Sunday, October 27, 2024

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه,

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

[Gambar Illustrasi Sahaja]

"Perdagangan untung, ya Abu Yahya ... perdagangan untung!" Kata-Rasulullahﷺ.

Shuhaib ar-Rumi .

Siapakah di antara kita -wahai kaum Muslimin- yang tidak mengenal Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, tidak mengetahui kisah tentang dirinya dan biografinya?!

Namun yang sering tidak diketahui oleh kita adalah bahawa Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, bukanlah berasal dari Bangsa Romawi. Dia adalah orang Arab asli. Ayahnya berasal dari Bani Numair clan ibunya berasal dari Bani Tamim.

Mengapa Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, dinisbatkan kepada Bangsa Romawi, ternyata ada sebuah kisah yang senantiasa di ingat dalam sejarah clan diceritakan oleh legenda. Sekitar 2 dekad sebelum masa kenabian, ada seorang yang menjadi gubernur daerah Al-Ubullah 1 bernama Sinan bin Malik an-Numairi. Dia menjadi seorang gubernur dalam rezim Kisra Raja Persia.

Anak yang paling dicintai oleh Sinan adalah seorang anak yang belum genap berusia 5 tahun clan ia panggil dengan nama Shuhaib. Al-Ubullah adalah sebuah kota tua yang termasuk dalam ,wilayah Basrah.

Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, memiliki wajah yang ceria, rambutnya berwarna merah. Selalu aktif dan riang, dan ia memiliki dua bola mata yang memancarkan kecerdasan dan kepintaran. Ia juga merupakan bocah yang periang, memiliki jiwa yang tenang dan selalu membuat hati ayahnya merasa senang dan membuat ayahnya lupa akan segala permasalahan jabatannya.

Ibu Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, berangkat dengan membawa anaknya yang kecil dan rombongan yang terdiri dari para kerabat dan pembantunya ke sebuah kampung bernama Ats-Tsani di Negeri Irak untuk beristirahat dan berekreasi. Lalu sebuah pasukan dari tentara Romawi menyerang kampung tersebut, membunuh para penjaganya, mencuri harta clan menawan penclucluknya.

Salah seorang yang menjadi tawanan adalah Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه,Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, dijual di pasar perbudakan di Negeri Romawi. Maka ia mengalami pergantian tuan, kerana selalu berpindah dari tuan yang satu kepada yang lain. Dalam kondisi demikian, ia seperti ribuan budak baru lainnya yang bertugas di istana-istana Negeri Romawi.

Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, pernah berkesempatan untuk mengenali masyarakat Romawi lebih mendalam. Ia mendapati bahwa dalam istana-istana mereka amat penuh dengan perbuatan hina dan keji. Ia mendengarkan  dengan telinganya kezaliman clan perbuatan dosa yang mereka perbuat. Maka ia pun membenci masyarakat Romawi dan menganggap mereka hina.

Ia pernah berkata bahwa masyarakat seperti ini tidak dapat disucikan kembali kecuali dengan angin topan. Meskipun Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, tumbuh dewasa di Negeri Romawi dan besar di antara penduduknya, meski ia sudah melupakan Arab, atau hampir melupakannya, akan tetapi tidak pernah sirna dalam dirinya bahwa ia adalah seorang berkebangsaan Arab yang pernah tinggal di tengah padang pasir. Kerinduannya tidak pernah pupus hingga pada hari ia dibebaskan, ia langsung menuju tanah asalnya.

Ia semakin rindu kepada negerinya Arab saat ia mendengar seorang pendeta Nasrani berkata kepada salah seorang tuannya, "Sudah dekat datangnya sebuah zaman di mana akan muncul di Makkah di Jazirah Arab seorang Nabi yang membenarkan ajaran Isa putra Maryam  dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya:'

Lalu Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, memiliki kesempatan untuk kabur dari perbudakan tuannya. Ia langsung menuju ke Makkah dan jantung Arab tempat diutusnya seorang Nabi yang telah dinanti-nanti.

Begitu sesampainya di sana, manusia menyebutnya dengan nama Shuhaib si Romawi kerana bahasanya yang sulit dimengerti dan rambutnya yang berwarna merah.

Kemudian Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, bergabung dengan salah seorang pembesar di Makkah yang bernama Abdullah bin Jud'an. Lalu ia bekerja sebagai seorang pedagang, maka datanglah kebaikan dan harta yang banyak pada dirinya. Meski Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, telah sibuk dengan perdagangan serta usahanya, namun ia tidak melupakan ucapan pendeta Nasrani dulu. Maka setiap ia teringat akan ucapan pendeta tersebut, ia akan bertanya pada dirinya,

"Kapankah hal ini terjadi?"

Tidak lama berselang, jawaban pun datang kepadanya. Pada suatu hari, Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, baru kembali ke Makkah dari salah satu perjalanannya. Lalu ada yang mengatakan kepadanya bahwa Muhammad bin Abdullah baru saja diutus sebagai Rasulullah, dan kini ia berdakwah kepada manusia untuk beriman kepada Allah. Mengajak mereka untuk berbuat adil dan baik. Melarang mereka berbuat keji dan mungkar.

Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, bertanya, "Bukankah dia adalah orang yang dikenal oleh penduduk Makkah dengan Al -Amin (orang yang terpercaya)?" Kemudian orang tersebut menjawab, " Ya, benar!" Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, bertanya, "Lalu, di mana tempatnya?" Orang itu menjawab, "Di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam2 dekat Bukit Safa. Akan tetapi waspadalah, jangan sampai ada orang Quraisy yang melihatmu. Jika mereka melihatmu, pasti mereka akan menyiksamu.

Mereka akan menyiksamu sedangkan engkau adalah orang asing yang tidak memiliki suku dan keluarga yang dapat melindungimu.

Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, berangkat menuju rumah Al-Arqam dengan amat hati-hati. Sesampainya di sana, ia menjumpai Ammar bin Yasir di depan pintu, dan ia sudah mengenal dia sebelumnya. Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, agak berdebar-debar sejenak kemudian ia menghampirinya lalu berkata, "Apa yang hendak kau lakukan, ya Ammar?"

Ammar lalu bertanya balik, "Engkau sendiri, apa yang hendak engkau lakukan?" Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, menjawab, ''.Aku ingin menjumpai orang ini untuk mendengarkan apa yang ia katakan:' Ammar membalas, "Aku pun hendak melakukan hal yang sama:' Shuhaib Ar-Rumi رضي الله عنه, berkata, "Kalau begitu, mari kita masuk sama-sama dengan berkah Allah!"

Dia adalah putra Abdu Manaf bin Asad al-Makhzun1i. Dia termasuk orang pertama yang memeluk !slain. Rumahnya (Darus Salam) adalah pusat dakwah Rasulullah. Rasulullah menugaskan dia untuk 1nengurus harta sedekah.

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, dan Ammar bin Yasir menjumpai Rasulullah dan mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Lalu cahaya keimanan terbit di hati mereka berdua. Keduanya berlomba untuk menjulurkan tangan mereka ke arah Rasulullah. Keduanya bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya.

Keduanya menghabiskan hari mereka bersama Rasulullah untuk menyerap  petunjuk beliau dan menemani beliau sepanjang hari. Saat malam tiba dan suasana mulai tenang, keduanya keluar meninggalkan Rasulullah di kegelapan malam. Masing-masing telah membawa cahaya di dalam dada mereka yang dapat menyinari seluruh dunia.

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, merasakan penyiksaan dirinya yang dilakukan oleh para suku Quraisy. Bersamanya adalah Bilal, Ammar, Sumayyah, Khabbab dan lain-lain yang termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Mereka merasakan kebengisan suku Quraisy yang jika dipindahkan ke gunung, pasti gunung tersebut akan hancur berantakan. Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, merasakan semua penderitaan itu dengan jiwa yang tenang lagi sabar. Dan ia menyadari bahwa jalan ke surga sarat dengan penderitaan.

Begitu Rasulullah mengizinkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, berniat untuk berangkat bersama Rasulullah dan Abu Bakar. Akan tetapi Quraisy mengetahui rencana Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, untuk berhijrah, lalu mereka menghalangi Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, untuk melaksanakan niatnya. 

Suku Quraisy juga memasang beberapa orang untuk memata-matai Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, agar ia tidak lari dari mereka sehingga membawa apa yang telah ia dapatkan dari mereka lewat perdagangan berupa emas dan perak.

Setelah Rasulullah dan Abu Bakar berhijrah, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, menunggu-nunggu saat yang tepat untuk menyusul mereka, akan tetapi ia tidak berhasil. Hal itu dikeranakan mata para pengintai selalu mengawasi gerak-geriknya. Kerananya, ia tidak bolih  menemukan jalan kecuali dengan sebuah tipuan.

Pada suatu malam yang dingin, Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, bolak-balik ke kamar kecil seolah-olah ia ingin buang air. Ia belum juga selesai dari buang airnya, maka ia kembali lagi ke kamar kecil. Salah seorang yang mengawasinya berkata, "Bersantailah kalian, Lata dan Uzza telah membuatnya mual-mual!" Kemudian mereka mulai merebahkan diri, dan tak lama kemudian mereka tertidur. Begitu mereka tak sadarkan diri, Shuhaib menyusup pergi dan menuju ke Madinah.

Tidak lama setelah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, pergi, para pengintai Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, sadarkan diri. Mereka langsung lompat dari tidur mereka. Mereka langsung menunggangi kuda-kuda mereka. Lalu menghentakkan tali kendalinya guna menyusul Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه,.

Saat Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, menyadari bahwa mereka menyusulnya, ia berdiri di sebuah tempat yang tinggi, lalu mengeluarkan anak panahnya dari sarung. Ia mengarahkan busur sambil berkata, "Wahai Bangsa Quraisy, Demi Allah, kalian telah tahu bahwa aku adalah orang yang paling hebat dalam memanah dan paling tepat mengenai sasaran. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menangkapku sehingga setiap anak panah yang aku miliki dapat membunuh satu orang dari kalian. Lalu aku akan mengibaskan pedang kepada kalian, bila anak panah yang aku miliki telah habis!"

Lalu salah seorang dari Quraisy menjawab, "Demi Allah, kami tak akan membiarkan engkau berlari membawa diri dan hartamu. Engkau dulu datang ke Makkah tanpa membawa apa-apa dan dulunya engkau adalah seorang yang miskin. Sekarang engkau telah kaya dan telah mencapai posisi seperti saat 1n1.

Lalu Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, berkata, "Bagaimana pendapat kalian bila aku tinggalkan hartaku. Apakah kalian akan membiarkan aku pergi?" Mereka menjawab: Ya !!

Kemudian Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, menunjukkan tempat penyimpanan harta di dalam rumahnya di Makkah. Lalu Bangsa Quraisy mendatangi tempat itu dan mengambil harta Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه,. Kemudian mereka membiarkan Shuhaib berangkat.

Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, langsung berangkat ke Madinah untuk menyelamatkan agama Allah. Ia tidak menyesal dengan harta yang telah ia berikan meskipun ia telah mengumpulkannya sepanjang umur.

