Wednesday, January 1, 2025

ABU DZAR AL-GHIFARIرضي الله عنه

 

[Illustration Only]

ABU DZAR AL-GHIFARIرضي الله عنه

[Jundub bin Junadahرضي الله عنه]

"Bumi tidak pernah mengandung & langit tidak pernah menaungi orang yang lebih jujur dari Abu Dzar رضي الله عنه ." -Muhammad Rasulullah

Di lembah Waddan yang menyambungkan Makkah dengan dunia luar ada sebuah kabilah yang tinggal di sana bernama Ghifar. Suku Ghifar ini hidup dari uang setoran yang diberikan oleh para kafilah yang hendak melakukan perdagangan dari Quraisy ke Syam atau sebaliknya.

Terkadang suku ini hidup dengan merampas para kafilah yang tidak memberikan uang yang mereka pinta. Jundub bin Junadahرضي الله عنه , yang lebih dikenal dengan Abu Dzar رضي الله عنه , adalah salah seorang dari penduduk kabilah ini. Akan tetapi berbeda dengan lainnya, ia memiliki keberanian hati, otak yang cerdas clan wawasan yang luas. Dan ia merasa tidak suka sekali dengan berhala-berhala yang disembah kaumnya selain   Allahﷻ. Ia menolak kerusakan agama clan akidah yang terjadi pada kebanyakan Bangsa Arab. Ia mencari tahu tentang munculnya seorang Rasulullah yang baru untuk mengisi akal manusia clan hati mereka serta mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه

Lalu Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه -yang saat itu berada di kampungnya- mendengar kisah tentang seorang Rasulullah yang baru dan muncul di Kota Makkah. Lalu ia berkata kepada saudaranya yang bernama Anis, "Pergilah ke Makkah clan carilah kisah tentang orang yang mengaku Rasulullah itu dan mengaku menerima wahyu dari langit. Dengarkanlah apa yang ia ucapkan clan sampaikan kepadaku!"

Berangkatlah Anis ke Makkah clan ia berjumpa dengan Rasulullah. Ia pun mendengarkan beberapa sabda beliau. Kemudian Anis kembali ke desanya lalu Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه menghampiri nya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia menanyakan Anis tentang kisah Nabi yang baru dengan penasaran. Anis berkata, "Demi Allah, menurutku ia adalah seorang yang mengajak untuk memperbaiki akhlak. Ia mengucapkan beberapa kalimat yang bukan syair:' Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنهr bertanya, ''Apa pendapat orang tentang dirinya?" Anis menjawab, "Mereka menyebutnya dengan penyihir, dukun dan penyair:' Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه lalu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan merasa puas. Maukah kau menjaga keluargaku agar aku berangkat ke sana clan melihat dia dengan mata kepalaku sendiri?"

Anis menjawab, "Baiklah, akan tetapi waspadalah terhadap penduduk Makkah!"

Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه mempersiapkan bekal untuk berangkat. Ia membawa tempat air kecil bersamanya. Keesokan harinya ia berangkat menuju Makkah untuk bertemu dengan Rasulullah dan mengetahui kisah kenabian beliau langsung darinya. Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه tiba di Makkah dengan diam-diam karena khawatir akan kejahatan penduduknya. Ia telah mendengar kemarahan Quraisy dalam membela tuhan-tuhan mereka dan penyiksaan mereka terhadap orang yang mengaku sebagai pengikut Muhammad Rasulullah.

Oleh karenanya, ia enggan untuk bertanya tentang Muhammad Rasulullah., karena ia sendiri tidak tahu apakah orang yang ia tanyakan nanti termasuk pendukung atau musuh Muhammad Rasulullah.?

Begitu malam tiba, Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  berbaring di dalam masjid. Lalu Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه  melintasi Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  dan Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه  tahu bahwa Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  adalah seorang pendatang. Ali langsung berkata kepadanya, "Ikutilah kami, wahai saudara! Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  pun mengikutinya dan menginap di rumah Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه .  Pagi-nya, Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  membawa tempat air dan makanannya dan kembali datang ke masjid tanpa keduanya saling bertanya tentang sesuatu. Kemudian Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  menghabiskan hari yang kedua di masjid dan ia belum juga mengetahui kabar tentang Muhammad Rasulullah..

