangan mereka ke langit, seraya berteriak sengit, "Bunuh dia ... bunuh dial" Lalu Sa'id bin Amir menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang kayu seraya berdoa, "Allahumma ahshihim 'adadan, waqtulhum badadan, wala tughadir minhum ahadan (Ya Allah, hitunglah satu demi satu mereka semua. Bunuhlah mereka secara kejam. Janganlah kau sisakan satu orang pun dari mereka)." 

Khubaib pun menghembuskan napasnya yang terakhir. Pada tubuhnya banyak sekali bekas Iuka pedang clan tombak yang tidak bisa dihitung manusia. *** Suku Quraisy telah kembali ke Makkah, clan mereka semua sudah lupa akan bangkai tubuh clan proses pembunuhan Khubaib. Akan tetapi dalam diri seorang pemuda yang hampir baligh yang bernama Sa'id bin Amir al Jumahi, bayangan Khubaib tidak pernah hilang sesaat pun. Sa'id sering kali melihat Khubaib di kala tidur. Saat terjaga pun, Sa'id sering melihatnya dengan ilusi. Tergambar di benak Sa'id saat Khubaib melakukan shalat dua rakaat yang begitu tenang clan nikmat di depan kayu yang terpancang. 

Sa'id mendengar getaran suara Khubaib di telinganya saat Khubaib berdoa untuk kehancuran suku Quraisy. Sa'id menjadi khawatir terkena petir dibuatnya, atau takut terkena hujan batu yang jatuh dari langit karenanya. Lalu Khubaib seperti telah mengajarkan Sa'id apa yang belum diketahui sebelumnya .... Khubaib mengajarkannya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah clan jihad di jalan akidah hingga mati. Khubaib mengajarkannya bahwa iman yang mantap akan menimbulkan banyak keajaiban clan mukjizat. Khubaib juga mengajarkannya hal lain, yaitu bahwa pria yang dicintai oleh para sahabatnya dengan cinta seperti ini tiada lain adalah seorang Nabi yang didukung oleh langit. 

Pada saat itu pula, Allah Subhanahu wa Ta'ala melapangkan dada Sa'id bin Amir untuk memeluk Islam. Maka ia berjalan menghampiri kerumunan manusia dan mengumumkan keterlepasan dirinya dari perbuatan dosa yang telah dilakukan suku Quraisy, clan ia berikrar akan meninggalkan segala berhala yang pernah disembanya clan ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam. 

Sa'id turut ikut berhijrah ke Madinah, dan ia senantiasa mendampingi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia pun turut dalam Perang Khaibar dan perang-perang lain setelah itu. Setelah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kembali ke haribaan Tuhannya, Sa'id menjadi pedang terhunus bagi Khalifah pengganti Rasul, yaitu Abu Bakar dan Umar, dan ia menjadi satu-satunya contoh bagi orang yang beriman yang berniat membeli kehidupan akhirat dengan dunianya. Ia rela mendahulukan Allah dan pahala yang akan diberikan daripada semua keinginan nafsu syahwat badan. 

Kedua Khalifah Rasulullah mengetahui dengan baik kebenaran dan ketakwaan yang dimiliki oleh Sa'id. Mereka berdua sering mendengarkan dengan serius setiap nasehat dan ucapan Sa'id. Sa'id mendatangi Umar saat Umar baru menjadi Khalifah. Sa'id berkata kepadanya, "Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu agar engkau takut kepada Allah dalam urusan manusia. Dan janganlah engkau takut kepada manusia dalam urusan Allah. Ucapanmu jangan pernah menyalahi perbuatanmu, sebab ucapan yang terbaik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan .... Wahai Umar, perhatikanlah dengan baik orang yang telah Allah percayakan kepadamu urusannya dari kaum Muslimin, baik mereka yang jauh ataupun yang dekat. 

Cintailah mereka sebagaimana engkau menyayangi dirimu dan keluargamu. Buatlah mereka membenci apa yang engkau dan keluargamu benci. Goncanglah kumpulan manusia untuk menuju kebaikan, dan janganlah engkau khawatir terhadap kecaman orang selagi di jalan Allah:' Umar pun bertanya, " Siapa yang mampu melakukan itu, wahai Sa'id?" Sa'id pun menjawab, "Yang mampu melakukan itu adalah orang sepertimu yang telah diberikan Allah kepercayaan untuk mengurusi permasalahan umat Muhammad. Tidak ada lagi jarak antara orang seperti dengan Allah:' 

Sejurus kemudian Umar mengajak Sa'id untuk menjadi salah seorang pembantunya seraya berkata, "Ya Sa'id, kami mengangkatmu menjadi wali (gubernur) daerah Himsh." Lalu Sa'id menjawab, "Ya Umar, demi Allah, janganlah engkau menimpakan fitnah (ujian) kepadaku:' Umar pun menjadi be rang seraya berkata, "Celaka kalian .... Kali an meletakkan kepemimpinan ini di leherku, kemudian kalian mau lepas tangan dariku?! Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu:' Lalu Umar mengangkat Sa'id menjadi wali di daerah Himsh seraya bertanya, "Bolehkah kami menentukan gaji buatmu?" Sa'id menjawab, "A pa yang akan aku lakukan dengan gaji tersebut, wahai Amirul Mukminin?! Sebab gaji dari baitul maal melebihi kebutuhanku:' Dan akhirnya Sa'id pun berangkat ke Himsh.  

Sedikit sekali uang yang dibawa oleh Sa'id bin Amir hingga tiba saat datangnya beberapa orang dari penduduk Himsh yang dipercaya oleh Amirul Mukminin. Amirul Mukminin berkata kepada mereka, "Tuliskanlah nama nama orang miskin kalian sehingga dapat aku cukupkan kebutuhannya!" Mereka pun melaporkan data yang mereka miliki di dalamnya terdapat nama Fulan, Fulan clan Sa'id bin Amir. Umar bertanya kepada mereka, "Siapakah Sa'id bin Amir ini?" Mereka menjawab, "Dia adalah pemimpin kami:' Umar bertanya, "Pemimpin kalian termasuk orang yang fakir?" Mereka menjawab, "Benar, demi Allah, lama waktu berjalan namun di rumahnya tidak ada tungku api menyala:' Maka meledaklah tangis Umar hingga air matanya membasahi janggut. Kemudian beliau mengumpulkan uang sebanyak 1000 dinar clan ditaruhnya dalam sebuah ikatan seraya berkata, "Sampaikanlah salamku kepadanya clan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan uang ini untukmu agar semua kebutuhanmu tercukupi:' 

Datanglah utusan tadi kepada Sa'id dengan barang bawaannya. Sa'id melihat bungkusan itu dan ternyata di dalamnya terdapat banyak uang dinar. Ia menolaknya seraya berkata, "Jnnaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun -seolah ia terkena musibah- kemudian datanglah istrinya tergopoh-gopoh sambil bertanya, ''Ada apa wahai Sa'id, apakah Amirul Mukminin telah wafat?" Sa'id menjawab, "Bahkan lebih dahsyat dari itu:' Istrinya bertanya lagi, ''Apa yang lebih dahsyat dari itu ?" Ia menjawab, "Dunia sudah merasuki diriku untuk merusak akhiratku. Dan kini fitnah sudah menyebar di rumahku:' Istrinya berkata, "Kalau begitu, campakan saja hal itu -padahal istrinya tidak tahu tentang uang dinar tadi-:' Sa'id bertanya, "Maukah kamu menolongku untuk melakukannya?" Istrinya menjawab, "Ya:' Maka Sa'id mengambil uang dinar tadi dan ia membaginya dalam beberapa bungkusan kemudian ia bagikan kepada kaum Muslimin yang fakir. 