Setiap kali ia merasa lelah dalam perjalanan, maka kerinduan kepada Rasulullah membuatnya kembali semangat dan meneruskan perjalanannya. Saat ia tiba di Quba,Quba adalah sebuah desa yang berjarak dua mil dari Madinah. Rasulullah melihat Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, datang. Maka Rasulullahﷺ langsung menyambutnya dengan ramah seraya berkata,

"Perdagangan untung, ya Abu Yahya. Perdagangan untung!"   Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali.

Maka kegembiraan tampak di wajah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه, yang kemudian berkata, "Demi Allah, tidak ada yang mendahuluiku dalam perjalanan ini, wahai Rasulullah. Tiada yang memberi kabar kepadamu tentang kedatanganku selain Jibril:'

Benar, telah beruntung perdagangan dan benar wahyu dari langit itu. Dan ini disaksikan oleh Jibril, saat Allah menurunkan ayat tentang Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه,.  yang berbunyi: 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ ٢٠٧

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." 

(QS. al-Baqarah: 207)



Beruntung sekali Shuhaib bin Sinan ar-Rumi رضي الله عنه,, dan ia beruntung dengan tempat kembali yang amat baik.




Untuk merujuk lebih jauh tentang profil Shuhaib ar-Rumi silakan

melihat:

1. Al-Isti'ab (dengan hamisy al-Ishabah): 2/174.

2. Thabaqat Ibnu Sa'd: 3/226.

3. Hayatus Shahabah: (Lihat daftar isi dalam juz keempat).

4. Al-Ishabah: 2/195.

5. Shifatush Shafwah: 1/ 1 69.

6. Al-Bidayah wa an-Nihayah: 7/3 18-319.

7. Usdul Ghabah: 3/30.

8. Al-A'lam dan maraji'-nya.

Friday, October 25, 2024

Abdul Rahman Bin Auf رضي الله عنه

                                                    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

[Gambar Illustrasi Sahaja]
"Semoga Allahﷻ memberkahi harta yang kau berikan. Semoga Allahﷻ memberkahi harta yang kau simpan." -Salah satu doa Rasulullah kepadanya.

Dia adalah salah satu clari 8 orang yang pertama kali masuk ke dalam Islam. Ia juga termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga. Dia juga salah satu dari 6 orang ahli syura pada hari pemilihan Khalifah setelah Saidina Umar alFaruq رضي الله عنه.

Namanya pada masa Jahiliyah adalah Abdu Amrin. Saat ia masuk Islam Rasulullah memanggilnya dengan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه.. Inilah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه.

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. masuk Islam sebelum Rasulullah masuk ke rumah Al-Arqam, clan itu terjadi setelah 2 hari Saidina Abu Bakar As Sidique رضي الله عنه.  memeluk Islam. Ia juga merasakan penyiksaan seperti yang dirasakan oleh kaum Muslimin pada saat itu, dan ia mampu menghadapinya dengan sabar dan tetap iman.

Darul Arqam adalah sebuah rumah tempat Rasulullah menyampaikan Islam. Rumah ini milik Al-Arqam bin Abdi Manaf al-Makhzumi dan rumah ini disebut juga dengan Darul Islam.

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf ررضي الله عنه.teguh. Ia menyelamatkan agamanya dengan melarikan diri ke Habasyah sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Muslimin lainnya. Saat Rasulullah diizinkan untuk berhijrah ke Madinah, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. termasuk orang muhajirin pertama yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya.

Saat Rasulullah menjadikan kaum Muhajirin dan Anshar bersaudara, maka beliau menjadikan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. sebagai saudara Sa'ad bin Rabi' al-Anshariرضي الله عنه.

• Sa'ad رضي الله عنهberkata kepada saudara barunya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه., "Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya. Aku memiliki 2 kebun, dan aku punya dua istri. Pilihlah kebun mana yang engkau sukai sehingga aku memberikannya kepadamu. Dan pilihlah istriku yang mana yang engkau sukai agar aku mentalaknya untukmu!"

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. lalu berkata kepada saudara barunya yang berasal dari suku Anshar, "Semoga Allahﷻ memberkahi keluarga dan hartamu. Tetapi, tunjukkan kepadaku di mana pasar!" Lalu Sa'adرضي الله عنه.  menunjukkan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه.dan ia mulai berdagang sehingga mendapatkan keuntungan dan ia tabung keuntungan tersebut.

Tidak lama berselang, ia sudah dapat mengumpulkan uang sebagai mahar pengantin dan ia pun menikah. Maka datanglah Rasulullah dengan membawa minyak wangi dan beliau berkata, "Mahyam3 , ya Abdurrahman!" Ia menjawab, ''Aku menikah:' 

Rasulullah bertanya, "Mahar apa yang engkau berikan kepada istrimu?" Ia menjawab, "Emas seberat atom:' Rasulullah berkata, "Buatlah walimah meski hanya dengan seekor domba. Semoga Allahﷻ memberkahi hartamu!"

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله عنه. berkata, "Sepertinya dunia mendatangiku sehingga aku merasa bila aku mengangkat sebuah batu, maka aku menduga bahwa aku akan menemukan emas atau perak di bawahnya:'

2. Sa'ad bin Rabi' bin Amr bin Abi Zuhair bin Malik al-Anshari al-Khazraji adalah seorang sahabat terkemuka. Dia gugur dalam Perang Uhud.

3. Kalimat berasal dari Bangsa Yaman yang mengekspresikan rasa takjub.

Pada peristiwa Badar, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله berjihad dengan sungguh-sungguh di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan ia berhasil membunuh musuh Allah yang bernama Umair bin Utsman bin Ka'ab atTaimi. Pada Perang Uhud, ia termasuk orang yang teguh berjuang, dan tetap tak bergeming saat banyak orang yang lari takut kalah. Ia keluar dari perang dan pada tubuhnya terdapat lebih dari 20 Iuka. Sebagian dari Iuka tersebut amat dalam yang dapat dimasuki tangan seseorang. Akan tetapi, jihad Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله yang dilakukan dengan jiwa lebih sedikit dengan jihadnya yang ia lakukan dengan harta.