Begitu petang menjelang, ia sudah hendak berbaring di dalam masjid. Lalu datanglah Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه  dan berkata kepadanya, 'Apakah orang ini tidak tahu rumahnya?!" Kemudian Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  pergi ke rumah Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه  dan menginap di sana pada malam yang kedua. Dan keduanya tidak saling bertanya tentang apa pun juga.

Pada malam ketiga, Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه  berkata kepada Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه , Apakah engkau tidak mau bercerita kepadaku mengapa engkau datang ke Makkah ?" Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  menjawab, "Jika kau berjanji akan menunjukkan apa yang aku cari, maka aku akan mengatakannya:' Maka Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه  berjanji untuk melakukannya. Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  lalu berkata, Aku datang ke Makkah dari tempat yang jauh untuk berjumpa dengan seorang Nabi baru dan untuk mendengarkan sesuatu yang ia ucapkan:'

Maka merekalah kebahagiaan di wajah Saidina Ali Ibn Abu Talibرضي الله عنه , lalu ia berkata, "Demi Allah, dia lah Muhammad Rasulullah, dialah ... dial ah .... Besok pagi ikutilah aku ke man a Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  aku pergi. Jika aku melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, aku akan berhenti seolah sedang menuangkan air. Jika aku berjalan lagi, ikutilah aku sehingga kau masuk ke sebuah pintu bersamaku!"

Malam itu, Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  tidak bisa tidur nyenyak karena rindu sekali ingin berjumpa dengan Muhammad Rasulullah, dan ingin sekali mendengarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Keesokan paginya, Ali berangkat bersama tamunya menuju rumah Muhammad RasulullahAbu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  mengikuti jejaknya dan ia tidak menoleh ke arah mana pun hingga keduanya masuk ke rumah Muhammad Rasulullah.

Lalu Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  berkata, '½ssalamu 'alaika, ya Rasulallah!" Rasul menjawab, "Wa 'alaika salamullah warahmatuhu wa barakatuhu!" Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  menjadi orang pertama yang memberikan salam kepada Muhammad Rasulullah dengan tahiyat Islam. Lalu setelah itu ucapan salam menjadi akrab dipakai orang.

Rasulullah mengajak Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  untuk masuk Islam dan membacakan kepadanya Al-Qur'an. Begitu ia mengucapkan kalimatul haq dan masuk ke dalam agama yang baru, maka ia menjadi orang keempat atau kelima yang masuk ke dalam Islam.

Sekarang, mari kita persilakan Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  untuk menceritakan kisah selanjutnya sendiri: Setelah itu, aku tinggal bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Makkah dan beliau mengajarkan Islam kepadaku. Beliau juga mengajarkan aku beberapa ayat Al-Qur' an. Beliau berkata kepadaku, "Jangan kau beritahu siapa pun tentang ke-Islamanmu di Makkah. Aku khawatir mereka akan membunuhmu!" Aku menjawab, "Demi Zat Yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya. Aku tidak akan meninggalkan Makkah sehingga aku datang ke masjid dan aku akan meneriakkan dakwah kebenaran di hadapan suku Quraisy!" Rasul pun diam.

Lalu aku datang ke masjid, dan suku Quraisy sedang duduk berbincang-bincang di sana. Aku masuk ke tengah-tengah mereka. Aku berteriak dengan sekeras-kerasnya, "Wahai Bangsa Quraisy, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Muhammad Rasulullah:'

Begitu ucapanku hinggap di telinga mereka, maka mereka semua bangun dari tempat duduknya. Mereka berkata, "Tangkaplah orang yang keluar dari agamanya ini!" Mereka pun menangkapku dan memukulku hingga aku hampir mati. Lalu Abbas bin Abdul Muthalib paman Muhammad Rasulullah menarikku, ia berusaha melindungiku dari pukulan suku Quraisy.