Tidak lama berselang, datanglah Umar Radhiyallahu 'anhu ke beberapa daerah di Syam untuk memeriksa kondisi penduduknya. Saat ia tiba di Himsh -dan daerah ini disebut Al-Kuwaifah sebagai panggilan kecil bagi Kota Kufah, dan untuk mempersamakan daerah Himsh dengan Kufah karena banyaknya penduduk yang mengeluhkan kinerja para pegawai dan wali di wilayah mereka sebagaimana yang sering terjadi di Kufah-, beberapa penduduk menghampiri Umar untuk memberikan sambutan terhadapnya. Lalu Umar bertanya kepada mereka, "Bagaimana pendapat kalian tentang Amir (pemimpin) di sini?" Mereka mengadukan keluhan kepada Umar dan mereka menyebutkan empat kekurangan Amir mereka, setiap satu masalah lebih besar dari lainnya. Umar bercerita, "Maka aku pun mengumpulkan Amir mereka yaitu Sa'id bin Amir dengan orang-orang tadi. Dan aku berdoa kepada Allah agar dugaanku tidak dibuat salah, karena aku menaruh kepercayaan besar kepada Sa'id. 

Saat mereka dan pemimpinnya sudah tiba menghadapku, aku bertanya, ''Apa yang kalian keluhkan dari Amir kalian ?" Mereka menjawab, "Ia tidak keluar bekerja sehingga hari sudah amat siang:' Aku bertanya, ''Apa komentarmu dalam hal ini, wahai Sa'id?" Ia terdiam sejenak lalu berkata, "Demi Allah, tadinya aku tidak mau mengatakan hal ini. Namun karena ini harus disampaikan maka aku pun akan menceritakannya. Aku tidak punya pembantu di rumah. Setiap kali aku bangun di pagi hari, maka aku harus menumbuk gandum untuk keluargaku. Kemudian aku harus mengaduknya dengan perlahan sehingga ia menjadi ragi. Lalu aku buatkan roti untuk keluargaku. Kemudian aku berwudhu dan keluar untuk mengurusi permasalahan manusia:' 

Umar bertanya, "Lalu apa lagi yang kalian keluhkan terhadapnya?" Mereka menjawab, "Ia tidak mau melayani seorang pun pada waktu malam:' Umar bertanya, "Apa komentarmu dalam hal ini, wahai Sa'id?" Ia menjawab, "Demi Allah, sungguh aku juga sungkan untuk menceritakan hal ini ... aku telah membagi waktu siangku untuk berkhidmat dalam urusan mereka, dan waktu malamku untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala:' 

Umar bertanya lagi, 'J\.pa lagi yang kalian keluhkan darinya?" Mereka menjawab, 'J\.da satu hari dalam sebulan di mana ia tidak keluar untuk mengurusi kami:' Umar bertanya, 'J\.pa maksudnya ini, wahai Sa'id?" Ia menjawab, 'J\.ku tidak memiliki pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak memiliki baju kecuali yang sedang aku pakai ini. Aku mencucinya sebulan sekali dan aku menunggunya hingga kering. Dan pada penghujung hari, baru aku dapat keluar menemui mereka:' 

Umar bertanya lagi, 'J\.pa lagi yang kalian keluhkan darinya?" Mereka menjawab, "Sering kali ia hilang kesadaran, sehingga ia tidak mengenali orang yang berada di sekelilingnya:' Umar bertanya, 'J\.pa maksudnya hal ini, ya Sa'id?!" Ia menjawab, 'J\.ku menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adi pada saat itu aku musyrik, dan aku melihat para penduduk Quraisy memotong jasadnya dan mereka bertanya kepada Khubaib, J\.pakah kau ingin Muhammad menggantikanmu di sini?' Ia menjawab, 'Demi Allah, aku tidak suka merasa aman dengan istri dan anakku, padahal Muhammad sedang dicucuk dengan duri ... : Dan aku selalu teringat akan hari itu dan mengapa aku tidak menolongnya sehingga aku menduga bahwa Allah tidak mengampuniku ... maka aku pun hilang kesadaran karenanya:' Saat itu Umar langsung berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah membuat dugaanku kepadanya tidak rusak:'

Kemudian Umar mengirimkan 1000 dinar untuknya agar dapat memenuhi segala kebutuhannya. Begitu istri Sa'id melihat uang tersebut, ia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami lewat khidmat yang kau berikan. Belilah segala kebutuhan hidup kita. Dan carilah seseorang yang mau diupah sebagai pembantu!" Sa'id berkata kepada istrinya, ''Apakah kau punya sesuatu yang lebih baik dari itu?" Istrinya bertanya, ''Apakah itu?" Sa'id berujar, "Kita kembalikan lagi kepada orang yang membawanya, dan hal itu lebih kita butuhkan?" Istrinya bertanya lagi, ''Apakah itu?" Ia menjawab, "Kita pinjamkan uang tersebut kepada Allah sebagai qardhan hasanan (pinjaman yang baik):' Istrinya menanggapi, "Benar. Dan engkau akan dibalas dengan kebaikan karenanya:' 

Setelah ia meninggalkan majelis maka ia membagikan uang dinar tersebut dalam beberapa bungkus dan ia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, "Bawalah ini kepada janda Fulan, yatim Fulan, si miskin Fulan dan si fakir Fulan:' Semoga Allah meridhai Sa'id bin Amir al-Jumahi. Beliau adalah salah seorang sosok yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain, meski ia berada dalam kondisi yang mendesak. Untuk dapat mengenal sosok Sa'id bin Amir al-Jumahi lebih jauh dapat merujuk ke: 


Untuk dapat mengenal sosok Sa'id bin Amir al-Jumahi lebih jauh dapat merujuk 

Rujukan:

1.ke: 1. 2 3. 5. 6. Tahdzib at-Tahdzib: 4/51. 