Suatu saat, Rasulullahh hendak memberangkatkan sebuah pasukan. Ia berdiri di hadapan para sahabatnya dan bersabda, "Bersedekahlah kalian, sebab aku akan mengirimkan utusan!"

Lalu Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله pulang ke rumah dan kembali lagi dengan segera. Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku mempunyai 4000. Dua ribu aku pinjamkan kepada Tuhanku, dan dua ribu lagi aku sisakan untuk keluargaku:' Kemudian Rasulullah bersabda, " Semoga Allah memberkahi harta yang engkau berikan dan semoga Dia memberkahi harta yang engkau simpan!"

Saat Rasulullah berniat melakukan Perang Tabuk -perang ini adalah perang terakhir yang beliau lakukan dalam hidupnya-, kebutuhan terhadap harta saat itu sama dengan kebutuhan jumlah pasukan. Pasukan Romawi saat itu berjumlah dan berbekal banyak. Padahal tahun itu di Madinah sedang paceklik. Perjalanan yang mereka lalui amat panjang. Biaya mereka sedikit. Kendaraan juga sedikit sehingga ada sekelompok Mukminin datang kepada Rasulullah yang meminta beliau untuk mengadakan kendaraan yang dapat membawa mereka ikut serta dalam jihad. 

Namun Rasulullah menolak permintaan mereka, sebab mereka tidak memiliki kendaraan untuk membawa mereka ke sana. Maka mereka pun kembali dengan mata berlinang kerana merasa sedih sebab mereka tidak memiliki apa pun.

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله juga yang bolih diinfakkan. Mereka itu dikenal dengan orang-orang yang menangis. Dan pasukan ini pun dikenal dengan pasukan 'susah:

Saat itu Rasulullah memerintahkan mereka untuk berinfak di jalan Allah dan memohon balasannya kepada Allah. Maka kaum Muslimin bersegera dalam menjawab seruan Rasulullah, dan salah satu orang yang melakukan sedekah saat itu adalah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله.

Ia bersedekah dengan 200 awqiyah dari emas. Umar bin Khattab lalu berkata kepada Rasulullah, "Menurutku, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله telah berbuat dosa, sebab ia tidak menyisakan apa pun untuk keluarganya ... :'

Lalu Rasulullah bertanya kepada Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله, ''.Apakah engkau telah menyisakan harta untuk keluargamu, ya Abdurrahman ?"

Ia menjawab, "Ya. Aku telah sisakan untuk mereka lebih dari apa yang telah aku infakkan dan lebih baik:'

Rasulullahﷺ bertanya, "Berapa ?" Ia menjawab, "Sebanyak apa yang telah Allah dan Rasul-Nya janjikan dari rezeki, kebaikan dan balasan:'

Pasukan ini kemudian berangkat ke Tabuk. Di sana, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله kemuliaan yang belum pernah diterima oleh Muslimin lainnya. Waktu shalat sudah tiba, sedang Rasulullah tidak ada. Maka Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله menjadi imam bagi kaum Muslimin saat itu. Hampir saja mereka menyelesaikan rakaat pertama, maka Rasulullah menyusul mereka dalam jamaah.

Beliau mengikuti shalat Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dan berada di belakangnya. Apakah ada kemuliaan yang melebihi seseorang yang menjadi imam bagi pemimpin seluruh makhluk sekaligus pemimpin para Nabi, yaitu Muhammad bin Abdullah?!

Setelah Rasulullah kembali ke pangkuan Tuhannya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله mencukupi segala kebutuhan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Ia berangkat bersama mereka bila mereka bepergian. Berhaji, jika mereka melaksanakan haji. Ia membuat pada sekudup4 mereka kain hijau untuk berteduh yang biasa dipakai oleh orangorang tertentu. Ia akan menemani mereka berhenti di tempat yang mereka sukai. Itulah kisah hidup Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dan kepercayaan para Ummahatul Mukminin kepadanya yang dapat ia banggakan.

Kebaikan Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله terhadap kaum Muslimin dan Ummahatul Mukminin bahkan membuatnya menjual tanah miliknya seharga 1000 dinar. Ia bagikan semua uang itu kepada Bani Zuhra, orang-orang fakir dari golongan Muhajirin, dan para istri Rasulullah. Saat ia mengirimkan bagian harta tersebut untuk Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'anha, Aisyah bertanya, "Siapakah yang mengirimkan harta ini ?" 

Ada yang mengatakan kepadanya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله:' Kemudian Aisyah berkata, Rasulullah pernah bersabda, "Tidak ada orang yang bersimpati kepada kalian setelah aku mati kecuali mereka orang-orang yang sabar:'

Doa Rasulullah dikabulkan sehingga Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله mendapatkan keberkahan pada hartanya. Perdagangan Abdurrahman bin Auf terus berkembang dan bertambah. Kafilah miliknya terus-menerus pergi dan kembali ke Madinah dengan membawa gandum, tepung, minyak, pakaian, bejana, minyak wangi dan semua keperluan masyarakat Madinah.

Sekudup adalah sebuah tempat yang memiliki kubah dan diletakkan di atas punggung unta, dikhususkan bagi wanita.

Suatu hari, datanglah kafilah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله ke Madinah yang terdiri dari 700 kendaraan. Ya, 700 kendaraan yang membawa makanan, barang-barang yang diperlukan oleh penduduk Madinah.