Kemudian ia berkata kepada mereka, "Celakalah kalian! Apakah kalian hendak membunuh seorang yang berasal dari Ghifar tempat berlalunya kafilah kalian?! Biarkan ia bersamaku!"

Begitu aku siuman, aku datang menghadap Muhammad Rasulullah. Saat beliau melihat apa yang aku alami, beliau berkata, "Bukankah aku telah melarangmu agar tidak mengumumkan keislamanmu?!" Aku menjawab, "Ya Rasulullah, itu merupakan keinginan hatiku dan aku telah memenuhinya:'

Beliau berkata, "Kembalilah ke kaummu dan beritahukan kepada mereka apa yang telah kau lihat dan kau dengar. Ajaklah mereka kembali kepada Allah. Semoga Allah memberi manfaat untuk mereka lewatmu dan memberimu balasan karena jasa baik yang kau lakukan kepada mereka. Jika kau mendengar bahwa aku sudah berdakwah secara terang-terangan, maka datanglah kepadaku!"

Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  meneruskan kisahnya: Aku pun berangkat hingga tiba di perkampungan kaumku. Lalu saudaraku Anis menanyakan, ''Apa yang telah engkau lakukan ?" Aku menjawab, ''Aku telah masuk Islam, dan aku telah meyakini-nya:'

Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  Tidak lama berselang, Allah pun melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Ia berujar, ''Aku tidak membenci agamamu. Aku kini masuk Islam dan meyakininya juga:'

Lalu kami berdua mendatangi ibu kami. Kami mengajaknya untuk masuk Islam. Ia menjawab, ''Aku tidak membenci agama kalian berdua:' Dan ia pun masuk Islam. Sejak hari itu, keluarga ini telah masuk Islam dan berdakwah di jalan Allah di daerah Ghifar. Mereka tidak pernah merasa bosan dan putus asa. Hingga banyak sekali dari penduduk Ghifar yang masuk Islam dan mendirikan shalat.

Sebagian dari penduduk Ghifar mengatakan, "Kami akan terus menjalankan agama kami hingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah maka kami akan masuk Islam:' Begitu Rasul pindah ke Madinah, mereka pun masuk Islam. Rasulullah bersabda, "Ghifar, Allah memberikan maghfirahnya kepada mereka. Ghifar telah masuk Islam dan Allah akan membuatnya senantiasa selamat:'

Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  tinggal di kampungnya sehingga peristiwa Badar, Uhud dan Khandaq terlewatkan olehnya. Kemudian ia datang ke Madinah dan ia mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau pun mengizinkannya dan ia begitu gembira dapat mendampingi dan melayani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Rasulullah senantiasa memberikan penghormatan dan memuliakan Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه . Beliau tidak pernah berjumpa dengannya kecuali beliau menjabat tangannya. Beliau juga senantiasa menampakan wajah ceria di hadapan Abu Dzar. Saat Rasulullah kembali ke pangkuan Rabb-nya, Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  tidak sanggup lagi tinggal di Madinah al-Munawwarah, setelah ditinggalkan pemimpinnya dan kehilangan petunjuknya. Ia pun pergi ke sebuah desa di Syam dan tinggal di sana selama pemerintahan Saidina Abu Bakar ash-Shiddiqرضي الله عنه  dan Saidina Umar al-Faruqرضي الله عنه .

Pada masa kekhalifahan Saidina Uthman bin Affanرضي الله عنهAbu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  yang tinggal di Damaskus mendapati kaum Muslimin sudah begitu mencintai dunia dan hidup bermewah-mewahan. Hal ini membuat ia keheranan dan menolaknya. Saidina Uthman bin Affanرضي الله عنه pun memintanya untuk datang ke Madinah dan ia pun datang. Akan tetapi, ia merasa sumpek dengan manusia yang begitu cinta dunia, dan manusia pun menjadi benci kepadanya karena ia begitu saklek kepada mereka. Maka Saidina Uthman Ibn Affanرضي الله عنه  memerintahkannya untuk pindah ke Ar-Rabdzah, yaitu sebuah desa kecil yang ada di Madinah. Lalu ia berangkat ke sana dan tinggal di sana di sebuah tempat yang jauh dari keramaian manusia.