2.Ibnu :Asakir: 6/1 45-147. 

3.Sifatush Shafwah 1/273. 

4. Hilliyatul Auliya ': 1/244. 

5.Tarikh al-Islam: 2/35. 

6) Al-Ishabah: 2/48 atau profil 3270. 

7). Nasabu Quraisyin: 399. 

Sunday, April 20, 2025

Mus'ab Ibn 'Umairرضي الله عنه - The First Envoy of Islam

{Gambar Hiasan]

Lelaki ini dari kalangan Sahabat Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ, alangkah baiknya kita mulakan dengannya. Dia adalah bunga Quraisy yang paling tampan dan awet muda! Ahli sejarah dan perawi menyifatkan beliau sebagai "orang Makkah yang paling menawan".

Dia dilahirkan dan dibesarkan dalam kekayaan, dan dia membesar dengan kemewahannya. Mungkin tidak ada anak lelaki di Makkah yang dimanjakan oleh ibu bapanya seperti Mus'ab Ibn 'Umairرضي الله عنه  . Pemuda yang riang ini, dibelai dan dimanjakan, pembicaraan wanita-wanita Makkah, permata kelab-kelab dan perhimpunannya: mungkinkah dia menjadi salah seorang legenda iman?

Demi Allah, betapa menariknya sebuah kisah, kisah Mus'ab Ibn 'Umairرضي الله عنه atau Mus'ab yang Baik, sebagaimana dia digelar di kalangan umat Islam! Dia adalah salah seorang yang dibuat oleh Islam dan diasuh oleh Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ,.

Tetapi siapakah dia? Kisahnya adalah kebanggaan semua manusia. Pemuda itu mendengar suatu hari apa yang penduduk Makkah mula mendengar tentang Muhammad Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ,  yang Benar, bahawa; Allah telah mengutusnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi amaran untuk menyeru mereka kepada menyembah Allah Tuhan Yang Esa. Apabila Makkah tidur dan bangun tidak ada pembicaraan lain selain Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ, dan agamanya, dan budak manja ini adalah salah seorang pendengar yang penuh perhatian. Itu kerana, walaupun dia masih muda, bunga kelab dan perhimpunan, rupa zahir kebijaksanaan dan akal fikiran adalah antara sifat Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه.

Dia mendengar bahawa Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ, dan orang-orang yang beriman kepadanya sedang bertemu jauh dari pembesar-pembesar dan orang-orang besar Quraisy atAs-Safaa di rumah Al-Arqam Ibn Al-Arqam (Daar Al-Arqam). Dia tidak membuang masa. Dia pergi pada suatu malam ke Dar Al-Arqam, dengan rasa rindu dan cemas. Di sana Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ, sedang bertemu dengan para sahabatnya, membacakan Al-Quran kepada mereka dan berdoa bersama mereka kepada Allah Yang Maha Tinggi. Mus'ab hampir tidak duduk dan merenung ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan oleh Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ,) apabila hatinya menjadi hati yang dijanjikan pada malam itu.

Keseronokan itu hampir melemparkan dia dari tempat duduknya kerana dia dipenuhi dengan ekstasi liar. Tetapi Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ menepuk jantungnya yang berdebar-debar dengan tangan kanannya yang diberkati, dan keheningan kedalaman lautan memenuhi hatinya. Dalam sekelip mata, pemuda yang baru sahaja beragama Islam itu kelihatan lebih bijak daripada usianya dan keazaman yang akan mengubah peredaran zaman!

Ibu Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه ialah Khunaas Bint Malik, dan orang ramai takut kepadanya hampir ke tahap ketakutan kerana dia mempunyai peribadi yang kuat. Apabila Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه masuk Islam, dia tidak berhati-hati sebelum ini dan tidak takut kepada sesiapa pun di muka bumi ini kecuali ibunya. Sekalipun Makkah, dengan segala berhala, bangsawan, dan padang pasirnya menantangnya, dia akan menentangnya. Bagi perselisihan dengan ibunya, ini adalah satu kengerian yang mustahil, maka dia berfikir dengan cepat dan memutuskan untuk merahsiakan keislamannya sehingga Allah menghendaki. Dia terus ke Dar Al-Arqam dan mengambil pelajaran daripada Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ. Dia berpuas hati dengan imannya dan mengelakkan kemarahan ibunya, yang tidak mempunyai pengetahuan tentang dia memeluk Islam.

Walau bagaimanapun, Makkah pada masa itu tidak merahsiakan, kerana mata dan telinga Quraisy berada di mana-mana, sangat berjaga-jaga dan memeriksa setiap tapak kaki di pasirnya yang panas. Suatu ketika, "Uthman bin Talhah melihatnya terus-menerus memasuki rumah Al-Arqam, kemudian dia melihatnya untuk kedua kalinya mengerjakan sembahyang seperti Muhammad Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ . Tidak lama dia melihatnya, dia berlari dengan cepat membawa berita itu kepada ibu Mus'ab, yang terkejut dengannya.

Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه berdiri di hadapan ibunya, orang ramai, dan para pembesar Makkah yang berkumpul di sekelilingnya, memberitahu mereka kebenaran yang tidak dapat disangkal dan membaca al-Quran yang dengannya Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ membersihkan hati mereka dan memenuhi mereka dengan kehormatan, kebijaksanaan, keadilan, dan ketakwaan.

Ibunya mengarahkan pukulan berat kepadanya, tetapi tangan yang dimaksudkan sebagai anak panah itu tidak lama kemudian tunduk kepada cahaya yang kuat yang meningkatkan sinaran wajahnya dengan kemuliaan yang tidak bersalah kerana menuntut penghormatan dengan keyakinan yang tenang. Bagaimanapun, ibunya, di bawah tekanan keibuannya, menyelamatkannya daripada pemukulan dan kesakitan, walaupun dalam kuasanya untuk membalas dendam tuhan-tuhannya yang telah ditinggalkannya. Sebaliknya dia membawanya ke rumahnya yang kasar dan mengurungnya di dalamnya. Dia membelenggunya dan memenjarakannya di sana sehingga dia mendengar berita hijrah (hijrah) beberapa orang mukmin ke Habsyah. Dia berfikir sendiri dan dapat menipu ibunya dan pengawalnya, lalu melarikan diri ke Habsyah.

Di sana dia tinggal di Habsyah bersama rakan-rakan hijrahnya dan kemudian kembali bersama mereka ke Makkah. Dia juga berhijrah ke Habsyah untuk kedua kalinya bersama para Sahabat yang Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ nasihatkan untuk berhijrah dan mereka taati. Tetapi sama ada Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه berada di Habsyah atau Makkah, pengalaman imannya mewartakan dirinya di semua tempat dan pada setiap masa.

Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه menjadi yakin bahawa hidupnya telah menjadi cukup baik untuk dipersembahkan sebagai korban kepada Pencipta Yang Maha Esa dan Maha Pencipta. Dia keluar dengan satu tekad yang kuat.'" beberapa orang Muslim sedang duduk mengelilingi Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ; dan tidak lama mereka melihatnya, mereka menundukkan kepala mereka dan menitiskan air mata kerana mereka melihat baginda memakai pakaian yang usang. Mereka telah terbiasa dengan penampilannya yang dahulu sebelum dia menjadi seorang Muslim, sedangkan pakaiannya telah seperti bunga taman, elegan dan harum.

Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ melihatnya dengan mata kebijaksanaan, bersyukur dan penyayang, dan bibirnya tersenyum anggun sambil berkata, "Saya melihat Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه di sini, dan tidak ada seorang pemuda di Makkah yang lebih dibelai oleh ibu bapanya daripada dia. Kemudian dia meninggalkan semua itu kerana cinta kepada Allah dan Rasul-Nya!"

Ibunya telah menahan daripadanya segala kemewahan yang telah dikuasainya, apabila ibunya tidak dapat mengembalikannya kepada agamanya. Dia enggan mengizinkan sesiapa yang telah meninggalkan tuhan mereka memakan makanannya, walaupun dia adalah anaknya. Hubungan terakhirnya dengannya adalah ketika dia cuba memenjarakannya untuk kali kedua selepas dia kembali dari Habsyah, dan dia bersumpah bahawa jika dia berbuat demikian, dia akan membunuh semua orang yang datang membantunya untuk mengurungnya. Dia tahu kebenaran tekadnya apabila dia berniat dan memutuskan untuk melakukan sesuatu, jadi dia mengucapkan selamat tinggal kepadanya sambil menangis.

Saat perpisahan mendedahkan kepatuhan yang aneh kepada kekafiran di pihak ibunya, dan kepatuhan yang lebih besar kepada iman di pihak anaknya. Ketika dia berkata kepadanya, sambil mengusirnya keluar dari rumahnya, "Pergilah, aku bukan lagi ibumu," dia mendekatinya dan berkata, "Wahai ibu, aku menasihatimu dan hatiku bersamamu, sila saksikan bahawa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ adalah hamba dan utusan-Nya." Dia menjawab kepadanya, dengan marah mengamuk, "Demi bintang-bintang, aku tidak akan sekali-kali memasuki agamamu, untuk merendahkan martabatku dan melemahkan pancainderaku!"

Maka Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه meninggalkan kemewahan besar yang dilaluinya selama ini. Dia menjadi puas dengan kehidupan yang sukar yang tidak pernah dilihatnya sebelum ini, memakai pakaian yang paling kasar, makan satu hari dan lapar lagi. Semangat ini, yang berlandaskan iman yang paling kuat, dihiasi dengan cahaya Allah, menjadikannya seorang lelaki lain, seorang yang menarik perhatian jiwa-jiwa besar yang lain.

Ketika dia berada dalam keadaan ini, Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ menugaskan baginda dengan misi terbesar dalam hidupnya, iaitu menjadi utusan baginda ke Madinah. Misinya adalah untuk mengajar orang-orang Ansar yang beriman kepada Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ dan telah membaiatnya di qabah, untuk menyeru orang lain kepada Islam, dan untuk menyediakan Al-Madiinah untuk hari Hijrah yang besar. Ada di kalangan para Sahabat Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ pada masa itu yang lain yang lebih tua daripada Mus'ab dan lebih terkemuka dan lebih dekat dengan Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ melalui hubungan kekeluargaan. Tetapi Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ memilih Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه yang Baik, kerana mengetahui bahawa dia mempercayakan kepadanya tugas yang paling penting pada masa itu, meletakkan ke dalam tangannya takdir Islam di Al-Madinah. Kota Al-Madiinah yang bercahaya ditakdirkan menjadi rumah Hijrah, batu loncatan pendakwah Islam dan pembebas masa depan.

Mus'ab adalah sama dengan tugas dan amanah yang Allah berikan kepadanya dan dia dilengkapi dengan fikiran yang cemerlang dan budi pekerti yang mulia. Baginda memenangi hati orang Madinah dengan ketakwaan, kejujuran dan keikhlasannya. Maka mereka memeluk agama Allah dengan berbondong-bondong. Pada masa Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَmenghantarnya ke sana, hanya dua belas orang Islam yang telah membaiat Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ di 'Aqabah. Dia hampir tidak menyelesaikan beberapa bulan ketika mereka menjawab panggilan Allah dan Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ. Pada musim haji berikutnya, orang Islam Madinah menghantar delegasi 70 orang beriman lelaki dan perempuan ke Makkah untuk bertemu Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ.

Mereka datang bersama guru mereka dan utusan Nabi mereka, Musab Ibn 'Umairرضي الله عنهMusab Ibn 'Umairرضي الله عنه telah membuktikan, dengan akal budi dan kecemerlangannya, bahawa Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ tahu cara memilih utusan dan guru baginda.

Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه telah memahami misinya dengan baik. Dia tahu bahawa dia adalah penyeru kepada Allah dan penyeru agama-Nya, yang menyeru manusia kepada petunjuk yang benar dan jalan yang lurus. Seperti Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ yang diyakininya/ dia tidak lebih daripada penyampai risalah. Di sana dia berdiri teguh, dengan As'ad Ibn Zarurah sebagai tuan rumah, dan mereka berdua biasa mengunjungi suku, tempat tinggal, dan majelis, membacakan kepada manusia apa yang dia miliki dari Kitab Allah, menanamkan dalam diri mereka bahawa Allah tidak lebih dari Tuhan Yang Satu.

Dia telah menghadapi keadaan tertentu, yang boleh menamatkan hidupnya dan orang-orang yang bersamanya tetapi kerana fikirannya yang aktif, cerdas, dan hebat. Pada suatu hari, dia terkejut ketika berdakwah kepada orang ramai mendapati Usaid Ibn Hudair, ketua suku 'Abd Al-Ashhal, di Madinah sedang berhadapan dengannya dengan anak panah yang dilukis.

Dia mengamuk dengan kemarahan dan kebencian terhadap orang yang datang untuk merosakkan agama kaumnya dengan menyuruh mereka meninggalkan tuhan-tuhan mereka dan bercakap dengan mereka tentang idea hanya Tuhan Yang Esa yang mereka tidak kenali sebelumnya dan tidak pernah mendengarnya. Dewa-dewa mereka menjadi pusat penyembahan mereka kepada mereka. Setiap kali mana-mana daripada mereka memerlukan mereka, dia tahu tempat mereka. Mereka akan meminta mereka untuk membantu. Begitulah cara mereka berfikir dan membayangkan!