Begitu kafilah ini memasuki Madinah, maka bumi terasa bergoyang dan terdengar sorak-sorai manusia. Aisyah bertanya, "Ada apa ramai-ramai begini?" Ada orang yang menjawabnya, "Ini adalah kafilah Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله . . . 700 unta yang membawa gandum, tepung clan makanan:'

Aisyah berkata, "Semoga Allah memberkahi harta yang telah ia berikan di dunia demi ganjaran akhirat yang lebih besar:'

Sebelum unta-unta tersebut berhenti, kabar tersebut telah sampai kepada Abdurrahman bin Auf. Begitu telinganya mendengar apa yang dikatakan Ummul Mukminin Aisyah, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله segera menemui Aisyah dan berkata, "Saksikanlah olehmu wahai Ummul Mukminin, bahwa kafilah ini dengan seluruh isi dan petugasnya aku berikan di jalan Allah:'

Doa Rasulullah kepada Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله agar Allah berkenan memberkahi dirinya selagi hidup terus saja berlangsung, sehingga ia menjadi sahabat Rasulullah yang paling kaya dan yang paling banyak memiliki harta. . . akan tetapi Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله menjadikan seluruh harta tadi demi mencari keridhaan Allah dan RasulNya.

Ia senantiasa berinfak dengan kedua tangannya baik yang kanan maupun kiri, dengan sembunyi ataupun terang-terangan . . . sebagaimana ia pernah bersedekah dengan 40 ribu dirham perak, kemudian ia bersedekah lagi dengan 40 ribu dinar emas. Kemudian ia bersedekah lagi dengan 100 awqiyah emas. Ia juga membawa para mujahidin dengan 500 kuda yang ia berikan. Kemudian ia membekali 1500 mujahidin lainnya dengan kendaraan.

Saat menjelang wafatnya, Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله membebaskan banyak sekali budak-budaknya. Ia berpesan untuk memberikan 400 dinar emas kepada Ahlu Badr yang masih hidup. Maka mereka pun mengambil pemberian Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله ini dan jumlah mereka saat itu mencapai 100 orang. Ia juga berpesan untuk memberikan setiap Ummul Mukminin harta yang banyak; sehingga Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'anha seringkali berdoa untuk Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله yang berbunyi, 

"Semoga Allah, Subhanahu wa Ta'ala memberikannya minuman dari air salsabil:'

Kemudian ia meninggalkan untuk ahli warisnya harta yang barangkali tidak bisa terhitung lagi . . . karena ia mewariskan 1000 unta, 100 kuda dan 3000 domba. Istrinya berjumlah 4 orang sehingga mereka mendapatkan seperempat dari seperdelapan5 yang masing-masing mereka mendapatkan 80 ribu. Ia meninggalkan emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk dan dibagikan kepada seluruh ahli warisnya dengan cara memukulkannya dengan kapak sehingga tangan orang-orang yang memotongnya kelelahan.

Semua itu terjadi karena doa Rasulullah agar Allah berkenan memberkahi harta Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي اللهAkan tetapi harta yang ia miliki tidak membuat dirinya tergoda bahkan tidak membuatnya berubah. Sehingga kebanyakan orang jika melihat Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله sedang bersama para budaknya, mereka tidak dapat membedakan mana Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dan mana para budaknya.

Suatu saat ia sedang mendapatkan makanan -padahal saat itu ia sedang berpuasa-, kemudian ia melihat orang yang membawakan makanan tadi sambil berkata, "Mus'ab bin Umairرضي الله عنه. -yang lebih baik dariku- terbunuh, kami mendapatinya tidak memiliki apa-apa selain kain kafan yang menutupi kepalanya namun kakinya terlihat. Jika kedua kakinya ditutup, maka kepalanya akan muncul. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala membentangkan

Pentadbiran. waris (harta warisan untuk istri bila terdapat anak adalah seperdelapan. Kerana istri beliau berjumlah 4 orang, maka masing-masing mendapatkan seperempat dari seperdelapan bagian mereka dari harta waris).

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله dunia kepadaku sehingga seperti ini. Aku khawatir bila pahalaku sudah didahulukan (diberikan di dunia):' Kemudian ia menangis dengan tersedusedu sehingga makanan tersebut basi.

Beruntung sekali Saiyidina Abdul Rahman bin Auf رضي الله, sebab Rasulullah telah menjaminnya masuk ke dalam surga. Pembawa jenazahnya hingga ke peristirahatan terakhir adalah paman Rasulullah yang bernama Saidina Sa'ad bin Abi Waqqashرضي الله عنه.. Saidina Dzu Nurain Ustman bin Affanرضي الله عنه. juga turut menshalatkan jenazahnya. Amirul Mukminin, Saidina Ali bin Abi Thaliرضي الله عنه.b turut mengiringi jenazahnya sambil berkata, "Pergilah! Engkau telah menemukan kebenarannya dan engkau telah meninggalkan tipu dayanya. Semoga Allah merahmatimu!"




Untuk mengenal lebih jauh profil Abdurrahman bin Auf silakan merujuk:

1. Shifatush Shafwah: 1/ 135.

2. As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam: (Lihat daftar isi).

3. Tarikh al-Khamis: 2/257.

4. Al-Bad ' u wa at-Tarikh: 5/86.

5. A r -Riyadh an-Nadhrah: 2/28 1.

6. Al-Jam'u baina ar-Rijal ash-Shahihain: 281.

7. Al-Ishabah: 2/41 6.

8. Hilliyatul Auliya: 1/98.

9. Hayatush Shahabah: (Lihat daftar isi).

10. Al-Bidayah wa an-Nihayah: 7/1 63.

1 1 . Ath-Thabaqat al-Kubra: 2/340.