Ia berzuhud dari hal yang manusia miliki, senantiasa dengan apa yang dijalankan Rasulullah dan kedua sahabatnya yang lebih mendahulukan akhirat daripada dunia. Suatu hari, ada seseorang yang datang ke rumah Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  dan melihat ke sekeliling rumahnya, akan tetapi ia tidak menemukan barang apa pun. Orang itu bertanya, "Wahai Abu Dzar, mana perabotan?!

Ia menjawab, "Kami memiliki rumah di sana (maksudnya akhirat). Kami mengirimkan perabotan kami yang baik ke sana. Orang itu pun mengerti maksud Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  dan berkata, "Akan tetapi engkau harus memiliki perabotan selagi engkau berada di sini (maksudnya dunia):' Lalu ia menjawab, ' '.Akan tetapi pemilik rumah ini tidak akan membiarkan kami tinggal di sini:'


Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه 

Amir ( pemimpin Syam) mengirimkan 300 dinar kepada Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  dan berkata kepadanya, "Gunakanlah uang ini untuk mencukupi kebutuhanmu!" Tapi Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  menolaknya sambil berkata, ''Apakah Amir Negeri Syam Abdullah tidak menemukan orang yang lebih miskin dariku?"

Pada tahun 32 Hijriyah, ajal datang menjemput sang hamba yang taat beribadah dan hidup zuhud, yang disebut oleh Rasulullah sebagai, "Bumi tidak pernah mengandung dan langit tidak pernah menaungi orang yang lebih jujur dari Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه ."

Untuk mengenal profil Abu Dzar Al Ghifari رضي الله عنه  lebih jauh, silakan merujuk:


1. Al-Ishabah: 4/62.

2. Al-Isti'ab dengan hamisy al-Ishabah: 4/61.

3. Tahdzib at-Tahdzhib: 2/420.

4. Tajrid Asma ash-Shahabah: 2/175.

5. Tadzkiratul Huffazh: 1/15-16.

6. Hilliyatul Auliya ': 1/ 156-170.

7. Shifatush Shafwah: 1/238-245.

8. Ihabaqat asy-Sya'rani: 32.

9. Al-Ma'arif: 11 0- 1 1 1 .

10. Al-'!bar: 1/33.




SAID BIN AMI R AL-JUMAHIرضي الله عنه



"Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه adalah seorang yang sanggup membeli akhirat dengan dunia. la adalah orang yang mendahulukan   Allahﷻ dan Rasul-Nya daripada siapa pun."

Seorang pemuda bernama Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه adalah salah satu dari ribuan orang muallaf yang datang dari daerah Tan'im daerah luar Makkah demi memenuhi undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adi رضي الله عنه salah seorang sahabat Rasulullah setelah mereka berhasil menangkap Khubaib dengan cara men1punya.

Jiwa muda dan kekuatan yang dimilikinya membuat Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه mampu menerobos kumpulan manusia saat itu, sehingga ia dapat berdiri sejajar dengan para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah clan lainnya yang menyaksikan pemandangan saat itu.

Kesempatan itu membuat Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه dapat melihat para tawanan suku Quraisy yang sedang terikat. Tangan para wanita, anak-anak clan pemuda mendorong tubuh Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه masuk ke arena pembunuhan, di tempat para suku Quraisy melakukan balas dendam kepada Muhammad Rasulullah lewat diri Khubaib رضي الله عنهdan sebagai balas dari para anggota suku Quraisy yang mati dalam Perang Badar.