Adapun Tuhan Muhammad, yang kepadanya utusan ini dipanggil, tiada seorang pun yang tahu tempat-Nya, dan tidak seorang pun dapat melihat-Nya! Ketika orang-orang Islam yang duduk di sekeliling Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه, melihat Usaid Ibn Hudair maju dalam kemarahannya yang tidak terkendali, mereka ketakutan, tetapi Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه yang Baik itu berdiri teguh. Usaid berdiri di hadapannya dan As'ad Ibn Zurarah berteriak, "Apa yang membawa kamu ke sini? Adakah kamu datang untuk merosakkan iman kami? Pergilah jika kamu ingin diselamatkan!"

Dan seperti ketenangan laut dan kekuatannya, Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه memulakan ucapannya yang baik dengan berkata, "Tidakkah kamu duduk dan mendengar? Jika kamu menyukai perkara kami, kamu boleh menerima; dan jika kamu tidak menyukainya, kami akan menghindarkan kamu daripada apa yang kamu benci."

Allah Maha Besar! Betapa besar pembukaan yang pengakhirannya akan menyenangkan! Usaid adalah seorang yang bijaksana dan pandai, dan di sini dia melihat Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه mengajaknya untuk mendengar dan lebih banyak lagi, Jika dia yakin dia akan menerimanya/ dan jika dia tidak yakin/ maka Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه  akan meninggalkan kawasan kejiranan dan klannya/ dan berpindah ke kawasan kejiranan lain tanpa dicederakan/ atau dicederakan. Di sana dan kemudian Usaid menjawab bahawa dia adalah adil," dan dia akan turun dengan berkata, "Kami akan turun," katanya. mendengar.

Mus'ab hampir tidak membaca Al-Quran, menjelaskan misi Muhammad Ibn 'Abd ullah, [Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ] datang/ apabila hati nurani Usaid mula bersih dan cerah serta berubah dengan keberkesanan kata-kata itu. Dia menjadi terharu dengan keindahannya. Apabila Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه  selesai bercakap, Usaid Ibn Hudair berseru kepadanya dan orang-orang yang bersamanya/ "Alangkah indahnya ucapan ini, dan sungguh benar! Bagaimana seseorang boleh masuk agama ini?" Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه  menyuruhnya menyucikan badan dan pakaiannya dan berkata, "Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah."

Usaid bersara untuk beberapa lama dan kemudian kembali menuangkan air bersih ke atas kepalanya dan berdiri di sana sambil menyatakan, "Saya bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah/ dan bahawa Muhammad adalah utusan Allah."

Berita itu tersebar seperti kilat dan kemudian Sa'd Ibn Muaadh datang dan mendengar dari Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه , dan dia yakin dan memeluk Islam. Kemudian datang Sa'd Ibn 'Ubadah.

Di sana dan kemudian keberkatan datang dengan mereka masuk Islam. Penduduk Madinah berkumpul dan bertanya satu sama lain, 'Jika Sa'ad Ibn Mu'adhرضي الله عنه  dan Sa'd Ibn 'Ubadahرضي الله عنه  telah memeluk Islam, apa yang kita tunggu? Pergi terus kepada Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه dan beriman. Demi Allah, dia menyeru kami kepada kebenaran dan jalan yang lurus!"

Utusan pertama Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ berjaya tanpa tandingan. Ia adalah satu kejayaan yang dia layak dan yang dia setaraf.

Hari dan tahun berlalu. Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ dan para sahabatnya berhijrah ke Madinah, dan orang-orang Quraisy sangat iri hati dan mengejar orang-orang yang soleh. Maka berlakulah Perang Badar, di mana mereka diberi pelajaran dan kehilangan benteng yang kuat. Selepas itu mereka mempersiapkan diri untuk membalas dendam, dan dengan itu berlakulah Perang Uhud. Kaum Muslimin mengerahkan diri mereka sendiri, dan Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ berdiri di tengah-tengah mereka untuk memilah-milah di antara wajah-wajah setia mereka dan memilih seorang untuk memikul panji. Dia kemudian memanggil Mus'ab yang Baik, dan dia maju dan membawa panji.

Pertempuran dahsyat sedang berkecamuk, pertempuran sengit. Para pemanah tidak mempedulikan perintah Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ dengan meninggalkan kedudukan mereka di atas gunung apabila mereka melihat orang-orang musyrik berundur seolah-olah kalah. Tetapi tindakan mereka ini segera mengubah kemenangan umat Islam kepada kekalahan. Kaum Muslimin secara tidak disedari oleh pasukan berkuda Quraisy di puncak gunung, dan akibatnya banyak orang Islam terbunuh oleh pedang kaum musyrikin.

Apabila mereka melihat kekeliruan dan kengerian yang memecah belahkan barisan kaum Muslimin, orang-orang musyrik menumpukan perhatian kepada Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ untuk membunuhnya. Mus'ab melihat ancaman yang akan datang, maka dia mengangkat standard tinggi-tinggi, sambil menjerit, "Allahu Akbar! Allah Maha Besar!" seperti mengaum singa. Dia berpaling dan melompat ke kiri dan ke kanan, melawan dan membunuh musuh. Apa yang dia mahukan ialah menarik perhatian musuh kepada dirinya sendiri untuk mengalihkan perhatian mereka daripada Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ. Oleh itu, dia menjadi seluruh tentera dalam dirinya. Tidak, Mus'ab pergi sendirian untuk berperang seolah-olah dia adalah tentera gergasi yang mengangkat panji dalam kesucian dengan satu tangan, menyerang dengan pedangnya dengan yang lain. Tetapi musuh-musuh semakin bertambah banyak terhadapnya. Mereka ingin memijak jenazahnya supaya mereka dapat menemui Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ.

Marilah kita membenarkan seorang saksi hidup untuk menggambarkan bagi kita adegan terakhir Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه yang Agung. Ibn Sa'd berkata: Ibraahim Ibn Muhammad Ibn Sharhabiil Al-'Abdriy meriwayatkan daripada bapanya/ yang berkata: Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه membawa panji pada hari Uhud. Ketika umat Islam bercerai-berai, dia berdiri teguh sehingga bertemu dengan Ibn Quma'ah yang merupakan seorang kesatria. Dia memukulnya pada tangan kanannya dan memotongnya/ tetapi Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه berkata:
 "<dan Muhammad hanyalah seorang Rasul. Rasul telah berlalu sebelumnya " (3:144). 

Dia membawa piawai dengan tangan kirinya dan bersandar padanya. Dia memukul tangan kirinya dan memotongnya/ lalu dia bersandar pada panji dan memegangnya dengan tangan atas ke dadanya, sambil berkata/ "<Dan Muhammad Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ hanyalah seorang Rasul. Rasul telah berlalu sebelumnya >". Kemudian orang ketiga memukulnya dengan lembingnya, dan lembing itu menembusi dia. Musab Ibn 'Umairرضي الله عنه jatuh dan kemudian piawai.