12. Tahdzib at-Tahdzib: 6/242.

13. Al-Isti'ab (dengan hamisyh al-Ishabah): 2/393.

2. Sa'ad bin Rabi' bin Amr bin Abi Zuhair bin Malik al-Anshari al-Khazraji adalah seorang sahabat terkemuka. Dia gugur dalam Perang Uhud.

3. Kalimat berasal dari Bangsa Yaman yang mengekspresikan rasa takjub.


stop at page 277

Usamah bin Zaid رضي الله عنه

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

[Gambar Illustrasi Sahaja]

USAMAH B I N ZAI D

"Sungguh ayah Usamah رضي الله عنه lebih dicintai oleh Rasulullah daripada ayahmu, dan ia adalah orang yang lebih dicintai Rasulullah daripadamu." -Ucapan Saiyidina Umar al-Faruq رضي الله عنه kepada anaknya

Kita sekarang berada pada tahun ketujuh sebelum hijrah clan berada di Makkah. Rasulullah saat itu sedang menderita karena siksaan kaum Quraisy kepadanya dan kepada para sahabatnya. Derita dakwah yang beliau emban dapat dituliskan dalam serial yang panjang serta sarat dengan kesedihan dan penderitaan.

Saat beliau dalam kondisi demikian, maka tersembullah rona kebahagiaan di kehidupan beliau. Ada seorang yang membawa kabar gembira kepadanya bahwa Ummu Aiman رضي الله عنه telah melahirkan seorang anak. Maka merebaklah kebahagiaan lewat wajah Rasulullah.

Siapakah anak beruntung ini yang telah membuat bahagia Rasulullah?! Dia adalah Usamah bin Zaid رضي الله عنهTidak seorang pun sahabat Rasulullah yang merasa aneh dengan kebahagiaan beliau atas lahirnya anak ini. Hal itu kerana posisi kedua orang tuanya bagi beliau.

Usamah bin Zaid رضي الله عنهIbu dari anak ini adalah Barakah al-Hasanah رضي الله عنه yang dikenal dengan Ummu Aiman رضي الله عنه. Dia adalah budak Aminah binti Wahab, ibunda RasulullahUmmu Aimanرضي الله عنه membesarkan Rasulullah dalam hidupnya. Ia memelihara Rasulullah setelah ibunda beliau wafat. Rasulullah membuka matanya untuk melihat dunia, dan tidak kenal siapa pun sebagai ibunya kecuali Ummu Aimanرضي الله عنه.

Rasulullah betapa amat mencintai Ummu Aimanرضي الله عنه. Beliau sering berkata, "Dia adalah ibuku setelah ibuku, dan anggota keluargaku yang tersisa:'

Inilah ibu dari anak yang beruntung. Adapun ayahnya adalah orang yang paling disayang oleh Rasulullah, yaitu Zaid bin Haritsahرضي الله عنه, yang merupakan anak yang diadopsi oleh Rasulullah. Dia juga sahabat Rasul yang banyak mengetahui rahasia Rasulullah.

Menjadi salah seorang anggota keluarga Rasulullah dan merupakan orang yang paling beliau cinta setelah Islam. Kaum Muslimin bergembira dengan lahirnya Usamah bin Zaid رضي الله عنه, seperti belum pernah ada bayi yang terlahir selainnya. Sebab, apa yang membuat Rasulullah bahagia, akan membuat mereka semua bahagia. Setiap hal yang membuat Rasulullah senang, maka akan membuat senang juga hati mereka.

Maka kaum Muslimin memberikan gelar kepada anak yang beruntung ini dengan panggilan Al-Ribb wa Ibnul Ribb ( orang yang disayangi dan anak dari orang yang disayangi).

Kaum Muslimin tidak berlebihan saat mereka memberikan gelar kepada anak kecil yang bernama Usamah ini. Rasulullah amat mencintai dia sehingga dunia merasa cemburu kepadanya. Usamah bin Zaid رضي الله عنه hampir seusia dengan cucu Rasulullah yang bernama Saiyidina Al-Hasan bin Fathimah az-Zahraرضي الله عنه. Saiyidina Al-Hasanرضي الله عنه ini berkulit putih, cerah dan amat mirip dengan kakeknya, yaitu Rasulullah.

Sedangkan Usamah bin Zaid رضي الله عنه berkulit hitam, pesek hidungnya dan amat mirip dengan ibunya yang berasal dari Habasyah. Namun dengan demikian, Rasulullah tidak pernah membedakan kepada mereka berdua dalam membagikan cintanya. Ia menggendong Usamah bin Zaid رضي الله عنه dan menaruhnya di salah satu pahanya, dan ia juga menggendong Al-Hasan dan menaruhnya pada paha satunya lagi. Kemudian Rasulullahmengangkat mereka berdua ke arah dadanya dan berdoa, "Ya Allah, aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua oleh-Mu!"

Rasulullah amat mencintai Usamah bin Zaid رضي الله عنه hingga suatu saat Usamah bin Zaid رضي الله عنه melewati gerbang pintu, lalu kepalanya terantuk. Mengalirlah darah dari lukanya. Rasulullah menyuruh Aisyah untuk menghilangkan darah dari lukanya, namun Aisyah tidak mampu melakukannya. Maka Rasulullah langsung menghampiri Usamah bin Zaid رضي الله عنه dan beliau menyedut cemar di tubuhnya sehingga darah habis, dan Rasulullah menghibur Usamah bin Zaid رضي الله عنه dengan ucapan-ucapan yang baik sehingga Usamah bin Zaid رضي الله merasa tenang dan tidak kesakitan.