Saat kerumunan yang sesak itu sampai ke tempat pembunuhan dengan membawa tawanan, berdirilah pemuda yang bernama Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه dengan tegaknya di hadapan Khubaib رضي الله عنه. Ia menyaksikan Khubaib berjalan ke arah kayu yang telah dipancangkan. Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه mendengar suara Khubaib yang tenang di antara jeritan dan teriakan para wanita dan anak-anak.

Khubaib رضي الله عنه berkata, "Dapatkah kalian mengizinkan aku untuk melakukan shalat dua rakaat terlebih dahulu .... ?" Lalu Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه memperhatikan Khubaib bin Adi رضي الله عنه saat ia menghadap kiblat dan melakukan shalat dua rakaat. Betapa bagus dan sempurna dua rakaat shalat yang dikerjakan nya. Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه juga memperhatikan saat Khubaib bin Adi رضي الله عنه menghadap para pemuka Quraisy seraya berkata, "Demi Allah, kalau kalian tidak menduga bahwa aku akan memperpanjang shalat karena merasa takut mati, pasti aku akan memperbanyak bilangan shalat tadi:'

Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه menyaksikan kaumnya dengan kedua mata kepalanya saat mereka memotong bagian tubuh Khubaib bin Adi رضي الله عنه yang masih hidup. Mereka memotong setiap bagian tubuh Khubaib bin Adi رضي الله عنه sambil berkata kepadanya, ''.Apakah kau ingin Muhammad menggantikan posisimu ini dan engkau akan selamat kerananya?"

Ia menjawab -padahal darah mengalir di sekujur tubuhnya-, "Demi Allah, aku lebih suka menjadi pengaman dan meninggalkan istri dan anakku, daripada Muhammad Rasulullah ditusuk dengan duri:'

Maka semua manusia yang hadir saat itu mengacungkan tangan mereka ke langit, seraya berteriak sengit, "Bunuh dia ... bunuh dial"

Lalu Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa  Khubaib bin Adi رضي الله عنه  mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang kayu seraya berdoa, "Allahumma ahshihim 'adadan, waqtulhum badadan, wala tughadir minhum ahadan (Ya Allah, hitunglah satu demi satu mereka semua. Bunuhlah mereka secara kejam. Janganlah kau sisakan satu orang pun dari mereka)."

Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه

Khubaib pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pada tubuhnya banyak sekali bekas Iuka pedang dan tombak yang tidak bisa dihitung manusia. Suku Quraisy telah kembali ke Makkah, dan mereka semua sudah lupa akan bangkai tubuh dan proses pembunuhan  Khubaib bin Adi رضي الله عنه . Akan tetapi dalam diri seorang pemuda yang hampir baligh yang bernama Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنهbayangan Khubaib tidak pernah hilang sesaat pun.

Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه sering kali melihat Khubaib di kala tidur. Saat terjaga pun, Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه sering melihatnya dengan ilusi. Tergambar di benak Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه saat Khubaib melakukan shalat dua rakaat yang begitu tenang clan nikmat di depan kayu yang terpancang. Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه mendengar getaran suara Khubaib di telinganya saat  Khubaib bin Adi رضي الله عنه berdoa untuk kehancuran suku Quraisy. Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه menjadi khawatir terkena petir dibuatnya, atau takut terkena hujan batu yang jatuh dari langit karenanya.

Lalu Khubaib seperti telah mengajarkan Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه apa yang belum diketahui sebelumnya ....  Khubaib bin Adi رضي الله عنه  mengajarkan nya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah aqidah dan jihad di jalan akidah hingga mati.  Khubaib bin Adi رضي الله عنه  mengajarkan-nya bahwa iman yang mantap akan menimbulkan banyak keajaiban dan mukjizat.  Khubaib bin Adi رضي الله عنه  juga mengajarkannya hal lain, yaitu bahwa pria yang dicintai oleh para sahabatnya dengan cinta seperti ini tiada lain adalah seorang Rasulullah yang didukung oleh langit.