Tidak/ krim kesyahidan telah jatuh! Dia tersungkur selepas dia berjuang kerana Allah dalam peperangan besar pengorbanan dan keimanan. Dia menyangka bahawa jika dia jatuh / dia akan menjadi batu loncatan kepada kewafatan Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ kerana dia akan tanpa pembelaan dan perlindungan. Tetapi dia meletakkan dirinya dalam bahaya kerana Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ. Dikuasai oleh ketakutan dan cintanya kepadanya/ dia terus berkata dengan setiap pukulan pedang yang menimpanya dari musuh: 
"Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul. Rasul telah berlalu sebelumnya" (3:144). 

Ayat ini diturunkan kemudian/ setelah dia mengucapkannya. Selepas peperangan yang getir/ mereka menjumpai mayat syuhada yang tegak terbaring dengan mukanya di dalam tanah/ seolah-olah dia takut melihat sedangkan bahaya menimpa Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ. Jadi dia menyembunyikan mukanya supaya dia mengelak daripada kejadian itu. Atau mungkin, dia malu ketika dia gugur sebagai syahid, sebelum memastikan keselamatan Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ, dan sebelum berkhidmat hingga akhir, menjaga dan melindunginya.

Allah bersamamu, wahai Mus'ab! Sungguh hebat kisah hidup!
Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ dan para sahabat datang untuk meninjau tempat pertempuran dan mengucapkan selamat tinggal kepada para syuhadanya. Berhenti di badan Mus'ab Ibn 'Umair رضي الله عنه, banyak air mata menitis dari mata Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ.

Khabbab Ibn Al-Aratرضي الله عنه  meriwayatkan: Kami berhijrah bersama Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ kerana Allah, maka pahala kami adalah sepatutnya di sisi Allah. Sebahagian daripada kami meninggal dunia tanpa menikmati apa-apa dalam kehidupan ini pahalanya, dan salah seorang daripada mereka adalah Mus'ab Ibn 'Umair رضي الله عنه , yang mati syahid pada hari Uhud. Dia tidak meninggalkan apa-apa kecuali sehelai kain bulu yang dicincang. Jika kami menutupi kepalanya dengannya, maka kakinya tidak bertudung, dan jika kami menutupi kedua kakinya dengannya, maka tidaklah juga kepalanya. Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ bersabda kepada kami, "Tutuplah kepalanya dengannya dan letakkan serai di atas kakinya."

Walaupun rasa sakit yang mendalam dan sedih yang dialami oleh Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ atas kehilangan bapa saudaranya Sayyidina  Hamzah ibn Abu Talib رضي الله عنه dan dicacatkan mayatnya oleh orang-orang musyrik dengan cara yang menarik air mata daripada Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ dan menghancurkan hatinya; walaupun pada hakikatnya medan pertempuran dipenuhi dengan mayat para Sahabatnya, yang kesemuanya mewakili puncak kebenaran, ketakwaan dan makrifat; walaupun semua ini, dia berdiri di hadapan mayat utusan pertamanya, mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan menangis dengan sedih. Bahkan Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ berdiri di dekat jenazah Mus'ab Ibn 'Umair رضي الله عنه sambil berkata, sambil matanya mengalir dengan air mata, cinta dan kesetiaan;


نَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌۭ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًۭا ٢٣

"Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang telah menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.1 Di antara mereka ada yang telah menunaikan janjinya ˹dengan nyawanya˺, yang lain menunggu ˹gilirannya˺. Mereka tidak pernah mengubah ˹komitmen mereka˺ sedikit pun." 
(Surah Al Ahzab: Ayat23)

Kemudian dia memandang sedih pada pakaian yang diselubunginya dan berkata/ "Saya melihat kamu di Makkah, dan tidak ada permata yang lebih berharga, dan tidak lebih terhormat daripada kamu, dan di sini kamu bertelanjang dengan pakaian!" Kemudian Rasulullah صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ melihat semua orang yang mati syahid di medan perang dan berkata, "Nabi Allah menyaksikan bahawa kamu adalah syahid kepada Allah pada hari kiamat." Kemudian dia mengumpulkan para Sahabatnya yang masih hidup di sekelilingnya dan berkata, "Wahai manusia, lawatilah mereka, datanglah kepada mereka, dan ucapkanlah salam kepada mereka. Demi Allah, tidak ada seorang Muslim pun yang akan berselawat kepada mereka melainkan mereka akan memberi salam kepadanya."

Salam sejahtera kepadamu wahai Mus'ab. Salam sejahtera ke atas kamu wahai para Syuhada. Selawat dan salam Allah ke atas kamu!


Saturday, April 19, 2025

Asma binti Umays رضي الله عنه

[Foto Illustrasi]
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

 اَلْحَمْدُ للّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلىَ اَشْرَفِ اْللأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِناَ وَمَوْلٰنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَمَّا بَعْدُ.

Asmāʾ binti ʿUmays (Bahasa Arab: أَسْمَاء بِنْت عُمَيْس) ialah seorang Sahabiyyah atau sahabat  Muhammad Rasulullah.

Dia terkenal kerana telah berkahwin dengan tiga orang sahabat Muhammad yang terkenal, iaitu, Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه ,  Sayyiduna  Abu Bakr's Sidique رضي الله عنه, dan Sayyiduna Ali ibn Abu Talib رضي الله عنه .

Kehidupan awal dan keluarga.

Pada tahun-tahun awal Islam, orang-orang musyrik cuba memaksa orang Islam keluar dari agama mereka melalui penyeksaan yang tidak tertanggung dan untuk menakut-nakutkan dan menghalang mereka yang cenderung menjadi Muslim. Akan tetapi, para Sahabat yang kekuatannya berasal dari akidah mereka tetap berpegang teguh pada akidah mereka dan tidak membuat sebarang konsesi.

Keadaan ini memberi pelbagai kerisauan kepada Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, dia memberitahu para Sahabat bahawa mereka boleh berhijrah ke Habsyah jika mereka mahu. Atas tawaran ini, sekumpulan 15 Sahabat berhijrah ke Habsyah. Negus Habsyah melayan orang Islam dengan sangat baik dan menghiburkan mereka. Apabila Rasulullahﷺ mendengarnya, baginda sangat gembira dan menasihati umat Islam yang lain untuk berhijrah juga. Maka, 92 orang, 82 orang lelaki dan 10 orang perempuan, berhijrah di jalan Allah, meninggalkan tanah air mereka.