Sebagaimana Rasulullah mencintai Usamah bin Zaid رضي الله عنه saat ia masih kecil, beliau pun mencintai Usamah saat ia sudah menjadi remaja. Hakim bin Hazam, salah seorang pembesar Quraisy menghadiahkan Rasulullah sebuah pakaian bagus yang ia beli dari Yaman seharga 50 dinar emas yang dulunya milik Dzu Yazan salah seorang Raja Yaman. Rasulullah menolak untuk menerima hadiah tersebut sebab Hakim saat itu masih menjadi seorang yang musyrik.

Namun Rasulullah malah membelinya. Suatu saat, Rasulullah mengenakan pakaian itu satu kali pada hari Jumat. Kemudian beliau menanggalkannya untuk diberikan kepada Usamah bin Zaid رضي الله عنه. Maka Usamah bin Zaid رضي الله عنه mengenakan pakaian tersebut sepanjang pagi dan petang untuk pergi bersama para sahabatnya para pemuda Muhajirin dan Anshar.

Saat Usamah bin Zaid رضي الله عنه menginjak usia dewasa. Maka baru terlihatlah sifat mulia dari dirinya yang membuat ia pantas menjadi orang kesayangan RasulullahDia adalah orang yang amat cerdas. Usamah bin Zaid رضي الله عنه seorang pemberani yang luar biasa. Bijak, dapat menempatkan segala urusan pada tempatnya. Memiliki iffah yang menjauhkan segala hal yang nista. Pencinta, sehingga manusia mencintainya. Takwa serta wara' yang membuat Allah cinta kepadanya.

Pada peristiwa Uhud, Usamah bin Zaid رضي الله عنه beserta anak-anak para sahabat yang lain ingin ikut serta dalam jihad fi sabilillah. Maka Rasulullah memilih di antara mereka siapa yang dapat ikut serta, dan Rasul menolak keikutsertaan mereka karena belum cukup umur. Salah seorang yang dilarang ikut oleh Rasulullah adalah Usamah bin Zaid رضي الله عنه. Maka ia kembali pulang dan dari matanya mengalir deras deraian air mata karena merasa sedih tidak dapat ikut berjihad di bawah panji Rasulullah.

Pada Perang Khandaq, Usamah bin Zaid رضي الله عنه juga datang bersama para pemuda dari kalangan sahabat. Ia mengganjal kakinya agar supaya terlihat tinggi, sehingga Rasulullah memperbolehkannya ikut serta dalam jihad. Maka Rasulullah memilihnya dan memperbolehkan ia untuk ikut serta. Ia pun lalu membawa pedangnya untuk berjihad di jalan Allah dan pada saat itu ia baru berusia 15 tahun.

Pada peristiwa Hunain saat kaum Muslimin mengalami kekalahan, Usamah bin Zaid رضي الله عنه beserta Abbas paman Rasulullah, Abu Sufyan bin al-Harits sepupu Rasul, dan 6 orang lainnya dari para pembesar sahabat berjuang dengan begitu semangat. Maka dengan kelompok yang kecil namun berani ini, Rasulullah mampu merubah kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan, dan mampu melindungi kaum Muslimin yang mundur dari serangan kaum musyrikin yang dapat mencelakakan mereka.

Pada peristiwa Mu'tah, Usamah bin Zaid رضي الله عنه berjuang di bawah komando ayahnya Zaid bin Haritsahرضي الله عنه padahal umurnya baru 18 tahun. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya gugur. Ia tidak lemas dibuatnya dan tidak gentar. Ia melanjutkan jihadnya dibawah komando Ja'far bin Abu Thalibرضي الله عنه sehingga ia pun gugur. Kemudian ia masih terus berjuang di bawah komando Abdullah bin Rawahahرضي الله عنه sehingga ia pun menyusul kedua sahabatnya. Kemudian ia masih berjihad di bawah komando Khalid bin Walid رضي الله عنهsehingga pasukan yang sedikit tersisa ini mampu lolos dari cengkeraman Romawi.

Usamah bin Zaid رضي الله عنه kembali ke Madinah dengan berharap ayahnya mendapatkan ganjaran terbaik di sisi Allah. Ia meninggalkan jasad ayahnya yang suci di bumi Syam. Usamah bin Zaid رضي الله عنه menunggangi kuda ayahnya yang ia pakai saat berperang.

Pada tahun ke-11 H, Rasulullah memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan demi menghadapi pasukan Romawi. Dalam pasukan tersebut terdapat Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه , Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, Sa'ad bin Abi Waqqashرضي الله عنه, Abu Ubaidah bin al-Jarrahرضي الله عنه dan banyak lagi para sahabat yang terkenal lainnya. Rasulullah menunjuk sebagai panglima pasukan ini adalah Usamah bin Zaid رضي الله عنه, padahal pada saat itu usianya belum genap 20 tahun. Rasulullah memerintahkan Usamah bin Zaid رضي الله عنه untuk membawa pasukan ke Al-Balqa, Benteng Al-Darum yang terletak dekat Gaza di Negeri Romawi.

Begitu pasukan mulai bersiap, Rasulullah jatuh sakit. Begitu sakitnya semakin parah, pasukan ini menunda keberangkatannya, sehingga mereka mengetahui kondisi Rasulullah.