Pada saat itu pula,   Allahﷻ melapangkan dada Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه untuk memeluk Islam. Maka ia berjalan menghampiri kerumunan manusia dan mengumumkan keterlepasan dirinya dari perbuatan dosa yang telah dilakukan suku Quraisy, dan ia berikrar akan meninggalkan segala berhala yang pernah disembahnya dan ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.

Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه turut ikut berhijrah ke Madinah, dan ia senantiasa mendampingi Rasulullah. Ia pun turut dalam Perang Khaibar dan perang-perang lain setelah itu. Setelah Rasulullah kembali ke haribaan Tuhannya, Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  menjadi pedang terhunus bagi Khalifah pengganti Rasul, yaitu Saiyidina Abu Bakar As Sidique رضي الله عنه  dan Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه , dan ia menjadi satu-satunya contoh bagi orang yang beriman yang berniat membeli kehidupan akhirat dengan dunianya. Ia rela mendahulukan Allahﷻ dan pahala yang akan diberikan daripada semua keinginan nafsu syahwat badan.

Kedua Khalifah Rasulullah mengetahui dengan baik kebenaran dan ketakwaan yang dimiliki oleh Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه . Mereka berdua sering mendengarkan dengan serius setiap nasehat dan ucapan Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  mendatangi Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه  saat Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه baru menjadi Khalifah. Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  berkata kepadanya, "Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu agar engkau takut kepada Allahﷻ dalam urusan manusia. Dan janganlah engkau takut kepada manusia dalam urusan Allahﷻ. Ucapanmu jangan pernah menyalahi perbuatanmu, sebab ucapan yang terbaik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan ....

Wahai Umar, perhatikanlah dengan baik orang yang telah Allahﷻ percayakan padamu urusannya dari kaum Muslimin, baik mereka yang jauh ataupun yang dekat. Cintailah mereka sebagaimana engkau menyayangi dirimu dan keluargamu. Buatlah mereka membenci apa yang engkau dan keluargamu benci. Goncangan kumpulan manusia untuk menuju kebaikan, dan janganlah engkau khawatir terhadap kecaman orang selagi di jalan Allahﷻ:'

Umar pun bertanya, " Siapa yang mampu melakukan itu, wahai Sa'id?"

Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  pun menjawab, "Yang mampu melakukan itu adalah orang sepertimu yang telah diberikan Allahﷻ kepercayaan untuk mengurusi permasalahan umat Muhammad Rasulullah. Tidak ada lagi jarak antara orang seperti dengan Allahﷻ:'

Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه 

Sejurus kemudian Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه mengajak Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  untuk menjadi salah seorang pembantunya seraya berkata, "Ya Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه , kami mengangkatmu menjadi wali (gubernur) daerah Himsh." Lalu Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  menjawab, "Ya Umar, demi Allah, janganlah engkau menimpakan fitnah (ujian) kepadaku:' Umar pun menjadi berang seraya berkata, "Celaka kalian .... Kalian meletakkan kepemimpinan ini di leherku, kemudian kalian mau lepas tangan dariku?! Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu:' Lalu Umar mengangkat Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  menjadi wali di daerah Himsh seraya bertanya, "Bolehkah kami menentukan gaji buatmu?"

Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  menjawab, "Apa yang akan aku lakukan dengan gaji tersebut, wahai Amirul Mukminin?! Sebab gaji dari baitul maal melebihi kebutuhanku:' Dan akhirnya Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  pun berangkat ke Himsh.

Sedikit sekali uang yang dibawa oleh Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  hingga tiba saat datangnya beberapa orang dari penduduk Himsh yang dipercaya oleh Amirul Mukminin. Amirul Mukminin berkata kepada mereka, "Tuliskanlah nama-nama orang miskin kalian sehingga dapat aku cukupkan kebutuhannya!"