Tahun kelahiran Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه. tidak diketahui; bagaimanapun, menjadi anak sulung daripada perkahwinan ketiga ibunya memudahkan anggaran tahun kelahirannya kepada sekitar 597 hingga 600 Masehi. Rupa-rupanya dia dilahirkan di Makkah sebagai anak perempuan pendatang. Ayahnya adalah Umays ibn Ma'ad dari suku Khath'am, dan ibunya adalah Hind binti Awf dari suku Himyar.

Saudara kandungnya ialah Saydatuna Salmah binti Umays رضي الله عنه, isteri Saiyiduna Hamzah ibn Abdul Muthalibرضي الله عنه, dan Aun ibn Umais. Adik-beradik sebelah ibunya termasuk dua orang isteri Muhammad Rasulullah, Zainab binti Khuzayma dan Maymunah binti al-Harith, serta Ummu Faḍl, isteri Saiyiduna Abbas ibn Abdul Muttalibرضي الله عنه, Al-Sa'ib ibn al-Harith, Qatn ibn al-Harith, dan bendahara masyarakat Al-Jazyah Mahmiyah.

Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه dan adiknya Saydatuna Salmah binti Umays رضي الله عنه kedua-duanya memeluk Islam "selepas Rasulullah telah memasuki rumah al-Arqam", iaitu, antara akhir 614 dan awal 616 Masehi. Dia terkenal kerana pernah menjadi isteri kepada tiga orang sahabat rapat Muhammad Rasulullah.

Perkahwinan pertama Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه mungkin dengan Rabia ibn Riyab al-Hilali dari suku Banu Hilal di Hejaz, yang sama ada meninggal dunia sebelum Islam atau menceraikannya.

Tidak lama selepas itu, dia telah berkahwin dengan Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه  dari kelompok Bani Hasyim dari suku Quraisy. Pada tahun 616 dia berhijrah bersamanya ke Habsyah, di mana dia melahirkan tiga anak lelaki mereka, Abdullah, Muhammad dan Awn. Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه tidak suka tinggal di Habsyah dan dia kemudiannya merujuk kepada "ketakutan" dan "kemudaratan" yang dia alami di sana sementara "jauh dan dibuang" kesukaran ini.

Mereka kembali ke Madinah pada tahun 628, pada masa penaklukan Islam di Khaybar.

Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه berperang dalam Perang Mu'tah melawan Ghassanid, yang dibantu oleh Rum Byzantine, pada September 629 dan, Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه bersama Saiyiduna Zayd ibn Haritha رضي الله عنه dan Saiyiduna Abdullah ibn Rawahahرضي الله عنه , terbunuh di sana.

Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه menceritakan bagaimana dia mendengar berita kematian suaminya. "Rasulullah datang kepada saya. Saya telah menyediakan empat puluh ma'an 'celup' [yang disamak empat puluh kulit] dan menguli doh. Saya mengambil dua anak lelaki saya dan saya membasuh muka mereka dan meletakkan minyak pada mereka. Rasulullah datang kepada saya dan berkata, 'Wahai Asma, di manakah anak-anak Ja'far?' Saya membawanya kepadanya dan dia memeluk mereka dan menciumnya, kemudian matanya berair dan dia menangis, 'Mengapa, wahai Rasulullah, mungkin [anda mempunyai berita] tentang Ja'far. Dia menjawab, 'Ya, dia "syahid"hari ini.' Saya berdiri dan menjerit, dan para wanita datang kepada saya. Rasulullah mula berkata, 'Wahai Asma, jangan bercakap kata-kata kotor atau memukul dadamu!'" Anak lelakinya Abd Allah teringat: "Dia berkata, 'Wahai Asma, tidakkah kamu bergembira, sesungguhnya Tuhan Yang Maha Tinggi telah menjadikan dua sayap untuk Ja'far, supaya dia dapat terbang bersama mereka, juga kemudian Rasulullah berkata kepada anaknya Fatimah As Zahraرضي الل ه عنه , "Sediakan makanan untuk keluarga Ja'far, kerana mereka sibuk hari ini.

Perkahwinan dengan Abu Bakar

Selepas kematian Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنهSaydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه berkahwin dengan Sayyiduna  Abu Bakr's Sidique رضي الله عنه. Dia melahirkan anak lelakinya Muhammad pada tahun 632 di al-Baydaa semasa dalam perjalanan ke Ziarah Wada. Sayyiduna  Abu Bakr's Sidique رضي الله عنه bercadang untuk menghantar Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه dan anak mereka kembali ke Madinah, tetapi Rasulullah menyuruhnya untuk membiarkan dia mandi  hadas besar dan kemudian mengabdikan dirinya semula dalam menunaikan haji.

Sayyiduna  Abu Bakr's Sidique رضي الله عنه yang hampir  meninggalkan dunia  berpesan supaya Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه memandikan jenazahnya dan tidak boleh berpuasa pada hari itu. Dia hanya ingat arahan ini menjelang matahari terbenam, apabila dia meminta air untuk diminum supaya dia tidak secara teknikal tidak mematuhinya. Oleh kerana hari itu sangat sejuk, disepakati bahawa dia tidak perlu berwuduk selepas membasuh badan.

Perkahwinan dengan Ali

Apabila Abu Bakar meninggal dunia, khalifah baru Umar memberi Asma pencen sebanyak 1,000 dirham.  Tidak lama kemudian, Sayiduna Ali Ibn Abu Talib رضي الله عنه , adik kepada Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه , mengahwininya dan membesarkan Muhammad ibn Abi Bakr sebagai anaknya sendiri. Saydatuna Asma bint Umaysرضي الله عنه melahirkan dua lagi anak lelaki, Yahya dan Awn kepada Ali.

Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه sering menziarahi isteri-isteri Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ. Suatu ketika, dia mengunjungi Sayidatuna Hafsah رضي الله عنه . Tidak lama kemudian, ayah Sayidatuna Hafsah رضي الله عنه, Sayiduna Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه tiba. Beliau secara berseloroh memberitahu Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه, "Kami lebih baik daripada kamu mengenai hijrah." Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه berasa sangat sedih. Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه berkata kepada Sayiduna Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه seperti berikut:

"Wahai Umar! Tidak, kamu bukan kerana kamu bersama Rasulullah. Rasulullahﷺ memberi makan orang-orang yang lapar di antara kamu dan menasihati orang-orang yang jahil di antara kamu. Namun, berada di negeri musuh dan kami pergi ke sana kerana Allah dan Rasul-Nya."

Sementara itu, Rasulullah datang. Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه berasa sedih. Dia memberitahu Rasulullahﷺ apa yang dikatakan oleh Sayiduna Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه. Rasulullahﷺ memberinya berita gembira berikut, yang menggembirakannya:

“Umar dan kawan-kawannya telah melakukan satu hijrah tetapi kamu, para pelayar di laut, telah melakukan dua hijrah.”