Usamah bin Zaid رضي الله عنه berkata, "Begitu penyakit pada diri Rasulullah semakin parah, aku menghadapnya dan banyak orang yang ikut bersamaku. Aku menghadapnya dan aku dapati beliau diam tak mampu bicara karena sulitnya penyakit yang ia derita. Rasulullah mengangkat tangannya ke langit lalu menurunkannya lagi di tubuhku. Aku mengerti bahwa ia baru saja mendoakanku:'

Begitu Rasulullah wafat, dan baiat telah dilangsungkan terhadap Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه, maka Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه memerintahkan agar pasukan Usamah bin Zaid رضي الله عنه diberangkatkan. Akan tetapi ada sekelompok orang Anshar berpendapat agar pengiriman pasukan dituda saja, dan mereka meminta Umar untuk menyampaikan hal ini kepada Saiyidina Abu Bakar As Sidiqueرضي الله عنه. Mereka berkata kepada Umar:

"Jika Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه masih bersikeras untuk mengirimkan pasukan, tolong beritahukan ia agar mau menunjuk orang yang lebih tua dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه:'

Begitu Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه mendengar permintaan kaum Anshar dari Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه,ia langsung melompat -tadinya ia duduk- dan menarik janggut Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, dan berkata dengan nada emosi, "Ibumu tak pernah berharap mendapatkan anak sepertimu, ya Ibnu Khattab ... Rasulullah telah menunjuknya menjadi pemimpin dan engkau malah menyuruhku untuk menggantinya? Demi Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi:'

Begitu Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, bertemu lagi dengan orang-orang tadi, mereka menanyakannya apa yang telah diputuskan Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنهSaiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, menjawab, "Ibu kalian tidak pernah berharap punya anak seperti kalian. Aku telah menjadi korban dari perbuatan kalian di hadapan khalifah Rasulullah:'

Saat pasukan di bawah komando seorang panglima muda, Khalifah Rasulullah mengiringinya sambil berjalan kaki, sedangkan Usamah menunggang kuda. Usamah bin Zaid رضي الله عنه berkata, "Ya Khalifah Rasulullah, demi Allah, naiklah ke atas kuda, atau aku turun!"

Saiyidina Abu Bakar As Sidiqueرضي الله عنه menjawab, "Demi Allah, janganlah kau turun. Demi Allah, aku tidak akan naik... aku hanya ingin membasuh telapak kakiku dengan debu di jalan Allah sesaat saja:'

Kemudian Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه berkata kepada Usamah bin Zaid رضي الله عنه, "Aku menitipkan kepada Allah agama, amanah dan akhir amalmu. Aku berpesan kepadamu untuk menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepadamu:'

Kemudian Saiyidina Abu Bakar AsSidiqueرضي الله عنه mendekatinya sambil berkata, "Jika engkau mempersilakan, aku meminta Umar untuk tinggal membantuku di sini:'

Kemudian Usamah mempersilakan Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, untuk tidak berangkat berperang. Usamah bin Zaid رضي الله عنه berangkat dengan pasukannya clan ia melaksanakan semua perintah Rasulullah. Maka pasukan berkudanya ia tempatkan di Al-Balqa clan benteng Al-Darum di daerah Palestina. Ia menghilangkan kehebatan Romawi dari hati pasukan Muslimin. Usamah bin Zaid رضي الله عنه membuka jalan bagi pasukan Muslimin untuk menaklukkan beberapa wilayah Syam, Mesir dan Afrika Utara semuanya hingga sampai ke Laut Hitam.

Kemudian Usamah bin Zaid رضي الله عنه kembali dengan menunggangi pelana yang sama digunakan oleh ayahnya sewaktu terbunuh <lulu, dengan membawa ghanimah yang melampaui perkiraan manusia. Sehingga ada yang mengatakan, "Tidak pernah ada pasukan yang lebih selamat dan membawa ghanimah lebih banyak dari pasukan Usamah bin Zaid رضي الله عنه:'

Usamah bin Zaid رضي الله عنه -selagi ia hidup- menjadi orang yang dihormati clan dicintai oleh kaum Muslimin. Itu disebabkan kerana ia menepati janjinya kepada Rasulullah dan senantiasa menghormati beliau.

Umar al-Faruq bahkan memberikan gaji kepada Usamah melebihi apa yang ia berikan kepada anaknya, Abdullah bin Umar. Maka Abdullah berkata kepada ayahnya, "Wahai Ayahku, Engkau memberikan gaji kepada Usamah bin Zaid رضي الله عنه 4000 sedangkan engkau memberikan aku hanya 3000. Padahal ayahnya tidak lebih utama dari dirimu, dan ia juga tidak lebih mulia daripadaku:'

Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, berkata, "Engkau keliru. Ayahnya lebih dicintai oleh Rasulullah daripada ayahmu. Dan ia lebih dicintai oleh Rasulullah daripada dirimu!"

Maka Abdullah bin Umar rela menerima pemberian gaji yang diberikan untuknya. Dan Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, setiap kali ia berjumpa dengan Usamah bin Zaid رضي الله عنه akan berkata, "Selamat datang, Amirku!" Jika ada orang yang merasa aneh dengan tingkah Saiyidina Umar Ibn Al Khattab رضي الله عنه, ini, ia akan berkata kepada orang itu, "Rasulullah telah menjadikan dia sebagai amirku!"

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati jiwa yang besar ini. Sejarah tidak pernah mencatat profil yang lebih agung, sempurna dan mulia daripada para sahabat Rasulullah.



Rujukan:

Untuk mengetahui profil Usamah bin Zaid lebih jauh, silakan melihat:

1. Jami' al-Ushul: 1 0/27.

2. Al-Ishabah: 1/31.

3. Al-Isti'ab (dengan hamisy al-Ishabah): 1/57.

4. Taqrib at-Tahdzib: 1/53.

5. Tarikh al-Islam karya Adz-Dzahabi.

6. As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam: (Lihat daftar isi).

7. Al-'!bar: 1/95.

8. Min Abthalina alladzina Shana'u at-Tarikh karya Abu al-Futuh at-Tunisi:

33-39.

9. Al-A'lam wa maraji'uhu: 1/281-282.

Ka’ab ibn ‘Ujrah (رضي الله عنه)

Ka'ab ibn 'Ujrah ( رضي الله عنه ) merupakan seorang sahabat  Rasulullah (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  yang taat dan terkenal d...

Most Reads