Mereka pun melaporkan data yang mereka miliki di dalamnya terdapat nama Fulan, Fulan clan Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه . Umar bertanya kepada mereka, "Siapakah Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  ini?" Mereka menjawab, "Dia adalah pemimpin kami:' Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه bertanya, "Pemimpin kalian termasuk orang yang fakir?" Mereka menjawab,

"Benar, demi Allah, lama waktu berjalan namun di rumahnya tidak ada tungku api menyala:' Maka meledaklah tangis Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه hingga air matanya membasahi janggut. Kemudian beliau mengumpulkan uang sebanyak 1000 dinar dan ditaruhnya dalam sebuah ikatan seraya berkata, "Sampaikanlah salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan uang ini untukmu agar semua kebutuhan-mu tercukupi:'

Datanglah utusan tadi kepada Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  dengan barang bawaannya. Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  melihat bungkusan itu dan ternyata di dalamnya terdapat banyak uang dinar. Ia menolaknya seraya berkata, "Jnnaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun -seolah ia terkena musibah- kemudian datanglah istrinya tergopoh-gopoh sambil bertanya, ''Ada apa wahai Sa'id, apakah Amirul Mukminin telah wafat?" Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  menjawab, "Bahkan lebih dahsyat dari itu:' Istrinya bertanya lagi, ''Apa yang lebih dahsyat dari itu ? " Ia menjawab, "Dunia sudah merasuki diriku untuk merusak akhiratku. Dan kini fitnah sudah menyebar di rumahku:' Istrinya berkata, "Kalau begitu, campakkan saja hal itu -padahal istrinya tidak tahu tentang uang dinar tadi-:' Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  bertanya, "Maukah kamu menolongku untuk melakukannya?" Istrinya menjawab, "Ya:' 

Maka Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  mengambil uang dinar tadi dan ia membaginya dalam beberapa bungkusan kemudian ia bagikan kepada kaum Muslimin yang fakir.

Tidak lama berselang, datanglah Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه  ke beberapa daerah di Syam untuk memeriksa kondisi penduduknya. Saat ia tiba di Himsh -dan daerah ini disebut Al-Kuwaifah sebagai panggilan kecil bagi Kota Kufah, dan untuk mempersamakan daerah Himsh dengan Kufah karena banyaknya penduduk yang mengeluhkan kinerja para pegawai dan wali di wilayah mereka sebagaimana yang sering terjadi di Kufah-, beberapa penduduk menghampiri Umar untuk memberikan sambutan terhadapnya.

Lalu Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه  bertanya kepada mereka, "Bagaimana pendapat kalian tentang Amir (pemimpin) di sini?" Mereka mengadukan keluhan kepada Umar dan mereka menyebutkan empat kekurangan Amir mereka, setiap satu masalah lebih besar dari lainnya. Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه  bercerita, "Maka aku pun mengumpulkan Amir mereka yaitu Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  dengan orang-orang tadi. Dan aku berdoa kepada Allah agar dugaanku tidak dibuat salah, karena aku menaruh kepercayaan besar kepada Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه .

Saat mereka dan pemimpinnya sudah tiba menghadapku, aku bertanya, ''Apa yang kalian keluhkan dari Amir kalian ?" Mereka menjawab,

"Ia tidak keluar bekerja sehingga hari sudah amat siang:' Aku bertanya, ''Apa komentarmu dalam hal ini, wahai Sa'id?" Ia terdiam sejenak lalu berkata,

"Demi Allah, tadinya aku tidak mau mengatakan hal ini. Namun karena ini harus disampaikan maka aku pun akan menceritakannya. Aku tidak punya pembantu di rumah. Setiap kali aku bangun di pagi hari, maka aku harus menumbuk gandum untuk keluargaku. Kemudian aku harus mengaduknya dengan perlahan sehingga ia menjadi ragi. Lalu aku buatkan roti untuk keluargaku. Kemudian aku berwudhu dan keluar untuk mengurusi permasalahan manusia:'

Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه  bertanya, "Lalu apa lagi yang kalian keluhkan terhadapnya?" Mereka menjawab, "Ia tidak mau melayani seorang pun pada waktu malam:'

Saiyidina Umar Al Khattab رضي الله عنه  bertanya, "Apa komentarmu dalam hal ini, wahai Sa'id?" Ia menjawab,