Tidak ada berita gembira yang lebih baik daripada yang diberikan oleh Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ untuk Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه. Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه terharu dan dia menangis kegembiraan.[1]

Apabila Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه ingin melakukan sesuatu, dia akan bertanya kepada Rasulullahﷺ tentang perkara itu dan bertindak sesuai. Suatu ketika, dia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Ya Rasulullah! Anak-anak saya disentuh oleh mata yang jahat. Bolehkah saya menyuruh seseorang membaca dan mendoakan mereka?" Rasulullah ﷺ berkata, "Ya. Jika ada sesuatu yang dapat menghalang qadar, itu adalah mata yang jahat."[2]

Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه mempunyai sembilan saudara perempuan. Kesemua mereka menjadi Muslim. Rasulullah ﷺ memanggil mereka "saudara perempuan yang beriman" Mereka suka nama panggilan ini dan suka dipanggil seperti itu.

Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه menjalani kehidupan yang bahagia yang menjadi model dengan Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه. Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه menunaikan semua kewajipannya sepenuhnya dan tidak pernah menghina suaminya. Mereka menjalani kehidupan yang bahagia. Hari-hari mereka berlalu begitu sahaja.

Pada tahun ke-8 Hijrah, Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ menyediakan tentera untuk memerangi Byzantine. Dia melantik Zayd bin Haritha sebagai panglima. Jika dia mati syahid, Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه akan menjadi panglima.

Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه mengucapkan selamat tinggal kepada isterinya dan mencium anak-anaknya. Kemudian, dia pergi. Apabila tentera meninggalkan Madinah, Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه merasakan bahawa dia tidak akan bertemu suaminya lagi.

Selepas beberapa minggu, tentera Islam berhadapan dengan Byzantine berhampiran Mut'ah. Musuh mempunyai lebih banyak tentera dan senjata daripada orang Islam. Namun, para mujahid yang meninggalkan Madinah dengan pemikiran "syahid" tidak mementingkan saiz musuh. Mereka menyerang dengan berani. Ia adalah pertempuran yang hebat. Umat ​​Islam mendapat kemenangan. Namun, Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه telah syahid. Terdapat lebih daripada 90 potong pedang dan lembing di badannya. Selain itu, kedua-dua tangannya telah dipotong.

Allah Taala menunjukkan kekasihnya Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ di medan perang. Rasulullah (saw) memberitahu para Sahabatnya bahawa Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه telah mati syahid, bahawa Allah Taala memberinya dua sayap untuk lengannya yang terputus, dan bahawa dia terbang ke syurga bersama mereka. Selepas itu, Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه diberi nama “Tayyar [Penerbang]” dan “Dhul-janahayn [Memiliki Dua Sayap]”.[3]

Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه dan anak-anaknya sedang menunggu Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه. Mereka tidak tahu bahawa dia telah syahid. Nabi pergi ke rumah Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه. Dia bertanya kepada Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه di mana anak-anak itu berada. Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه memegang tangan mereka dan membawa mereka kepada Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَt. Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه telah membasuh muka mereka dan menyikat rambut mereka. Rasulullah memegang mereka di dadanya dan mencium mereka. Sementara itu, air matanya jatuh.

Ini membuatkan Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه bimbang. Saydatuna Asma binti Umaysرضي الله عنه berkata, "Ya Rasulullah! Semoga ibu dan ayahku dikorbankan untukmu! Mengapa kamu menangis? Adakah kamu menerima berita duka dari Jafar dan sahabatnya?"

Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ bersabda, "Ya. Mereka mati syahid hari ini. Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه tidak dapat mengawal perasaannya. Saydatuna Asma binti Umays رضي dan Rasulullah tidak menangis sekuat-kuatnya. dia berbuat demikian dan berkata kepadanya, “Wahai Asma! Jangan mengeluarkan kata-kata yang buruk dan jangan memukul dadamu.”

Para wanita berkumpul di sekeliling Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه. Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ pulang ke rumah dan berkata kepada isteri-isterinya, "Keluarga Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه tidak mampu memasak makanan. Masaklah makanan dan hantar ke rumah mereka." Selepas itu, mereka memasak dan menghantar makanan kepada Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه selama tiga hari. Ini adalah makanan pertama yang dihantar ke rumah apabila seseorang meninggal dunia di rumah itu dalam sejarah Islam.[4]

Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ pergi ke rumah Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه’ setelah tiga hari berlalu. Dia ingin mengambil anak-anak Sayiduna Jafar Ibn Abu Talib رضي الله عنه di bawah perlindungannya. Dia memberi Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه berita gembira berikut yang menggembirakannya:

"Janganlah kamu menangisi saudaraku (Jafar) mulai sekarang. Jangan risau tentang rezeki dan penjagaan anak-anak ini. Akulah penjaga mereka di dunia dan akhirat."[5]

Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه hidup sebagai janda selama enam bulan. Sidique Sayyiduna Abu Bakar رضي الله عنه ingin mengambil wanita ini, yang banyak menderita di jalan Islam, di bawah perlindungannya. Dia memintanya untuk berkahwin dengannya. Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه menerima tawarannya. Oleh itu, keluarga itu mendapat penjaga yang baik.

Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه, yang menerima doa Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ, berkata, "Doa ini adalah yang paling aku sandarkan di antara amalanku." Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه meriwayatkan beberapa hadis. Salah satunya adalah seperti berikut:

“Apabila Rasulullahصَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِۦ وَسَلَّمَ menghadapi sesuatu yang menyusahkannya atau ditimpa kesusahan dan kesedihan, baginda akan berkata, ‘Tuhanku ialah Allah, aku tidak menyekutukan baginda.’”

Saydatuna Asma binti Umays رضي الله عنه, yang berkahwin dengan Sayyiduna Ali ibn Abu Talib رضي الله عنه selepas kematian Sayyiduna Abu Bakar Sidique رضي الله عنه, meninggal dunia pada tahun ke-40 Hijrah.

Dipercayai bahawa qabr Asma (Bahasa Arab: قَـبْـر, kubur) berada di Maqbarah al-Bāb aṣ-Ṣaghīr (Bahasa Arab: مَـقْـبَـرَة الْـبَـاب الـصَّـغِـيْ Babـر, Damsyik sekarang, 


Semoga Allah redha dengannya!

_______________________________

[1] Muslim, Fadailu’s-Sahaba: 169.
[2] Tirmidhi, Tibb: 17.
[3] Usdu'l-Ghaba, 1: 358.
[4] Tabaqat, 8: 282; Sirah, 3: 477.
[5] Tabaqat, 4: 37.

Ka’ab ibn ‘Ujrah (رضي الله عنه)

Ka'ab ibn 'Ujrah ( رضي الله عنه ) merupakan seorang sahabat  Rasulullah (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  yang taat dan terkenal d...

Most Reads