"Demi Allah, sungguh aku juga sungkan untuk menceritakan hal ini ... aku telah membagi waktu siangku untuk berkhidmat dalam urusan mereka, dan waktu malamku untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala:'

Saiyiduna Umar ibn Al Khattabرضي الله عنه bertanya lagi, 'Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?" Mereka menjawab, Ada satu hari dalam sebulan di mana ia tidak keluar untuk mengurusi kami:' Umar bertanya, 'Apa maksudnya ini, wahai Sa'id?" Ia menjawab, 'Aku tidak memiliki pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak memiliki baju kecuali yang sedang aku pakai ini. Aku mencucinya sebulan sekali dan aku menunggunya hingga kering. Dan pada penghujung hari, baru aku dapat keluar menemui mereka:'

Saiyiduna Umar ibn Al Khattabرضي الله عنه bertanya lagi, 'Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?" Mereka menjawab, "Sering kali ia hilang kesadaran, sehingga ia tidak mengenali orang yang berada di sekeliling-nya:' Saiyiduna Umar ibn Al Khattabرضي الله عنه bertanya, 'Apa maksudnya hal ini, ya Sa'id?!" Ia menjawab, Aku menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adi pada saat itu aku musyrik, dan aku melihat para penduduk Quraisy memotong jasadnya dan mereka bertanya kepada Khubaib, Apakah kau ingin Muhammad menggantikanmu di sini?' Ia menjawab, 'Demi Allah, aku tidak suka merasa aman dengan istri dan anakku, padahal Muhammad sedang dicucuk dengan duri ... : Dan aku selalu teringat akan hari itu dan mengapa aku tidak menolongnya sehingga aku menduga bahwa Allah tidak mengampuniku ... maka aku pun hilang kesadaran karenanya:'

Saat itu Umar langsung berkata, "Segala puji bagi  Allahﷻ yang telah membuat dugaanku kepadanya tidak rusak:'

Kemudian Saiyiduna Umar ibn Al Khattabرضي الله عنه mengirimkan 1000 dinar untuknya agar dapat memenuhi segala kebutuhannya. Begitu istri Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  melihat wang tersebut, ia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami lewat khidmat yang kau berikan. Belilah segala kebutuhan hidup kita. Dan carilah seseorang yang mau diupah sebagai pembantu!" Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  berkata kepada istrinya, ''Apakah kau punya sesuatu yang lebih baik dari itu?" Istrinya bertanya, ''Apakah itu?" Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه  berujar, "Kita kembalikan lagi kepada orang yang membawanya, dan hal itu lebih kita perlukan?" Istrinya bertanya lagi,

''Apakah itu?" Ia menjawab, "Kita pinjamkan uang tersebut kepada   Allahﷻ sebagai qardhan hasanan (pinjaman yang baik):' Istrinya menanggapi,

"Benar. Dan engkau akan dibalas dengan kebaikan karenanya:' Setelah ia meninggalkan majelis maka ia membagikan uang dinar tersebut dalam beberapa bungkus dan ia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, "Bawalah ini kepada janda Fulan, yatim Fulan, si miskin Fulan dan si fakir Fulan:'

Semoga   Allahﷻ meridhai Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه . Beliau adalah salah seorang sosok yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain, meski ia berada dalam kondisi yang mendesak. Untuk dapat mengenal sosok Sa'id bin Amir al-Jumahi رضي الله عنه lebih jauh dapat merujuk ke:


1. Tahdzib at-Tahdzib: 4/51.

2 Ibnu :Asakir: 6/1 45-147.

3. Sifatush Shafwah 1/273.

4. Hilliyatul Auliya ': 1/244.

5. Tarikh al-Islam: 2/35.

6. Al-Ishabah: 2/48 atau profil 3270.

7. Nasabu Quraisyin: 399.







Ka’ab ibn ‘Ujrah (رضي الله عنه)

Ka'ab ibn 'Ujrah ( رضي الله عنه ) merupakan seorang sahabat  Rasulullah (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  yang taat dan terkenal d...

Most Reads